kumparan
22 Mar 2019 18:46 WIB

Foto: Ritual Air di Bandung Kritik Perdagangan Air

Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri) memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret di bantaran sungai Cikapundung, Bandung. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Pada tenang air yang mengalir di sungai Cikapundung, Bandung, tubuh-tubuh tradisi itu mendawamkan nyanyi sunyi di tepi hari.
ADVERTISEMENT
Mereka bergerak seirama musik yang terus melantukan kidung cinta tentang harapan yang selalu hadir seperti matahari.
Mereka yang menamakan diri Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri), menjadikan tubuh dan seni tari sebagai bahasa untuk berbicara tanpa suara. Memaknai air yang menjadi unsur kehidupan dalam peringatan Hari Air Sedunia.
Hari Air Sedunia seolah menjadi titik nada yang mengantar gerak tubuh para penari, agar lantang pandang melihat air menjadi lebih luas dalam ritus kehidupan.
Dalam perayaan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret kali ini Masri mengusung tema "Ritus Tubuh dan Air" di bantaran sungai Cikapundung Bandung.
"Terkait tubuh dengan air, sesungguhnya air merupakan kebutuhan yang sangat vital untuk tubuh manusia, oleh karena itu pemeliharaan pada air sangat penting bagi kepentingan hidup manusia. Karena air itu teman manusia!" ucap Nanumuda, narahubung Masri.
Lebih lanjut Nanumuda menjelaskan tentang pelestarian yang berasal dari konsep tradisi yang dilakukan oleh para leluhur maupun warga masyarakat kampung adat seperti: Baduy, Ciptagelar, Suku Naga, adalah bentuk kesadaran dalam upaya mencagarkan alam, khususnya pemuliaan terhadap air.
"Ritual ini bertujuan mengingatkan bahwa air itu sangat vital bagi kehidupan manusia maupun tumbuhan dan kehidupan lainnya. Yang sementara ini, air telah menjadi bagian dari perdagangan," tegasnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu menurut Nanumuda perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai fakta tentang masalah yang berbasis air.
Menurut definisi, ini berarti tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Namun saat ini, miliaran orang masih hidup tanpa air bersih – rumah tangga, sekolah, tempat kerja, pertanian dan pabrik – mereka berjuang untuk bertahan hidup dan berkembang.
Kelompok terpinggirkan – perempuan, anak-anak, pengungsi, masyarakat adat, difabel dan banyak lainnya – sering diabaikan, dan kadang-kadang menghadapi diskriminasi ketika mereka mencoba mengakses dan mengelola air bersih yang mereka butuhkan.
Terlepas dari hal tersebut, pementasan tari yang mengolah air sebagai media pesan ini mengedepankan agar masyarakat lebih mawas pentingnya air.
Apalagi untuk tahun ini Hari Air Sedunia mengusung tema “Leaving No One Behind” (tak satu pun tertinggal), sebuah tema yang mengangkat tujuan pembangunan berkelanjutan yang digelorakan badan dunia PBB terkait air. PBB menekankan pentingnya air bagi semua, tak ada satu pun yang tak bisa mengakses air bersih.
Terutama anak-anak yang dilibatkan pada perayaan tersebut, untuk mampu menjadi pelestari lingkungan di masa mendatang.
ADVERTISEMENT
Perayaan telah usai, mendung di bantaran sungai Cikapundung mengajak orang kembali memahami pentingnya air.
Air tentu sahabat manusia, akan tetapi air pun mampu menjadi petaka untuk manusia. Terutama kondisi saat ini, ketika banjir selalu menjadi persoalan di pelbagai kota di negeri ini.
Lalu akankah kita menyalahkan air atas petaka banjir selama ini? (Agus Bebeng)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan