Pencarian populer

Saat Penyandang Disabilitas Ikut Menari

Latihan peringatan Hari Tari Dunia yang dilakukan siswa-siswi disabilitas. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - Ada pemandangan yang tidak lazim saat ratusan anak-anak berlatih bersama menarikan tarian Ronggeng Geber Bandung di Gedung YPK, Jalan Naripan, Bandung, Minggu sore (24/3).

Di barisan terdepan, sekelompok anak-anak berkebutuhan khusus menari sedikit canggung dan tampak malu-malu. Sesekali, mereka menatap anak-anak sanggar tari di belakangnya, tetapi tatapannya tidak lepas dari tubuh sang instruktur.

Kelompok yang terdiri dari tujuh orang tersebut mungkin akan menjadi bagian perhelatan besar Ronggeng Geber Bandung yang melibatkan sekitar 3.600 penari di Car Free Day Dago pada 28 April 2019, dalam rangka peringatan Hari Tari Dunia.

Anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB) ABC Doa Bunda Tanjungsari Kabupaten Sumedang memang menyengajakan diri untuk terlibat dalam perhelatan tari tersebut.

Siswa-siswi disabilitas berlatih menari dengan antusias. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

"Awalnya sih ragu bahkan malu untuk ikut terlibat acara Hari Tari Dunia. Tapi setelah konsultasi dengan pihak penyelenggara kami diperbolehkan ikut," ucap pelatih dari sanggar LKP Bina Lestari, Lia Nur Hayati, yang menjadikan sangarnya sebagai tempat berlatih para penari tunarungu dan down syndrome tersebut.

Diperbolehkannya terlibat dalam acara tersebut, tentu membuat Lia bahagia. Lantas, Lia bersama tujuh siswa disabilitas segera meluncur ke Bandung dan berlatih bersama para penari dari sanggar lain.

Bukan kali pertama, kata Lia, siswa didiknya tersebut mengikuti kegiatan menari. Namun selama ini, umumnya mereka mengikuti ajang menari yang diselenggarakan khusus untuk disabilitas.

Latihan peringatan Hari Tari Dunia yang dilakukan siswa-siswi disabilitas. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

"Hal terpenting dari kegiatan menari Ronggeng Geber Bandung ini, anak-anak mendapat pengakuan dari masyarakat," tegasnya.

Keinginan Lia sebagai pendidik tari, tentunya pembedaan cara pandang yang negatif terhadap disabilitas sedikit demi sedikit mampu dikikis.

Senada dengan itu, Yani Suryani, pengajar di SLB ABC Doa Bunda, menyatakan kebahagiaannya murid-muridnya yang diasuh sanggar LKP Bina Lestari mampu terlibat dalam acara tersebut.

Lebih jauh, Yani menjelaskan, seni tari memiliki peran penting dalam tumbuh kembang siswanya.

"Setelah belajar tari kepercayaan diri mereka meningkat, lebih peka, konsentrasi meningkat," ungkapnya usai pelatihan bersama.

Namun, hal yang lebih penting, Yani berharap ajang tari kolosal itu mampu menerima siswanya yang menyandang tunarungu dan down syndrome sejajar seperti anak-anak yang lainnya.

Apalagi sampai saat ini, menurutnya, cara pandang masyarakat masih terlihat beda ketika berhadapan dengan siswanya.

Latihan peringatan Hari Tari Dunia yang dilakukan siswa-siswi disabilitas. (Foto-foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

"Suka dianggap aneh, bukan hanya dalam kehidupan sosial, bahkan dalam lingkungan keluarganya sendiri," tegasnya.

Kehadiran acara menari kolosal tersebut, bagi Yani maupun Lia, bisa menjadi gerakan perjuangan untuk mengikis sekat adanya perbedaan selama ini.

Mereka berharap banyak orang akan tersadarkan akan keberadaan siswa disabilitas yang menari dan larut bersama menjaga tradisi, persahabatan terutama cinta kasih.

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.59