kumparan
18 Mei 2018 19:36 WIB

Pemprov Kalsel Kebut Pembuatan Bank Data Kebudayaan Selesai Tahun Ini

Banjarhits.id, Banjarmasin - Provinsi Kalimantan Selatan memiliki ragam suku dan budaya, di antaranya suku Banjar, suku Dayak, dan suku Melayu. Keanekaragaman ini nantinya akan dirangkum dan disajikan dalam satu naskah dokumen resmi budaya sebagai rujukan pendidikan.
ADVERTISEMENT
Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, Ahmad Subakti, mengatakan Kalsel belum memiliki naskah dokumentasi keragaman budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal setempat. Menurut dia, dokumentasi semacam ini penting sebagai bank data kebudayaan.
Terlebih, kata Ahmad, Pemprov Kalsel bertekad menjadikan budaya dan wisata sebagai penopang utama penggerak ekonomi lokal.
“Kami akui belum memiliki bank data kebudayaan Kalsel. Tahun 2018 masih kami akan susun dan bikin bank data kebudayaan Kalsel yang berisi aneka ragam budaya Kalsel serta penjabarannya,” kata Ahmad kepada banjarhits.id, Jumat (18/5).
Pihaknya sudah melakukan pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. Menurut dia, Dinas Dikbud akan membuat situs internet khusus yang berisi informasi data kebudayaan Kalsel secara bertahap.
ADVERTISEMENT
Ahmad berpendapat, Kalsel punya keunikan budaya asli lintas suku (Dayak, Banjar, dan Melayu) yang tak dimiliki daerah lain. Setiap komunitas suku memiliki artefak budaya masing-masing, sehingga berdampak pada keragaman budaya yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan.
Jika tidak dikelola dengan baik, ia cemas khasanah budaya Kalsel bisa berpotensi lenyap tergerus zaman. Ancaman pengklaiman aset budaya oleh pihak lain pun kerap mengintai.
“Bank data kebudayaan akan dibuat guna meningkatkan kualitas data pemerintah di bidang seni dan budaya. Diharapkan bank data budaya selesai tahun 2018 ini, “ katanya.
Bank data budaya Kalsel nantinya diintegrasikan pula dengan data sekolah, sehingga masyarakat dapat mengetahui letak cagar budaya dan museum terdekat dari suatu sekolah. Langkah ini memudahkan para siswa dan guru mengakses informasi ke situs-situs kebudayaan. (Anang Fadhilah)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan