kumparan
12 September 2018 7:39

Rumah Dikurung Tembok Tetangga, Eko Dipingpong Dinas Pemkot Bandung

Eko (kiri) menunjukkan sertifikat tanahnya. (Utara Jaya)
BANDUNG, bandungkiwari – Demi memperjuangkan solusi untuk rumahnya yang tertutup tanpa akses jalan, Eko Purwanto mencoba menempuh jalan sesuai prosedur, dengan mendatangi aparatur kewilayahan di di RT 05 RW 06 Kelurahan Pasir Jati, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
Namun sayang, Eko belum mendapatkan titik terang sekalipun usahanya telah dilakukan berkali-kali mulai dari tingkat RT hingga menyambangi kantor kecamatan.
“Saya datang Ke RT ke RW udah beberapa kali, terus ke kelurahan, terus naik ke kecamatan ada sampai tiga kali. Di kecamatan juga hanya ketemu sama orang bagian pertanahan aja,” kata Eko saat ditemui di rumah kontrakanhnya di Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujung Berung, Selasas (11/9/2018).
Walaupun gagal di tingkat kecamatan, Eko terus menanjaki birokrasi sesuai dari petugas kecamatan yang ditemuinya untuk melaju ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun rupanya perjalannya mencari solusi tidak berhenti di Kantor BPN.
Eko lantas diberi arahan untuk datang ke Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bandung, guna mencari jalan keluar atas maslah rumahnya yang tidak memiliki jalan masuk.
ADVERTISEMENT
“Dari BPN udah ada pengukuran terus katanya harus ke Dinas Tata Kota (Sekarang jadi Distaru),” tegasnya.
Di tingkat kedinasan inilah Eko sudah merasa ibarat ‘dipingpong’ karena harus bolak balik antara BPN dan Distaru. Sebab, diantara keduanya, baik BPN ataupun Distaru saling tunjuk kebijakan pengurusan.
“Terus terakhir kemarin beres lebaran idul adha ke BPN. Pokoknya dari Dinas Tata Kota harus ke BPN terus aja bolak balik ada sampai enam kali dan semuanya bertemu dengan orang berbeda," jelasnya.
Sudah tak terhitung lagi berapa biaya yang dikeluarkan Eko untuk mengurus persoalan ini selama dua tahun terakhir. Sejak, bangunan paling anyar berdiri pada 2016 lalu dan menutup akses jalan masuk ke rumahnya.
“Teman yang biasa anter saya sampai pusing lah istilahnya, dia sampai bilang ‘nganteur maneh mah kalahkah meakeun duit, lain ngahasilkeun duit’ 9antar kamu itu malah menghabiskan uang, bukan menghasilkan uang) gitu katanya,” ungkapnya. (Utara Jaya)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan