Banjir Rob Jawa Tengah: Penurunan Muka Tanah Penyebab Utamanya

Konten Media Partner
25 Mei 2022 9:32
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Banjir Rob Jawa Tengah: Penurunan Muka Tanah Penyebab Utamanya (66587)
zoom-in-whitePerbesar
Setidaknya 22.000 warga terdampak banjir rob terparah yang pernah melanda pesisir pantai utara Jawa Tengah.
Jumlah tersebut berada di Kota Semarang dan Kabupaten Demak, menurut Dinas Sosial Jawa Tengah. Banjir juga melanda kawasan pesisir di Kabupaten Rembang, Pati, Pekalongan, hingga Tegal.
Banjir rob, akibat pasang-surut air laut, sudah menjadi bencana tahunan bagi daerah-daerah di pesisir pantura Jateng namun warga mengatakan banjir tahun ini lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan banjir yang dimulai sejak Senin (23/05) adalah akibat air pasang tinggi yang dipicu oleh posisi bulan di titik terdekat dengan bumi atau perigee. Puncak pasang itu dibarengi oleh tinggi gelombang laut kategori sedang.
Namun seorang peneliti geodesi dari Institut Teknologi Bandung meyakini penurunan muka tanah atau land subsidence merupakan faktor yang lebih dominan dalam menyebabkan banjir.

'Banjir tahun ini yang terparah'

Sarofah, 62 tahun, duduk di dekat rumahnya yang terendam air. Perempuan itu bersama putrinya baru saja selesai memindahkan barang-barang mereka dari lantai satu rumah yang seluruhnya digenangi air setinggi di atas mata kaki.
Rumah Sarofah terletak di Kampung Tambaklorok, Semarang.
Kampung ini berbatasan dengan pantai utara Jawa dan berada persis di sisi timur Pelabuhan IV Tanjung Mas Semarang. Di kawasan pelabuhan inilah tanggul penahan air laut jebol, mengakibatkan banjir rob terparah yang pernah melanda kampung itu.
"Biasanya kalau banjir di depan gang saja, tapi tiga hari terakhir ini menggenangi sepanjang jalan gang di hingga masuk ke rumah. Tahun sebelumnya, rob juga tinggi tapi tidak setinggi kali ini. Parah sekali," kata Sarofah kepada Noni Arnie, wartawan di Semarang yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Sarofah mengatakan setiap tahun kondisi banjir di kampungnya semakin parah.
Warga berusaha membendung air rob supaya tidak masuk rumah mereka dengan meninggikan bangunan rumah dan secara swadaya meninggikan jalan. Namun air rob tetap menggenangi jalanan dan rumah warga.
Sarofah sendiri sudah meninggikan rumahnya hingga satu meter, tapi percuma. Pada Selasa (24/05), seluruh lantai bawah rumah petak dua laintai itu tidak dapat digunakan karena karena kamar tidur, dapur, dan kamar mandi tergenang air rob hingga di atas mata kaki.
"Padahal bangunan rumah saya sudah lebih tinggi dari rumah tetangga," kata Sarofah.
Menurut Sarofah, permasalahan rob ini makin parah dengan banyaknya warga yang memanfaatkan sumur artesis sebagai satu-satunya sumber air bersih. Warga mulai menggunakan sumur artesis atau sumur bor tiga dekade yang lalu dan seiring waktu semakin banyak yang membuat sumur tersebut.
"Dulu tidak ada air bor tapi pakai sumber air umum dengan cara ngangsu (mengambil air dari sumur)," kata perempuan itu.
Ahmad Saiful, ketua RT di Kampung Tambaklorok, juga berpendapat banjir rob ini disebabkan persoalan lingkungan, seperti masifnya pembangunan di area sekitar dengan permukiman-permukiman baru.
"Selain itu, ketergantungan warga dengan sumur artesis juga membuat [banjir rob] semakin parah," kata Ahmad.
Ia mengakui sejauh ini belum ada solusi efektif. Wacana relokasi warga ke tempat baru harus dipertimbangkan dengan matang, ujarnya.

Apa penyebab banjir?

Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Tanjung Emas Semarang, ketinggian air pasang pada tanggal 23 Mei mencapai 210 sentimeter - pasang tertinggi yang pernah diamati sejak 2002, ketika BMKG mulai melakukan pengamatan. Biasanya, tinggi pasang maksimal 170-180 sentimeter.
"Dan dampaknya terasa sekali, terutama di pelabuhan Tanjung Mas. Hampir seluruh area pelabuhan terkena rob, [dengan ketinggian air] antara 50-150cm," kata Retno Widyaningsih, kepala stasiun tersebut.
Air pasang dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Jadi ketika bulan berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi, pasang mencapai titik tertinggi. Retno menjelaskan, selama dua puluh tahun pengamatan, pasang tertinggi memang biasanya terjadi pada bulan Mei.
Namun tahun ini ada satu pemicu lagi - ketinggian gelombang kategori sedang, yaitu berkisar 1,25 hingga 2 meter .
"Bisa bayangkan itu seperti kita punya mangkuk, kemudian mangkuk itu diisi oleh air sampai penuh, kemudian digoyang dengan angin dan ... goncangan karena gelombang, itu kan akan limpas," tutur Retno.
Namun Heri Andreas, peneliti di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, berpendapat efek perigee tidak begitu signifikan. Ia yakin bahwa penurunan muka tanah atau land subsidence menjadi faktor yang lebih dominan dalam menyebabkan banjir rob parah di sepanjang pesisir Jateng.
Menurut pantauan para peneliti di Laboratorium Geodesi ITB, daerah pesisir Semarang, Pekalongan, dan Demak masih mengalami penurunan muka tanah dengan laju 10 hingga 20 sentimeter per tahun.
Heri Andreas menerangkan, dalam tinggi air pasang 210 sentimeter yang diukur BMKG itu terdapat komponen 20 hingga 40 sentimeter dari penurunan muka tanah.
"Karena kita monitor terus subsidennya, kita bisa paham bahwa ini ada faktor yang bisa jadi terlupakan.
"Karena, misalnya, kebocoran dari tanggul atau jebolnya tanggul, itu sangat terkait dengan penurunan tanah yang masif. Tanggul bisa jebol itu subsidennya besar biasanya," ia menambahkan.
Tiga tahun lalu, dalam liputan BBC News Indonesia tentang daerah-daerah pesisir Indonesia yang terancam tenggelam, Heri menjelaskan penurunan muka tanah lebih berperan ketimbang kenaikan muka air laut dalam menyebabkan banjir di pantai utara Jawa.
Kenaikan permukaan air laut di Indonesia akibat pemanasan global diperkirakan sekitar 3 - 8 milimeter per tahun, kata Heri, sementara penurunan muka tanah diperkirakan sekitar 1-10 sentimeter per tahun.
Bahkan, di beberapa tempat seperti Pekalongan dan ibu kota Jakarta, perkiraan penurunan muka tanah mencapai 15 hingga 20 sentimeter.
Pengamatan terbaru Heri dan rekan menemukan bahwa di Pekalongan, Semarang, dan Demak trennya masih sama - 15 sampai 20 sentimeter per tahun. Sementara di Jakarta ada relatif penurunan laju subsiden.
"Makanya menarik ketika heboh di Jawa Tengah tetapi di Jakarta kan kemarin tidak terjadi apa-apa. Padahal kalau kita bicara perigee harusnya jangan Semarang saja, jangan Pekalongan saja dong, kalau urusan perigee itu Jakarta harusnya dapat juga. Nah berarti efek lokalnya [yang berpengaruh]," kata Heri.
Penurunan muka tanah dapat terjadi karena pengambilan air tanah yeng berlebihan seiring pertumbuhan pesat populasi dan infrastruktur. Itu juga dapat terjadi secara alami melalui pemantapan tanah, yakni ada bagian yang terbentuk dari endapan lengkungan pasir-pasir halus yang kemudian mengeras.
Eksploitasi air tanah yang berlebihan dipercaya sebagai salah satu tipe penurunan tanah yang dominan untuk kota-kota di pesisir yang terancam tenggelam.

Solusi apa yang ditawarkan pemerintah?

Juru bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Endra S. Atmawijaya, menjelaskan pemerintah akan mengatasi masalah banjir rob dengan segera menyelesaikan pembangunan tol tanggul laut Semarang-Demak, yang dapat berfungsi sebagai flood control serta membangun tanggul di pantai Pekalongan.
Mengenai penurunan muka tanah, Endra mengatakan pemerintah tidak bisa semerta-merta melarang masyarakat untuk berhenti menyedot air tanah tanpa memberikan solusi sumber air alternatif.
Karena itu di Semarang, kata Endra, pemerintah tengah berusaha mengganti sumber air bersih masyarakat dari air tanah menjadi air pipa.
"Jadi itu kan kita sudah bangun waduk Jatibarang kemudian sekarang kan sedang berjalan KPBU (kerja sama pemerintah-badan usaha) untuk Semarang barat, untuk air minum. Nah ini kita harapkan bisa mengurangi dampak land subsidence-nya itu. Jadi airnya bisa mengisi lagi rongga-rongga di ground water-nya itu," kata Endra.
BMKG telah memprediksi bahwa tujuh belas provinsi di Indonesia berpotensi mengalami banjir rob hingga 25 Mei 2022.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020