Pencarian populer

Tips Bikin Film dalam International Photography and Short Movie Festival Telkom University

Pemutaran film pendek karya Adrian Lee di sela talkshow Culture In Visual Perspective yang merupakan rangkaian International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) Telkom University, di Gedung Damar Telkom University (Gedung K), Senin (5/11/2018).

BANDUNG, bandungkiwari – Teknologi yang berkembang pesat tentu berdampak pula pada sinematografi. Kini semua orang bisa membuat film dengan jumlah kru, biaya yang lebih murah. Semuanya berkat bantuan teknologi.

Namun, meski semua orang berpotensi bisa bikun film sendiri, belum tentu mereka bisa menciptakan film yang enak ditonton. Bahkan sampai meninggalkan kesan mendalam di benak penonton.

“Semua orang memang bisa bikin film, tapi tak semua orang bisa bikin film yang enak ditonton,” kata Benny Kadarhariarto, CEO DSLR Cinematography Indonesia (DCI), dalam talkshow Culture In Visual Perspective yang merupakan rangkaian International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) Telkom University, di Gedung Damar Telkom University (Gedung K), Senin (5/11/2018).

Pria yang akrab disapa Om Ben itu menuturkan, dalam dua tahun ini produksi film dalam negeri mengalami peningkatan dan didukung dengan tingginya jumlah penonton. Hal itu tak lepas dari peran teknologi.

“Dengan teknologi yang memudahkan membuat semua orang merasa bisa bikin film. Sekarang pakai kamera digital, memori habis ga masalah. Semua orang bisa motret dan membuat video,” ungkapnya.

Peran teknologi juga membuat tumbuhnya industri film pendek. Semua kalangan bisa membuat film pendek, mulai SMP sampai orang dewasa. “Zaman saya kalau mau bikin film tidak mudah. Sekarang semua orang bisa jadi sutradara. Sekarang anak SMP kameranya bisa lebih bagus dari kamera saya,” ungkapnya.

Lokasi rangkaian International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) Telkom University, di Gedung Damar Telkom University (Gedung K), Senin (5/11/2018). (Iman Herdiana)

Lalu, apa lagi yang harus dilakukan dengan adanya dukungan teknologi? Menurut Om Ben, para sineas harus mampu mengembangkan konten film itu sendiri. Sebab, buat apa teknologi bagus, gambar bagus tapi isi filmya cuma menghabiskan waktu penonton?

“Sebuah film yang bagus harus punya pesan, lewat cerita apa pun itu,” terangnya.

Untuk itu, langka pertama bikin film bisa dimulai dari konten/pesan. Ia mencontohkan film “Uang Panai” dari Makassar sebagai sebuah film yang memiliki pesan kuat. Film dengan konten lokalitas ini bercerita tentang mahalnya mahar dalam suatu pernikahan di Makassar.

Dalam membuat film, Om Ben menyarankan agar tidak perlu berpikir yang muluk-muluk. Misalnya, ingin bikin film seperti Transformers yang biayanya selangit. Padahal film yang baik bisa dibikin dari lingkungan sekitar sebagaimana kisah dalam film Uang Panai.

Konten film bisa digali di lingkungan sekitar. Dalam film Uang Panai, sineasnya berusaha menampilkan sebuah tradisi masyarakat lokal. Dan ini mendapat sambutan bagus dari masyarakat Makassar. “Mereka pengin lihat diri mereka sendiri dalam film,” katanya.

Selain Benny, talkshow tersebut menghadirkan narasumber Direktur IFI Bandung Melanie Martini yang mengulas fotografi; Adrian Lee, dosen dari Malaysia yang juga sutradara film, dan Aep Wahyudin dari KPID Jabar. Talkshow yang dipadati mahasiswa Telkom University ini ditengahi dosen Telkom University, Dini Aalmiyah Fithrah.

Selain diskusi, di sela acara juga diputarkan film pendek karya Adrian Lee. (Full/Iman Herdiana)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23