kumparan
18 Nov 2018 11:11 WIB

Basnas Kalsel Kelola Sampah untuk Meraup Uang

banjarhits.ID, BANJARMASIN - Sebuah komunitas bisnis, Badan Amal Sampah Nasional (Basnas) Provinsi Kalimantan Selatan yang bergerak menyelamatkan lingkungan hidup di tengah tingginya volume sampah organik dan anorganik. Basnas memberi atensi serius terhadap persoalan ini.
ADVERTISEMENT
Koordinator Komunitas Basnas Kota Banjarbaru, Eka Noor Faridha mengatakan organisasinya sebuah komunitas bisnis bidang lingkungan hidup dengan misi kesejahteraan masyarakat. “Sekitar 2,5 persen penghasilan dari komunitas bisnis ini akan disumbangkan kepada kaum dhuafa dan panti asuhan," ujar Eka Noor Faridha kepada banjarhits.ID, Minggu (18/11/2018).
Mahasiswi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat itu berkata, sampah organik dan anorganik belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu, pihaknya ingin menjadikan sampah organik yang terdapat di pasar tradisional dan kawasan lainnya sebagai pupuk kompos dan biogas.
Sedangkan untuk sampah anorganik akan dijadikan industri kreatif yang bisa menghasilkan rupiah. Menurut dia, Basnas akan merangkul petugas kebersihan dalam mengelola sampah organik yang terdapat di pasar tradisional.
Ridha mengajak masyarakat bahwa sampah organik punya manfaat luar biasa bila dioptimalkan. Maklum, masih banyak warga belum paham manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah. "Kalau sampah organik seperti sisa-sisa potongan sayur dan potongan ayam," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pihaknya siap membeli kertas bekas yang tidak terpakai lagi dengan menjadikan mahasiswa sebagai objek utama. Sebab, kata Ridha, ranah pendidikan khususnya kampus merupakan penyumbang sampah kertas dengan angka relatif banyak di Kalimantan Selatan.
"Daripada dibakar, lebih baik ditukarkan ke komunitas kami. Sembari beramal 2,5 persen untuk saudara kita yang membutuhkan," jelasnya.
Ridha merinci harga beli kertas HVS Rp.1.300/kg, kertas buku Rp. 1.300/kg, kertas buram Rp. 500/kg, koran Rp.2.000/kg dan kardus 1.000/kg. Bahkan pihaknya bersedia mengambil ke rumah masyarakat yang menjual atau menyumbangkan kertas bekasnya.
"Mahasiswa dan masyarakat jangan gengsi serta sungkan dalam menukarkan kertas bekas, ini sembari beramal untuk saudara kita yang kurang mampu," tegasnya.
Berdiri sejak 11 November 2018, komunitas Basnas sudah terbentuk di tiga kabupaten/kota yaitu Banjarmasin, Banjarbaru dan Barito Kuala. Menurutnya, Basnas Kalsel akan menggandeng panti asuhan dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik. "Akan tetapi, semua perlu tahapan dan proses panjang," pungkasnya. (M Robby)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan