kumparan
23 Des 2018 17:43 WIB

PVMBG Kirim Tim untuk Teliti Anak Krakatau Sebagai Penyebab Tsunami Selat Sunda

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menggelar konferensi pers aktivitas erupsi gunung Anak Krakatau, Minggu (23/12/2018). Aktivitas vulkanik itu sempat dikaitkan dengan terjadinya gelombang pasang yang disebut tsunami di Banten malam tadi. (Arie Nugraha)
ADVERTISEMENT
BANDUNG, bandungkiwari - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, belum terbukti berkaitan dengan terjadinya gelombang pasang yang diasumsikan sebagai tsunami.
Hal itu disebabkan, pada rekaman getaran tremor tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018, tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut bahkan sampai tsunami.
Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Badan Geologi Wawan Irawan mengatakan, material lontaran saat letusan yang jatuh dari gunung Anak Krakatau, masih di sekitar tubuh gunung api bersifat lepas dan sudah turun saat letusan.
Wawan menjelaskan untuk menimbulkan tsunami, perlu adanya runtuhan besar yang masuk ke dalam kolom air laut.
"Sedangkan letusan yang sekarang ini masih pada tipe yang strombolian, yang masuk pada letusan kecil. Nah kemudian ada dugaan lainnya, juga dikarenakan adanya longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau. Nah ini tentunya kalau untuk membuktikan ini, kita harus cek ke lapangan apakah betul morfologi dari tubuh Krakatau yang sekarang ini sudah mengalami perubahan," kata Wawan di Kantor PVMBG Badan Geologi, Jalan Diponegoro, Bandung Minggu (23/12/2018).
ADVERTISEMENT
Wawan mengatakan untuk merontokan bagian gunung api yang menjadi material longsoran ke bagian laut, diperlukan energi cukup besar dan dipastikan terdeteksi oleh seismograf di pos pengamatan gunungapi.
Namun pada tanggal 22 Desember kemarin, gunung Anak Krakatau terjadi letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1.500 meter di atas puncak awah.
Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm). Gempa tremor itu terus terjadi sejak 23 Juli lalu, dengan lontaran material pijar yang jatuh di sekitar pantai dan radius bahaya diperluas dari 1 kilometer menjadi 2 kilometer dari kawah.
"Hari ini PVMBG mengirimkankan satu tim ke Gunung Anak Krakatau untuk memeriksa kondisi morfologi di sana sebagai pembuktian adanya longsoran. Di masayarakat ada dugaan Krakatau akan meletus besar ini harus diklarifikasi bahwa letusannya yang kita pantau letusannya masih seperti biasa. Masyarakat diharapkan tenang," ujar Wawan.
ADVERTISEMENT
PVMBG Badan Geologi menyebutkan peta Kawasan rawan bencana (KRB) menunjukkan, hampir seluruh tubuh gunung Anak Krakatau yang berdiameter 2 kilometer merupakan kawasan rawan bencana.
Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktifitas gunung Anak Krakatau saat ini, adalah lontaran material pijar dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level II atau Waspada.
Pada status waspada tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 kilometer dari kawah. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung dihimbau tenang dan tidak mempercayai isu soal erupsi gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami. (Arie Nugraha)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan