Pencarian populer

Wayang Tavip, Wayang Modern yang Menjembatani Tradisi

Pementasan wayang Tavip pada sebuah kegiatan seni di Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - Nama 'Wayang Tavip' mungkin sedikit asing di telinga kita. Wayang Tavip belum begitu populer di kalangan masyarakat, berbeda ketika mendengar wayang golek atau wayang kulit. Namun, bagi sebagian pecinta wayang, kehadiran wayang ini telah menjadi wacana, karena memberikan loncatan inovasi yang berbeda dari keberadaan wayang konvesional.

Wayang Tavip, yang lahir dari rahim modernitas, ini menghadirkan pementasan yang sangat kental dengan bahasa visual. Permainan tata cahaya menjadi sangat penting karena memberikan dampak psikologis kepada para penontonnya.

Namun, jangan pernah berharap menemukan pakem yang ketat dalam pementasan wayang Tavip, karena isi cerita atau lakon mengalir sesuai dengan tema terkini.

Wayang Tavip sendiri sebenarnya mengambil nama belakang seorang Muhamad Tavip, pria kelahiran Lampung pada 1968 lalu.

Awalnya pada tahun 1993 bersama seorang pelukis, Herry Dim, dirinya berproses membuat pertunjukan teater bayang-bayang. Kegiatan itu ditujukan untuk acara apresiasi anak-anak Sekolah Dasar se-kota Bandung yang diberi nama "Teater Kalangkang Gambar Motekar".

Ketertarikan Tavip berproses wayang dengan jenis baru ini berlanjut. Kemudian wayang tersebut dirinya angkat lebih dalam menjadi tesis untuk tugas kuliahnya. Pada 2008 Tavip melanjutkan pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan teater dan penciptaan seni.

“Sebagai Tugas Akhir di 2010, saya mengangkat ‘Wayang Tavip’ untuk menyelesaikan studi saya” ucap lelaki yang menjadi pengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini.

Muhamad Tavip memperlihatkan Wayang Tavip inovasinya pada sebuah kegiatan seni di Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Keberanian menjadikan ‘Wayang Tavip’ untuk menyelesaikan pendidikan karena dorongan beberapa teman seniman, terutama setelah dirinya terlibat dalam garapan Teater Koma. Imbas dari keterlibatan garapan tersebut membuat Wayang Tavip dikenali masyarakat kesenian di Indonesia. Tidak mengherankan apabila saat ini di beberapa daerah di Indonesia bermunculan sanggar yang menggunakan Wayang Tavip.

“Beberapa dalang juga menggunakan Wayang Tavip sebagai bagian dari pementasan wayangnya. Begitupula sekolah yang telah menjadikan Wayang Tavip sebagai ekstrakulikuler dan penelitian para mahasiswa,” jelas Tavip yang enggan disebut dalang.

Jauh sebelum seperti saat ini, baginya mengenalkan Wayang Tavip memang penuh perjuangan, mungkin karena sesuai dengan nama belakangnya yaitu Tavip. Di mana Tavip sendiri merupakan akronim Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP) yang sempat dipopulerkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964 sebagai judul pidato kenegaraan peringatan HUT RI ke-19.

Bagi yang sempat membaca sejarah tahun Tavip tentu akan mengetahui masa di mana pada tahun tersebut konflik politik sangatlah tajam dan memicu pertikaian. Namun terlepas dari nama Tavip yang dengan gejolak politik. Mengembangkan wayang Tavip memiliki tantangan tersendiri untuk dirinya, terutama menyangkut persoalan modal dan menyosialisasikannya kepada masyarakat.

“Berangkat dari ketidakberdayaan, saya mencoba membuat karya yang minim secara biaya,” ucapnya seraya mengenang masa lalu.

Pementasan wayang Tavip pada sebuah kegiatan seni di Bandung. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Namun, kendala modal tersebut tidak membuat dirinya luntur dalam berproses. Kreativitas yang menjadi pijakan para seniman, berhasil melarungkannya di tempat sampah untuk mencari limbah. Memeras sisi sensitivitas estetik yang mengendap di kepalanya, akhirnya Tavip mengolah limbah seperti botol plastik transparan untuk menjadi bahan baku utama pembuatan wayang Tavip.

“Bisa bepergian kemana saja, termasuk pasar rongsok di astana anyar untuk mencari bahan keperluan produksi,” imbuhnya.

Perjuangan mengangkat Wayang Tavip sebagai alternatif kesenian sempat membuatnya pula beberapa kali terbang ke beberapa negara Asia dan Eropa.

Namun bagi Tavip sendiri mementaskan Wayang Tavip di luar negeri bukan cita-cita yang ingin diraihnya. Hal terpenting baginya adalah mampu mengembalikan kebanggaan dan rasa cinta anak-anak dan dewasa terhadap wayang yang semakin tenggelam digerus peradaban.

Bagi Tavip, berkesenian menggunakan media Wayang Tavip sebenarnya memiliki misi untuk ikut andil dalam melestarikan seni pewayangan dengan semangat inovasi berbasis tradisi. Keinginannya berperan dalam menyelamatkan wayang bukan berarti keberadaan Wayang Tavip yang dikembangkannya mampu menggeser wayang konvensional.

Namun wayang yang dikreasinya ini diharapkan mampu menjadi jembatan anak-anak dan remaja untuk dapat melirik lebih jauh menelaah wayang sudah ada selama ini.

Membumikan kembali wayang kepada masa kebudayaan baru tentu menjadi mimpi setiap seniman tradisi yang menginginkan tradisi hadir mengakar di tanahnya sendiri. Pun halnya bagi seorang Muhamad Tavip, dengan kreasi wayang Tavip yang digelutinya selama ini, dirinya berharap wayang kembali menempati hati masyarakat Indonesia. (Agus Bebeng)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23