Jika Kehidupan di Luar Bumi Benar Ada, Bagaimana Kita Harus Menyikapi Alien?

Konten Media Partner
8 November 2022 10:40
·
waktu baca 12 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Jika Kehidupan di Luar Bumi Benar Ada, Bagaimana Kita Harus Menyikapi Alien? (260865)
zoom-in-whitePerbesar
Manusia masih mencari tanda-tanda kehidupan alien di planet lain, tapi bagaimana kita bereaksi apabila kita berhasil melakukan kontak dengan mereka?
Berdasarkan apa yang muncul dalam budaya populer kita, ada satu hal yang dilakukan apabila makhluk luar angkasa mendekati planet kita: tembakan artileri berat.
Namun dari film laris manis di era 1980-an, ET the Extra-Terrestrial, episode-episode Star Trek, hingga buku-buku karya Isaac Asimov dan Ursula K Le Guin, para penulis fiksi ilmiah telah lama bergumul dengan pertanyaan: bagaimana kita akan memperlakukan mereka sebenarnya?
Dalam budaya populer, makhluk luar angkasa sering dianggap sebagai warga kelas dua atau lebih inferior dibanding manusia.
Kalau bukan karena campur tangan teman manusia ET, alien titular itu akan dibedah di ruang operasi.
Dalam film District 9 yang dirilis pada 2009, jutaan “udang” alien dikemas ke kawasan kumuh Afrika Selatan, sebagai sebuah kiasan untuk kefanatikan dan kekejaman manusia dalam kehidupan nyata.
Bukti kehidupan di luar bumi sejauh ini belum ditemukan, meskipun kita jelas sedang mencarinya.
Apa pun yang kita temukan dalam waktu dekat kemungkinan besar berupa tanda-tanda kehidupan mikroba yang pernah ada di Mars, bukan berupa sosok seperti manusia yang digambarkan dalam film-film.
Tetapi menurut rumus persamaan Drake, ada peluang secara statistik bahwa makhluk luar angkasa yang cerdas ada di suatu tempat, bahkan jika bintang-bintang harus sejajar agar kita bisa menghubungi satu sama lain, mengingat betapa luasnya galaksi kita dan betapa jauhnya jarak antar-planet.
“Menemukan kehidupan atau melakukan kontak [dengan alien] sangat tidak mungkin sampai suatu hari nanti kita bisa benar-benar melakukannya,” kata John Zarnecki, profesor emeritus ilmu antariksa di Universitas Terbuka, Inggris.
“Ini mengingatkan saya pada eksoplanet. Sebagai peneliti muda, itu adalah topik yang kami bicarakan, kami semua menduga eksoplanet ada di luar Tata Surya, tetapi kami tidak mungkin menemukannya karena secara teknis terlalu sulit."
Kita sekarang tahu eksoplanet benar-benar ada di luar Tata Surya. Beberapa bahkan berpotensi menjadi calon kehidupan karena memiliki sumber air.
Dengan pencarian yang masih berlangsung terhadap kehidupan alien dan kemungkinan yang masih tersisa untuk kita temukan, tidak salah untuk mempertimbangkan bagaimana reaksi kita jika kita benar-benar bisa berkontak dengan mereka, terutama mengingat spesies alien yang cerdas kemungkinan akan sangat berbeda dengan manusia.
Baca juga:

Hak non-manusia

Para penulis tampaknya tidak terlalu mengharapkan manusia memperlakukan alien dengan sangat baik.
Mungkin itu karena rekam jejak kita ketika memberikan hak kepada penghuni planet ini, manusia maupun makhluk lainnya, sangat buruk sepanjang sejarah meskipun ada konvensi hukum internasional yang semestinya melindungi semua makhluk di bumi ini.
Pemberian hak universal yang tidak dapat dicabut –seperti hak yang dijamin untuk semua orang dalam kondisi apa pun—diabadikan oleh masyarakat internasional ke dalam hukum melalui Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 1948 setelah Perang Dunia Kedua.
Namun, di luar sanksi-sanksinya, ada keterbatasan sarana untuk benar-benar menegakkan hak-hak ini bahkan untuk manusia.
Meski konvensi hukum itu menyatakan bahwa setiap orang semestinya berhak atas kemerdekaan dan kebebasan dari perbudakan sejak lahir hingga meninggal, namun menurut para ahli politik, hak-hak itu ternyata hanya berlaku di atas kertas.
Petunjuk soal bagaimana kita bisa memperlakukan alien yang bisa kita hubungi mungkin bergantung pada hak yang kita berikan terhadap spesies non-manusia di bumi.
Meskipun banyak negara telah mengakui bahwa hewan-hewan seperti gorila hingga gagak adalah makhluk yang berperasaan, kelompok pembela hak-hak hewan baru-baru ini membuat terobosan hukum dengan memberikan “hak” terhadap hewan berdasarkan perasaan yang mereka miliki itu, yang kemudian didefinisikan berdasarkan kemampuan mereka untuk merasakan kenyamanan atau penderitaan.
Beberapa ahli etika telah mempertimbangkan bagaimana hak-hak spesies asing yang sama sekali tidak dikenal akan masuk dalam kerangka hukum dan etika kita. Namun hanya ada sedikit diskusi terbuka di ranah internasional seputar alien.
Sebuah pertanyaan pernah diajukan pada sesi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1997 oleh Perdana Menteri Grenada, Eric M Gairy, yang percaya bahwa penampakan UFO mungkin merupakan tanda-tanda kehidupan di luar bumi yang agresif. Gairy menyarankan pembentukan badan investigasi resmi melalui PBB.
Tetapi tidak ada kebijakan apa pun yang dihasilkan. Gairy juga ditekan untuk membatalkan topik tersebut oleh para diplomat Inggris sebelum digulingkan pada kudeta tahun berikutnya.
Sejumlah pemerintah pun menunjukkan ketertarikan soal ini. Pada 1999, jurnalis Leslie Kean membocorkan dokumen Prancis tentang UFO yang menunjukkan para jenderal dan laksamana percaya bahwa fenomena-fenomena yang tidak bisa dijelaskan berpotensi sebagai tanda-tanda kehadiran makhluk luar angkasa.
Pada awal tahun ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, Kongres AS secara terbuka memperdebatkan apa yang harus dilakukan terhadap benda terbang misterius ini, meskipun belum ada bukti bahwa mereka berasal dari luar bumi.
Jill Stuart, seorang spesialis hukum luar angkasa di London School of Economics tidak percaya bahwa manusia akan melakukan kontak dengan makhluk luar angkasa dalam masa hidup kita. Tapi dia masih mempertimbangkan apa yang akan kita lakukan dalam situasi itu penting untuk dibicarakan.
“Kita menelusuri Semesta untuk menemukan diri kita sendiri, karena itu memaksa kita merenungkan kembali bagaimana kita terhubung satu sama lain, bagaimana kita terhubung dengan lingkungan kita, dan bagaimana kita terhubung dengan spesies serta orang-orang lain,” kata Stuart.

Rencana yang hilang

Tidak ada kesepakatan maupun mekanisme internasional mengenai bagaimana umat manusia akan menangani pertemuan dengan alien, kata Direktur Eksekutif PBB untuk Urusan Luar Angkasa (Unoosa) Niklas Hedman.
Menurut Hedman, itu bukan berarti kerangka kerja terkaitnya tidak pernah ada.
PBB, sebagai “organisasi antar-pemerintah global” bisa menjadi wadah yang tepat untuk mekanisme itu, namun pada akhirnya pembahasan dan tindakannya akan “bermuara pada kehendak negara-negara anggota”.
Saat ini, seluruh aturan luar angksa internasional hanya berkaitan dengan aktivitas-aktivitas manusia, kata Hedman.
Perjanjian luar angkasa pertama ditandatangani melalui PBB pada 1967 oleh Inggris Raya, Uni Soviet, dan AS sebagai respons atas pengembangan rudal balistik antarbenua yang dapat membidik target di luar angkasa.
Kesepakatan itu berfungsi sebagai dasar untuk seluruh hukum ruang angkasa yang ada, yang berkembang dari waktu ke waktu ketika ketika muncul kekhawatiran atau peluang ancaman baru di sekitar ruang angkasa.
Lima perjanjian luar angkasa utama yang ada saat ini berpusat pada hal-hal yang dilakukan manusia di luar angkasa dan bagaimana itu akan memengaruhi manusia lainnya. Itu mencakup segala hal mulai dari larangan senjata hingga pertanggungjawaban atas kerusakan dan puing-puing milik negara-negara penjelajah antaraiksa.
Kelompok Pencarian Intelijen Luar Angkasa di Akademi Internasional Astronautika mengadopsi kerangka kerja pasca-deteksi pada 2010 yang dibuat berdasarkan perdebatan selama beberapa dekade sebelumnya.
Dalam kasus apa pun yang mendeteksi sinyal kehidupan luar angkasa, kerangka kerja itu merekomendasikan agar dibentuk forum koordinasi internasional melalui PBB dan Komite Penggunaan Luar Angkasa Secara Damai (Copuous).
Stuart meyakini bahwa kerangka kerja internasional yang diterima secara luas itu akan dikembangkan sampai saatnya dibutuhkan.
Orang-orang suka memiliki materi dan skenario kehidupan nyata untuk dipertimbangkan sebagai ide-ide baru ke dalam hukum.
Apabila terjadi kontak, ada kemungkinan bahwa kerangka hukum yang mengatur HAM dapat diperluas dan disesuaikan dengan orang asing.
Salah satu pertimbangan utama dalam kasus ini adalah maksud dan tujuan dari alien itu, apakah mereka tidak berbahaya atau sebaliknya.
Jadi apa yang akan terjadi apabila piring terbang tiba-tiba mendarat di suatu tempat di Bumi? Tidak ada protokol yang telah ditetapkan atau bahkan disarankan. Namun secara hipotetis, kata Stuart, mungkin saja negara tempat ia mendarat harus memimpin diskusi awal soal bagaimana meresponnya.
“Tidak akan ada preseden atau latar belakang hukum untuk bertanggung jawab,” tutur Stuart.
Dia juga menambahkan bahwa jika sebuah UFO ditembak jatuh dan mendarat di sebuah negara, mungkin akan muncul kasus di mana negara itu harus bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 2011 berjudul The Royal Society mengenai “urusan supra-Bumi”, mantan direktur Unoosa Mazlan Othman mengusulkan agar kepentingan negara-negara dalam memerangi bahaya benda-benda di sekitar bumi seperti asteroid dapat menjadi model internasional apabila keberadaan alien benar-benar terbukti.
Dengan sedikit prinsip yang disepakati tentang bagaimana kita akan secara kolektif memperlukan makhluk luar angkasa yang kita temui, salah satu pendekatan mudahnya adalah dengan menerapkan hak yang diberikan kepada manusia.
Memasukkan prinsip itu ke dalam kerangka hukum yang ada, kata Stuart, adalah langkah yang masuk akal. 
Ini adalah asumsi yang masuk akal bahwa setiap spesies dapat melakukan perjalanan ke Bumi memiliki tingkat kecerdasan dan perasaan yang tinggi.
Oleh sebab itu, harus diperlakukan sama dengan manusia. Ini bisa mendukung asas “hak asasi manusia” berkembang menjadi “hak hidup”.
Mempertimbangkan kecerdasan gurita bisa menjadi langkah pertama untuk membayangkan betapa cerdasnya kehidupan di luar bumi bisa berbeda dari kecerdasan yang dimiliki manusia.
zoom-in-whitePerbesar
Mempertimbangkan kecerdasan gurita bisa menjadi langkah pertama untuk membayangkan betapa cerdasnya kehidupan di luar bumi bisa berbeda dari kecerdasan yang dimiliki manusia.
Kita juga perlu mempertimbangkan berbagai jenis kemungkinan kecerdasan dan perasaan.
Bahkan di planet kita sendiri, ada berbagai macam kecerdasan makhluk hidup yang baru kita kenali. Perdebatan berlanjut soal apakah gurita, yang telah lama dikenal akan kecerdasannya, juga memiliki kesadaran dan dapat merasakan sakit.
Praktek mikologi yang berkembang pun menunjukkan bahwa beberapa jenis jamur menunjukkan aspek kecerdasan, seperti memiliki kemampuan belajar dan mengambil keputusan.
“Ketika berbicara tentang alien, kita harus bertanya: kecerdasan seperti apa yang mereka miliki?” kata Susan Blackmore, penulis dan profesor tamu di Universitas Plymouth di Inggris yang meneliti tentang kesadaran.
“Mengapa mereka memilikinya? Saya pikir kita harus berasumsi bahwa alien ini akan berevolusi melalui proses evolusi Darwin, karena itulah satu-satunya proses yang kita ketahui yang akan menghasilkan makhluk hidup yang cerdas.”

Perasaan asing

Dalam kisah pertemuan dengan alien di Varginha, Brasil, yang dibahas dalam film dokumenter terkait UFO, Moment of Contact, diceritakan bahwa makhluk misterius yang diklaim ditemukan di dekat lokasi kecelakaan itu mengalami sakit fisik.
Apa pun pendapat Anda tentang kesaksian itu, itu bisa menggambarkan rasa sakit dan penderitaan yang mungkin dapat memandu pendekatan kita untuk memberikan hak kepada setiap pengunjung yang datang dari dunia lain.
“Bisakah alien menderita?” tanya Blackmore.
“Jika bisa, kita harus memiliki kewajiban moral terhadap [mereka], dan bahkan mungkin membangun kerangka hukum atas dasar ini.”
Ahli etika Peter Singer, yang menulis tentang hak yang tidak bisa dicabut untuk makhluk luar angkasa serta hewan, mengatakan bahwa perasaan pada akhirnya akan menjadi pertimbangan utama.
 "Dengan asumsi bahwa makhluk luar angkasa itu hidup, mampu merasakan sakit dan kesenangan, memiliki keinginan dan niat lain yang mungkin perlu waktu untuk dipastikan, prinsip etika mendasar yang harus kita terapkan adalah pertimbangan yang sama dari kepentingan yang serupa,” jelas dia.
Istilah ini, merujuk pada konsep yang diterapkan oleh Singer pada 1979, berarti bahwa semua makhluk mampu yang bisa merasakan kenyamanan atau penderitaan berhak mendapat perhatian yang sama dalam setiap keputusan moral yang memengaruhi mereka.
"Dengan kata lain, rasa sakit makhluk luar angkasa sama pentingnya dengan rasa sakit penduduk Bumi."
Persoalannya adalah menetapkan apa minat dan tujuan makhluk luar angkasa itu.
“Banyak faktor bergantung pada kapasitas kognitif makhluk luar angkasa yang mungkin jauh lebih maju dibanding lumba-lumba atau manusia, dalam hal ini kalau mereka jauh lebih maju dibanding kita sendiri, kita mungkin tidak bisa memahami mereka.”
The Nonhuman Rights Project, sebuah organisasi di AS yang mengadvokasi hak-hak hewan, percaya bahwa titik awal dari hak-hak ini adalah otonomi, yakni konsep yang dihargai di pengadilan AS bahwa setiap individu mampu memilih apa yang harus dilakukan, ke mana harus pergi, bagaimana bertindak, dan mengingat peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, kesadaran dianggap terlalu luas untuk dijadikan sebagai kriteria hukum untuk hak karena belum ada kesepakatan soal apa itu sebenarnya.
“Saat ini, setidaknya di Amerika Serikat, setiap manusia dilahirkan dengan hak kebebasan yang tidak dapat dicabut, tetapi manusia tidak selalu memiliki hak itu,” kata pengacara HAM, Jake Davis.
“Butuh waktu bertahun-tahun, perang saudara, dan perjuangan yang sangat besar bagi setiap manusia untuk mendapat tempat yang setara untuk hak atas kebebasan dan integritas.”
“Harapan saya adalah apabila spesies luar angkasa menjangkau kita dan mereka tidak memusuhi, kita tidak akan hanya berasumsi bahwa mereka seperti hewan nonmanusia dan beranggapan kita bisa melakukan apa pun hanya karena kita manusia dan mereka bukan. Harapan saya kita akan mengevaluasi mereka sebagai rekan sejauh mereka menunjukkan kemampuan itu, dan berangkat dari sana.”
Menurut Lori Marino, mantan direktur Proyek Hak Asasi Manusia, bahkan kecerdasan dan perasaan adalah konsep yang sulit disepakati oleh para ahli.
“Keduanya adalah konsep yang kabur,” kata Marino.
“Tapi saya yakin kecerdasaran adalah bagaimana seseorang memproses informasi, sedangkan perasaan adalah kemampuan untuk merasakan dan menyadari persaan itu,”
Dalam kasus menemukan organisme multiseluler di planet lain, sepanjang mereka bergerak, itu mungkin menunjukkan bahwa mereka cerdas dan hidup, kata Marino. Menurutnya, mereka membutuhkan sejumlah bentuk kecerdasan untuk eksis.
“Kita harus membuat asumsi bahwa mereka hidup, oleh sebab itu mereka bisa menderita dan kita tidak boleh menganggunya. Tentu saja saya tidak terlalu naif untuk berpikir bahwa kita akan mengganggunya, tetapi secara moral itu lah yang harus kita lakukan.”
Gagasan bahwa manusia harus menghindari campur tangan atas perkembangan alami peradaban alien itu sendiri memiliki sejarah panjang dalam fiksi ilmiah seperti dalam “Prime Directive” Star Trek. Meskipun di dalam dunia fiksi itu, prinsipnya dapat ditiadakan apabila spesies alien dianggap terlalu berbahaya.
Ide serupa sudah dipertimbangkan di dunia kita saat ini, namun Kantor Perlindungan Planet NASA bertujuan melindungi planet dan Bumi yang dieksplorasi.
Apabila alien bisa sampai ke planet kita, mungkin bukan hak-hak mereka yang harus kita khawatirkan.
Seth Shostak, astronom senior untuk Seti Institute, sebuah organisasi penelitian nirlaba yang bertujuan memahami dan menjelaskan asal usul dan sifat kehidupan di alam semesta, optimis akan ada beberapa kontak dengan alien. Namun dia menyatakan penting untuk membedakan jenis-jenis kontaknya.
Kemungkinan besar kita akan menerima tanda dan sinyal dari peradaban berteknologi maju dibanding menerima kunjungan alien.
Kalau kita mendapat sinyal, tidak akan ada urgensi yang besar. Sebab, sinyal bentuk apa pun yang kita kirim akan memakan waktu lama untuk sampai sehingga kita memiliki banyak waktu untuk memikirkan bagaimana membalasnya.
Kunjungan alien, bagaimanapun, berarti peradaban alien memiliki akses ke teknologi yang jauh melampaui kemampuan kita.
Ketika makhluk luar angkasa akhirnya mengambil makhluk yang malang, mereka mungkin bisa melenyapkan Bumi dalam perjalanan “pulang” kalau mereka berkehendak.
“Jika mereka datang, saya akan membeli banyak pizza beku dan pergi ke area perbukitan,” kata Shostak.
“Kalau mereka bisa sampai di sini, dibanding hanya mengirim sinyal, berarti mereka jauh lebih maju daripada kita.”
Dalam kasus seperti ini, pertanyaan yang lebih tepat mungkin adalah, apakah penguasa asing baru ini akan menjamin hak-hak kita?
“Apa yang akan Anda lakukan kalau ternyata mereka agresif?“ tanya Shostak.
“Ini seperti Neanderthal mencoba menemui Angkatan Udara AS: Neanderthal bisa mendapatkan semua kebijakan yang mereka inginkan, tapi itu tidak masalah.”
Versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul The missing plan for alien first contact dapat Anda simak di BBC Future.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020