kumparan
17 Apr 2019 21:40 WIB

JaDI: Pemilu 2019 di Kalsel Carut Marut

Ilustrasi Pemilu 2019. kumparan
Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Kalimantan Selatan menilai pelaksanaan Pemilu 2019 di Kalsel tak berjalan sukses. Menurut Ketua JaDI Kalsel, Samahuddin Muharam, carut marut distribusi logistik dan fenomena hilangnya hak mencoblos makin membuat masyarakat Kalsel alergi terhadap hasil pilpres dan pileg.
ADVERTISEMENT
Ia berkata distribusi logistik seperti surat suara dan kotak suara mestinya sudah selesai disalurkan paling lambat H-1 menjelang pencoblosan. Namun, kata dia, kenyataan justru berbanding terbalik.
"Ini ada yang baru distribusi surat suara pas hari H jam delapan pagi. Terjadi di tempat saya," kata Samahuddin kepada wartawan banjarhits.id, Donny Muslim, Rabu (17/4/2019) malam.
Selain terlambatnya distribusi logistik, Samahuddin mengkritik persoalan ludesnya surat suara pemilih, meski yang bersangkutan untuk pemilih yang terdaftar.
"Semestinya ini harus disingkronkan ketika penetapan DPT dan DPTb. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi prosesnya yang bermasalah," ucap bekas Ketua KPU Kalsel ini. Bahkan, ia punya pengalaman pribadi ketika pencoblosan hari ini.
Alih-alih terdaftar di DPT, Samahuddin malah mendapat hak politik lewat Daftar Pemilih Khusus menggunakan e-KTP.
ADVERTISEMENT
"Ini kan lucu. Harusnya terdaftar di DPT. Dicek di TPS, nama saya malah tidak ada. Padahal warga asli di sini," cerita Samahuddin yang mencoblos di TPS 22 Kompleks Bulakindo, Kelurahan Sungai Miai.
Ia mengimbau KPU Kalsel dan kabupaten/kota sudah menyiapkan segala kebutuhan logistik secara matang. Ini agar tak ada lagi terjadi kekacau selama pelaksanaan pemungutan suara.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan