Virus DBD Mengubah Aroma Tubuh Manusia Jadi Makin Memikat Nyamuk

Konten Media Partner
3 Juli 2022 19:23
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Nyamuk Aedes aegypti betina sedang menghisap darah dalam sebuah percobaan di laboratorium.
zoom-in-whitePerbesar
Nyamuk Aedes aegypti betina sedang menghisap darah dalam sebuah percobaan di laboratorium.
Virus Zika dan demam berdarah dengue (DBD) mampu mengubah aroma tubuh manusia dan tikus yang terinfeksi, menurut penelitian yang dipublikasi oleh Cell.
Perubahan aroma ini menarik perhatian nyamuk-nyamuk, yang kemudian menghisap darah dan membawa virus tersebut ke korban berikutnya.
Demam berdarah menyebar di daerah tropis, seperti Indonesia. Penyakit ini menyebabkan demam, bintik-bintik merah, dan nyeri yang menyakitkan yang bisa berakibat fatal.
Sementara, virus Zika pada perempuan hamil dapat menyebabkan kecacatan pada bayi yang dilahirkan.
Tapi, kebanyakan orang dewasa yang mengidap virus Zika memperlihatkan gejala ringan atau tanpa gejala dan biasanya bisa pulih hanya dalam waktu beberapa hari.
Para peneliti di sejumlah laboratorium China, termasuk Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China di Universitas Tsinghua, Beijing, menemukan molekul bau pada tikus yang terinfeksi membuat mereka lebih rentan terhadap gigitan nyamuk.
Molekul yang paling menarik perhatian nyamuk adalah acetophenone. Molekul ini mengalami peningkatan pada manusia dan tikus yang terinfeksi DBD atau Zika. Hal ini telah diuji coba pada bagian tangan relawan.
Para peneliti sekarang mencari cara pengobatan yang menargetkan acetophenone.
Menutup rapat bagian tubuh dengan kain, atau menggunakan kelambu, serta menggunakan obat nyamuk adalah cara terbaik yang saat ini digunakan untuk menghalau gigitan nyamuk.
Sejauh ini diperkirakan lebih dari 400 juta kasus infeksi demam berdarah setiap tahun. Adapun kasus penyakit Zika telah dilaporkan di 86 negara seluruh dunia.
Virus ini paling umum ada di bagian Selatan dan Tengah Amerika, Afrika, Karibia, dan sebagian dari negara-negara di Asia.
Demam kuning, Japanese encephalitis (radang otak akibat virus), dan penyakit West Nile juga disebabkan oleh virus yang masih satu keluarga dengan Zika.

Bagaimana kasus demam berdarah di Indonesia?

Kasus demam berdarah pertama kali dilaporkan di dua dari 29 provinsi Indonesia pada 1968. Namun hari ini, demam berdarah menyebar hampir di seluruh provinsi Indonesia.
Sejak awal tahun hingga pertengahan Juni 2022, Kementerian Kesehatan melaporkan 45.387 kasus demam berdarah. Sementara jumlah kematian mencapai 432 kasus atau hampir 1% dari jumlah kasus kejadian.
Dengan demikian orang yang meninggal karena demam berdarah pada 2022 rata-rata 2-3 orang per hari.
Sebanyak 10 provinsi dengan jumlah kasus tertinggi (kasus DBD per 100.000 orang) mencakup Bali, Kalimantan Utara, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat dan Yogyakarta.
Sejauh ini, pemerintah mendorong keaktifan masyarakat melalui program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) sebagai upaya pencegahan demam berdarah.
Gerakan ini melibatkan masyarakat untuk melakukan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus di lingkungan rumah, tempat umum dan gedung untuk mencapai angka bebas jentik lebih dari 95%, kata Penjabat Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Tiffany Tiara Pakasi.
Jauh sebelumnya, pemerintah juga meluncurkan Rencana Strategi Nasional untuk Program Pengendalian DBD 2021 - 2025.
Dua hal utama yang menjadi target dari rencana ini, pertama menurunkan angka kematian pada 2025 di bawah 49 kasus per 100.000 jiwa - skala kasus yang tercatat per akhir Desember 2020.
Kedua, jumlah kematian akibat demam berdarah bisa ditekan di bawah 0,5% dari kasus yang terjadi.
Untuk memerangi DBD, sebuah penelitian yang dilakoni Prof. Adi Utarini dari Fakultas Kedokteran UGM bisa menjadi harapan.
Uji coba yang dilakoninya mendapati bahwa menyuntikkan bakteri Wolbachia ke nyamuk penyebab demam berdarah, atau Aedes aegypti, dapat mengurangi tingkat infeksi demam berdarah pada manusia.
Hasil uji coba dari studi tersebut mendapati bahwa jumlah kasus demam berdarah di sejumlah area di Kota Yogyakarta, yang menjadi tempat pelepasan nyamuk dengan bakteri Wolbachia, turun 77% jika dibandingkan dengan area yang tidak diintervensi oleh nyamuk yang sudah 'dimodifikasi' tersebut.

Video terkait yang juga menarik untuk Anda simak:

Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020