Mom
·
7 November 2019 17:34

Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting

Konten ini diproduksi oleh banthayo.id
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34012)
Ilustrasi Stunting.(foto:kemenkes.go.id
BANTHAYO.ID, GORONTALO - Dalam upaya menciptakan generasi emas, Indonesia saat ini dibayangi oleh kehadiran stunting yang angkanya masih di atas 30 persen. Merujuk pada Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada 2013, prevalensi stunting mencapai angka 37,2 persen.
ADVERTISEMENT
Artinya, masih ada 9 juta anak mengalami stunting akibat kurangnya asupan gizi.
Stunting adalah masalah kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting terjadi dimulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Ditandai dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34013)
Merujuk pada Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) pada 2013, prevalensi stunting mencapai angka 37,2 persen. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
Provinsi Gorontalo, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), saat ini sedang berupaya agar masalah stunting di daerah itu mampu diatasi dengan pelbagai strategi. Menurut datanya, angka stunting di Gorontalo pada 2015 hingga 2017 menurun secara signifikan. Saat ini, sejumlah daerah; Kabupaten Pohuwato, Kabupaten Boalemo dan Kabupaten Gorontalo dijadikan sebagai lokus penelitian terhadap pencegahan stunting.
Kabupaten Pohuwato dalam hal penanganan stunting sudah terbilang baik. Dinkes Provinsi Gorontalo menandai wilayah ini dengan warna biru karena dianggap sudah berhasil menangani masalah stunting. Sedangkan wilayah lainnya yang perlu diperhatikan lagi adalah, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo Utara dan Kota Gorontalo. Untuk Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo berada di situasi yang perlu pencegahan.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34014)
Menurut data, angka stunting di Gorontalo pada 2015 hingga 2017 menurun secara signifikan. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
Syafiin Saridin Napu, Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mengungkapkan, penyebab stunting di Gorontalo salah satunya kurangnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi.
ADVERTISEMENT
Ia mengungkapkan, masih banyak ibu yang belum mengetahui pentingnya ASI eksklusif untuk bayi. Kenyataan yang ditemukan di lapangan, banyak ibu yang anaknya masih berumur dua minggu tapi sudah diberi Makanan Pendamping (MP) ASI. Padahal menurutnya, ASI wajib diberikan hingga enam bulan usia bayi. Lalu setelah periode itu, bayi baru bisa dikenalkan dengan MP ASI.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34015)
Penyebab stunting di Gorontalo salah satunya kurangnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
Syafiin menambahkan, ibu belum teredukasi betapa pentingnya ASI untuk anak. Pengetahuan ibu terhadap pentingnya ASI memang masih kurang, selain itu juga karena dorongan dari keluarga.
“Banyak ibu mengira, ketika bayi menangis, dikira lapar lalu diberi makanan. Padahal bayi hanya butuh ASI."
Sehingga dengan itu, pihaknya berupaya mendorong ibu rumah tangga untuk memerhatikan pemberian ASI kepada bayi. Menurutnya, edukasi kepada ibu-ibu terus dilakukan agar kesadaran betapa pentingnya ASI dapat terbangun. Jika anak kekurangan gizi, dan mengalami stunting, maka dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34016)
Edukasi kepada ibu-ibu terus dilakukan agar kesadaran betapa pentingnya ASI dapat terbangun. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
Dalam sebuah penelitian tentang “Perbedaan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Riwayat Pemberian Asi Eksklusif Pada Balita Stunting dan Non Stunting” yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya, menunjukan, terdapat perbedaan antara balita stunting dan non stunting dalam jumlah konsumsi energi, protein, zinc, dan zat besi. Juga terdapat perbedaan pada tingkat kecukupan energi, zinc, dan zat besi.
ADVERTISEMENT
Hal ini kemudian menggambarkan betapa ASI sangat penting terhadap tumbuh kembang bayi dalam hal pemenuhan gizi seimbang.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34017)
Isu stunting juga menjadi bahasan serius karena menyangkut masa depan anak. Foto : Dok Banthayo.id (Wawan Akuba)
Penelitian yang lain tentang “Asi Eksklusif Sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan di Kota Yogyakarta” yang ditulis oleh Fariani Hidayah, menunjukan ada hubungan bermakna antara ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak di usia tersebut.
Dalam penelitian tersebut, ia menuliskan bahwa anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,74 kali mengalami stunting dibandingkan yang mendapatkan ASI eksklusif.
Salam Puan, sebagai lembaga yang perhatian terhadap isu perempuan, anak, dan keluarga, berupaya mengkampanyekan pentingnya ASI eksklusif. Kepada calon ibu maupun ibu menyusui, Salam Puan berbagi banyak hal mengenai ASI.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34018)
Ilustrasi anak Indonesia. (Foto: Shutterstock)
Salah satu yang dilakukan oleh Salam Puan adalah menggelar kegiatan dalam memperingati "World Breastfeeding Week" atau Pekan ASI Sedunia. Kegiatan ini selalu dilaksanakan pada bulan Agustus dan merupakan salah satu upaya yang dilakukan WHO dan UNICEF untuk mendukung ibu menyusui di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Pekan ASI Sedunia hanya salah satu kegiatan dalam kampanye ASI oleh Salam Puan, karena selain itu, kampanye juga dilakukan dengan memanfaatkan platform media sosial.
Asriyati Nadjamuddin, Ketua Salam Puan mengungkapkan, strategi yang ia tempuh dalam kampanye ASI saat ini dominan di grup Whatsapp maupun grup Facebook dan Telegram.
Pentingnya ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting (34019)
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
“Grup di sosial media ini dibuat untuk memudahkan ibu muda dan ibu menyusui untuk mengakses informasi terkait menyusui."
Strategi tersebut menurutnya cukup efisien karena sesuai dengan pola hidup masyarakat yang cenderung menggunakan internet dan aktif dalam bersosial media. Walaupun langkah itu dinilai masih sederhana karena belum sampai ditahap menciptakan aplikasi khusus terkait ASI di Google Playstore.
Selain itu, agar tetap ada kajian-kajian ilmiah dan pengetahuan yang sesuai dengan ilmu kesehatan, organisasinya membangun kerjasama dengan pihak kesehatan maupun Puskesmas yang memang ada program untuk ibu hamil dan menyusui. Dalam beberapa kegiatan, para tenaga kesehatan ini kemudian diundang sebagai pembicara.
ADVERTISEMENT
“Isu stunting juga menjadi bahasan serius karena menyangkut masa depan anak. Sehingga pernah kami menggelar kuliah di grup Whatsapp yang menghadirkan pembicara seorang dokter anak dari Jakarta,” tutupnya.
----
Reporter: Wawan Akuba