kumparan
25 Agu 2019 8:43 WIB

Tradisi Magis dan 'Pemancing Keributan'

Mahasiswi dari Tiongkok mencoba ikut memainkan Seni Reak (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)
BANDUNG, bandungkiwari- Warga sudah memadati lapangan kecil di kawasan daerah Cibiru, Bandung pada Kamis . Dua buah lampu taman tak mampu melawan gelap, hanya mampu memberi garis tipis imaji lekuk wajah penonton yang sedang duduk membentengi lapangan di balik keremangan malam. Suasana pementasan rakyat sangat terasa. Tak ada aturan mematikan gawai atau melarang bercakap seperti di gedung pementasan. Semua merdeka dengan perilakunya sendiri.
ADVERTISEMENT
Suasana magis mulai terasa saat asap kemenyan merayap hidung. Bau kemenyan yang khas, menutupi tubuh pelaku budaya.
Sementara dalam temaram lampu, 20 orang mahasiswa dari Tiongkok duduk lesehan beralas tikar sederhana. Mereka memperhatikan dengan seksama, pertunjukan tradisi yang ada di hadapannya.
Bukan tanpa sebab mereka datang mengunjungi daerah Cibiru, Bandung menyaksikan seni Reak. Kedatangan mereka tiada lain untuk studi banding disiplin ilmu seni yang mereka pelajari di negerinya.
Di hadapan mereka saat itu, ditampilkan seni Reak dari Sanggar Reak Tibelat yang dinahkodai Enjang Dimyati atau lebih dikenal dengan nama Abah Enjoem.
Seni Reak sendiri merupakan kesatuan dari seni Bangbarongan yang mirip dengan Barongsai, Lulumpingan atau Kuda Lumping dan seni Dog dog yaitu permainan kendang kecil yang dibarengi Goong dan Terompet.
ADVERTISEMENT
Bagi mahasiswa Tiongkok, Reak mungkin tidak terlalu asing karena memiliki kemiripan dengan Barongsai. Namun balutan mistis yang kental di dalamnya, membuat kesenian ini punya ciri khasnya tersendiri.
Bah Enjoem, sang pimpinan sanggar, mulai merapal do'a. Tidak berapa lama tubuhnya mulai bergetar. Irama tabuhan dog-dog semakin cepat. Sinden yang seyogyanya menembang, ditariknya. Tangannya mengarah ke kepala. Tak berapa lama kemudian sang Sinden pun menari.
Mahasiswa asing itu masih termangu. Beberapa orang diajaknya untuk memainkan Bangbarongan dan Kuda Lumping. Dengan terlebih dahulu diselaraskannya energi mereka dengan tradisi di Cibiru, Bandung. Seperti halnya pesinden, para mahasiswa itu pun menari dan menjadi pelakon Bangbarongan dan Kuda Lumping. Mereka mengalami transisi kesadaran.
Malam itu Fang-fang bersama rekan lainnya bercerita pengalaman secara lahir dan bathin, terutama pada sisi energi yang mereka alami. Pertunjukan usai dengan kepenasaran mahasiswa Tiongkok yang berinteraksi dengan energi. Beberapa mahasiswa asing itu masih bingung dengan tubuhnya yang bergerak tanpa diperintah.
ADVERTISEMENT
Tubuh budaya pelaku seni tradisi memang banyak memberi tafsir dan mengusik kepenasaran. Beberapa pementasan Reak dari Sanggar Tibelat pun tak lepas dari perburuan.
Perlahan interaksi tradisi memupuk kesadaran baru dalam cara pandang visual dan percakapan filosofis makna Reak. Keberadaan Reak memang menjadi identitas untuk warga Cibiru. Kehadirannya sampai saat ini telah menjadi warna dalam keseharian masyarakatnya.
Beragam acara hajatan dan hiburan masyarakat tidak pernah lepas dari tanggapan seni ini. Seolah tidaklah afdol apabila mengadakan kenduri tanpa ada Reak yang menari. "Dari sejak saya kecil sampai sekarang, Reak terus ada. Tapi jumlah kelompoknya naik turun" ucap Bah Enjoem.
Menurutnya, saat ini kehadiran kelompok Reak atau lingkung seni Reak tidak hanya terbatas di kawasan Cibiru. Beberapa daerah dan kabupaten sudah punya kelompok Reak tersendiri.
ADVERTISEMENT
Namun menurut Bah Enjoem, di tengah eksistensi Reak yang terus berkibar, Reak memiliki tantangan tersendiri. Terutama aspek yang dibangun kelompok Reak dan para pencinta seni ini. "Ada stigma di masyarakat yang memandang seni Reak sebagai hiburan yang selalu memancing keributan," tegas Bah Enjoem.
Ini menjadi persoalan tersendiri bagi dirinya yang konsisten mengenalkan kesenian Reak sampai mancanegara. Menurut Bah Enjoem, pada setiap pementasan Reak, sering diwarnai keributan dan perkelahian. Ini membuat Reak dipandang tidak memiliki kebaikan di masyarakat. "Karena itu saya melarang siapapun yang terlibat di Lingkung Seni saya minum minuman keras. Karena bisa memicu pertengkaran," ucapnya.
Pementasan Reak yang diwarnai orang yang menari sambil mabuk, bisa jadi hal biasa bagi warga di kawasan Cibiru. Namun hal ini bisa membuat khawatir penonton lain dari luar Cibiru, bahkan dari luar negeri. Bah Enjoem, yang sering berinteraksi di luar kawasan Cibiru bahkan sampai ke luar negeri, mengaku khawatir dengan kondisi ini.
ADVERTISEMENT
Tidak jarang dia mengajak pegiat seni Reak yang lain mulai tertib dalam pementasan.
"Kita tidak ingin nama Reak tercemar karena ulah orang yang mabuk. Apalagi saat ini Reak sudah dilirik masyarakat asing. Bagaimana jika mereka melihat perilaku itu?" ucap Bah Enjoem yang beberapa kali berkolaborasi dengan seniman internasional.
Bah Enjoem sendiri tidak tahu sejak kapan ada minuman keras dalam tradisi Reak. Namun setelah menelusurinya, dia mendapati bahwa itu bukan tradisi dari leluhur. Melainkan memang hadir dari kebiasaan masyarakat yang ingin hiburan, tetapi menjadikan Reak sarana pelepasan masalahnya. (Agus Bebeng)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan