kumparan
14 Mei 2018 11:30 WIB

Jangan Mau Dikatakan Tua

Ilustrasi Orang Tua Berjalan (Foto: Shutterstock)
Penulis: Pribakti B (Dosek Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan Dokter di RSUD Ulin Kota Banjarmasin). Tulisan ini opini pribadi yang dikirimkan untuk banjarhits.id
ADVERTISEMENT
Banjarhits.id - Berapakah umur Anda sekarang? 46 tahun? 55 tahun? atau sudah 60 tahun? Apakah orang lain mengatakan bahwa Anda sudah tua? Anda sering menemukan orang yang telah berusia 70 tahunan, masih aktif dan tetap bersemangat. Mungkin pula Anda berjumpa orang yang masih berumur 50 tahun, tapi sudah loyo, pucat, dan berjalanpun harus dipapah. Semua ini terletak pada bagaimana Anda mengelola tubuh Anda sendiri. Kerberhasilan proyek “tubuh” Anda ada ditangan Anda, maka jadilah CEO atau manajer yang baik.
Catatan WHO pada 2010 tentang lama kelangsungan hidup untuk orang Indonesia adalah 68 tahun. Jadi, rata-rata orang Indonesia berumur tidak lebih dari 70 tahun. Sedangkan lama rata-rata hidup di negara tetangga kita: Malaysia 70,8 tahun, Thailand 68,6 tahun, Filipina 67,5 tahun dan Singapura 80,1 tahun. Negara lain di Asia seperti Korea Selatan tercatat 74,4 tahun, China 71,4 tahun, dan Jepang 80,7 tahun.
ADVERTISEMENT
Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di dunia meningkat, termasuk di Indonesia. Kenyataannya, populasi usia lanjut sering mengidap penyakit yang menyebabkan kualitas hidup menjadi buruk, tua tapi banyak penyakit. Dikutip Majalah Tempo 14 juli 2013, harapan hidup orang Indonesia tahun 2012 sebesar 71,6 tahun.
Sebuah penelitian pada pasien lansia di Poliklinik Geriatri Terpadu RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan kelompok usia lanjut biasanya terdapat tiga penyakit degeneratif, yakni hipertensi, penyakit sendi osteoarthritis, dan diabetes. Sebenarnya semua orang berpotensi untuk meraih umur 80 tahun. Untuk itu belum terlambat memulainya hari ini. Apabila Anda sekarang berusia 40 tahun, pikirkan bahwa Anda masih bisa hidup paling tidak 40 tahun lagi. Jika Anda berusia 50 tahun, Anda harus dapat hidup minimum 30 tahun lagi . Dan kalau sudah berusia 60 tahun, pastikan Anda tetap sehat selama 20 tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
Lebih dari itu, hidup sehat sebenarnya tidaklah mahal, justru sakitlah yang akan menguras biaya. Lihat saja dari contoh sederhana. Berolahraga misalnya. Jogging atau bersepeda pada akhir pekan adalah olahraga sederhana yang tidak membutuhkan biaya tinggi dan mudah dilakukan siapa saja. Kalaupun tidak, mendatangi pusat kebugaran yang terdekat dari tempat kerja atau rumah bisa menjadi alternatif. Sayang, tak sedikit orang yang malas melakukannya dengan beragam alasan, mulai keterbatasan waktu dan letih karena padatnya aktivitas sehari-hari yang menguras energi.
Istirahat yang cukup terkadang menjadi masalah tersendiri. Rutinitas pekerjaan yang terkadang menuntut lembur didakwa menjadi penyebab minimnya waktu istirahat. Bisa juga istirahat kurang karena gaya hidup. Hobi begadang atau tidur yang tak berkualitas. Waktu-waktu akhir pekan dianggap sebagai “bayar utang” alias tidur seharian atas minimnya waktu istirahat. Ditilik dari segi kesehatan, tentu saja ini tidak sehat. Jika istirahat kurang, imbasnya tidak hanya menurunnya sistem kekebalan tubuh, melainkan berdampak negatif pada kondisi psikologis.
ADVERTISEMENT
Contoh selanjutnya adalah pola makan. Pola makan kita cenderung terbiasa hanya satu menu atau monodiet. Nasi dengan soto, atau nasi dengan gado-gado atau ceplok telur belaka. Perubahan zaman pada akhirnya berdampak terhadap perubahan pola hidup yang membawa perubahan pola makan. Dan, apa yang terjadi kemudian pun bisa pula ditebak. Ketika orang mulai meninggalkan pola makan lebih sehat, yaitu makanan dapur”ibu” yang terdiri dari sayuran, daging dan ikan yang selalu segar, tempe, tahu, lalapan dan buah-buahan, kemudian beralih ke pola makanan cepat saji ala Amerika, yang terjadi adalah kasus kelebihan berat badan.
Mungkin agak prematur meletakkan kesalahan utama pada makan ala Amerika. Namun, kenyataannya banyak orang yang kemudian belajar menyiasati pola makan tersebut. Sayangnya , dibalik kemasan penuh pesona itu tersimpan “umpan” dahsyat yang bila tidak hati-hati bisa dengan mudah membawa konsumen ke arah obesitas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, khusus untuk menu sehat yang baik tentunya tidak asal kenyang. Tubuh membutuhkan sekitar 45 zat gizi atau nutrien. Sebagian bersifat esensial, artinya tidak boleh tidak, harus tersedia dalam menu harian karena tubuh sendiri tidak bisa memproduksinya. Kemunculan penyakit degeneratif orang sekarang sebagian besar disebabkan oleh karena waktu lama sel tubuh kekurangan nutrisi. Setiap orang perlu memperhatikan kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi. Kecukupan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin dan kekurangan nutrisi menjadi semacam kewajiban setiap orang.
Makanan instan yang minim serat atau goreng-gorengan yang mengandung minyak sering kali lebih lezat ketimbang sayur dan buah segar. Belum lagi banyaknya makanan yang mengandung bahan pengawet, bahan pewarna, atau justru tidak higienis dalam pengolahannya. Semua makanan ini tanpa disadari menjadi pilihan alternatif bagi banyak orang, dan kemungkinan salah satunya Anda. Padahal, jika dikonsumsi berlebih, jenis-jenis makanan ini bisa berdampak negatif bagi tubuh.
ADVERTISEMENT
Yang pasti, timbulnya penyakit penyakit kronis menjadikan usia orang semakin pendek. Gaya hidup yang salah membuat orang menjadi lebih gemuk, lebih lamban, lebih tampak tua, dan lebih banyak mengidap penyakit. Untuk diketahui penyakit diabetes, jantung, stroke, osteoporosis, bahkan kanker sekalipun timbul akibat gaya hidup yang kacau dan kesalahan mengatur tubuh Anda.
Gaya hidup sehat menghasilkan hidup yang lebih sukses, hidup yang lebih optimal, dan hidup yang lebih berkualitas. Sebab memiliki umur panjang bukan hanya sehat, tetapi juga harus tetap mandiri, produktif, optimis, ceria, dan ada masa depan yang penuh harapan. Semoga bermanfaat.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan