Keraton Solo Peringati Perpindahan ke Desa Sala dengan Tradisi Makan Bubur Suro

Konten Media Partner
15 Agustus 2022 18:40
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Selamatan berdirinya Keraton Solo di Pagelaran Keraton Solo, Senin (15/08/2022). FOTO: Fernando Fitusia
zoom-in-whitePerbesar
Selamatan berdirinya Keraton Solo di Pagelaran Keraton Solo, Senin (15/08/2022). FOTO: Fernando Fitusia
ADVERTISEMENT
SOLO - Keraton Solo menggelar selamatan, guna memperingati perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala dan berdirinya Keraton Solo di Pagelaran Keraton Solo, Senin (15/08/2022).
ADVERTISEMENT
Putri Paku Buwono (PB) XII GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng, menerangkan jika berdasarkan kalender Masehi usia Keraton Solo sudah 277 tahun.
Namun jika menggunakan kalender Jawa, maka keraton berumur 286 tahun karena berdiri sejak 1745.
“Hari ini kami mengadakan selamatan dalam rangka ulang tahun berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hari ini kami mengundang dari seluruh paguyuban kawula Keraton Surakarta , terutama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hadir 350 orang dari masing-masing kabupaten,” jelas Gusti Moeng.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Abdi dalem Keraton Solo makan bubur Suro saat selamatan berdirinya Keraton Solo. FOTO: Fernando Fitusia
zoom-in-whitePerbesar
Abdi dalem Keraton Solo makan bubur Suro saat selamatan berdirinya Keraton Solo. FOTO: Fernando Fitusia
Selain itu, imbuh dia, hadir pula anak-anak Senopati Mataram, 200 sentono dan 300 abdi dalem Keraton Solo.
Alhamdulilah sudah bisa terselenggara dengan baik. Kalau bubur Suro itu tradisi orang Jawa. Tradisi makan bubur Suro itu sudah dinanti-nanti dan di dalam bubur itu ada harapan kita mendapatkan kenikmatan hidup,” paparnya.
ADVERTISEMENT
Dalam tradisi makan bubur Suro ini, terang Gusti Moeng, tersimpan juga harapan agar Indonesia terhindar dari krisis pangan.
“Kami juga ingin kita semua diberi kesehatan lahiriah untuk tetap bisa mengembalikan keraton kepada kedudukan yang sebenarnya, sebagai pusat kebudayaan,” terang Gusti Moeng.
(Fernando Fitusia)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020