Konten dari Pengguna
Tradisi Rabu Pungkasan di Pekalongan : Manifestasi Kesalehan Sosial Masyarakat
5 November 2025 11:53 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Tradisi Rabu Pungkasan di Pekalongan : Manifestasi Kesalehan Sosial Masyarakat
Tulisan ini tentang Rabu Pungkasan berawal dari adanya kepercayaan bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, saat dimana Allah SWT menurunkan segala bala’ atau musibah. BASUKI RAHMAT
Tulisan dari BASUKI RAHMAT tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Indonesia merupakan negara yang multikultural, setiap masyarakatnya memiliki tradisi atau kebudayaan yang khas. Kondisi sosial yang berbeda-beda ini dapat dilihat dari suku, etnik, bahasa, dan agama. Semuanya itu merupakan anugrah dari Tuhan yang harus disyukuri, dan dapat menjadi perekat dalam harmoni kebangsaan dan kemasyarakatan.
ADVERTISEMENT
Hal ini yang dijumpai pada tradisi budaya masyarakat di Kuripan Kertoharjo Kota Pekalongan yang sangat terkenal. Tradisi tersebut dinamakan Rabu Pungkasan. Umumnya semua budaya Jawa sangat kental akan makna dan filosofi yang diturunkan turun temurun dari leluhur atau nenek moyang, sama halnya dengan Rabu Pungkasan. Kebiasaan tersebut sudah menjadi tradisi budaya tahunan masyarakat yang khas, diyakini dan memiliki keunikan tersendiri.
Istilah Rabu Pungkasan dalam tradisi masyarakat jawa, memiliki berbagai macam dalam penyebutan dan maknanya. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan istilah Rebo Pungkasan, Rebo berarti hari Rabu dan kata Pungkasan yang berarti akhir. Arti keseluruhan Rebo Pungkasan berarti hari Rabu yang terakhir dari bulan Shafar, bulan kedua dari penanggalan hijriyah. Sebagian masyarakat lain juga menyebutnya dengan istilah Rebo Wekasan. Arti wekasan yang berarti pesanan. Jadi istilah Rebo Wekasan berarti hari Rabu yang spesial tidak seperti hari Rabu yang lain. Ini terjadi karena Rebo Wekasan hanya terjadi setahun sekali. Ada juga yang menyebutnya dengan istilah Rebo Kasan. Ini dimaknai bahwa Rebo Kasan sama dengan Rebo Wekasan, karena istilah Kasan adalah penggalan dari kata Wekasan. Asal tradisi Rebo Pungkasan berawal dari adanya kepercayaan bahwa pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, saat dimana Allah SWT menurunkan segala bala’ atau musibah. Beberapa sesepuh biasanya mempunyai pesan agar masyarakat berhati-hati pada hari tersebut.
ADVERTISEMENT
Bentuk tradisi masyarakat menolak bala’ atau musibah diantaranya melakukan prosesi adat yaitu tradisi mandi Shafar, shalat tolak bala’, memotong rambut, meminum air jimat, dzikir dan doa bersama, membuat bancakan atau makanan yang didoakan kemudian dibagikan kepada tetangga. Beberapa ritual tradisi Rebo Pungkasan di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, yang paling unik ialah udik-udikan. Masyarakat meyakini bahwa udik-udikan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diterima dan sebagai penolak bala’
Dalam konteks sosial yang lebih luas, tradisi udik-udikan dilakukan sebagai bentuk sedekah. Dilakukan dengan menyebar uang koin (receh) yang terkumpul dalam wadah atau baskom berisi beras, yang sebelumnya sudah dicampur dengan parutan kunir agar berwarna kuning dan tampak menarik. Koin yang sudah dicampur dengan beras kuning tersebut dipercaya memiliki berkah bagi mereka yang berhasil mendapatkannya. Tradisi udik-udikan dilakukan sehabis dhuhur atau puncaknya pada sore hari. Tetapi terkadang juga terjadi di lingkungan sekolah, dimana guru juga membagikan uang receh kepada murid di kelas atau halaman sekolah.
ADVERTISEMENT
Masyarakat kota pekalongan yang mayoritas penduduknya beragama Islam mempunyai karakteritik yang sangat religius, inklusif, menerima perbedaan, gotong royong dan peduli terhadap sesama. Mereka sangat meyakini Hadis Nabi yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Tradisi udik-udikan adalah praktik sedekah yang mencerminkan kesalehan sosial.
Kesalehan sosial adalah konsep yang menghubungkan iman dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat. Ini mencakup tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai moral dan etika, serta tanggung jawab sosial yang berasal dari keyakinan agama. Kesalehan sosial bukan hanya tentang ritual ibadah pribadi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menerapkan ajaran agamanya dalam berinteraksi dengan orang lain dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Aspek yang terkandung dalam tradisi udik-udikan dan kesalehan sosial yaitu nilai kedermawanan, keadilan sosial, perdamaian dan toleransi. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual salat dan puasa, tetapi juga dilihat dari dampak sosial terhadap sesama berupa kasih sayang, cinta kasih, penuh kesantunan, sikap demokratis, memberi serta membantu, dan menghargai hak orang lain (Helmiati, 2015).
ADVERTISEMENT
Begitu banyak manfaat tradisi Rebo Pungkasan dengan melakukan udik-udikan membuat masyarakat Kuripan Kertoharjo Kota Pekalongan selalu menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah atau berbagi. Setiap orang dapat melakukannya apapun latarbelakang sosialnya, baik itu pegawai, buruh, tani, nelayan dan swasta. Semua itu dilakukan selain sebagai wujud pada relasi manusia dengan Tuhannya (hablum minallah), juga dari relasi sosial yang baik (hablum minannas), seperti kepedulian terhadap sesama, kontribusi dalam kehidupan sosial, dan komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, relasi sosial yang baik (hablum minannas) menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesalehan itu sendiri.
Muhamad Basuki Rahmat, S.Psi-Mahasiswa Pasca Sarjana UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan
ADVERTISEMENT

