kumparan
16 Jul 2019 23:22 WIB

RS Kasih Ibu soal Penanganan Korban Tabrak Lari di Solo: Sesuai SPO

Suasana Fly Over Manahan, Solo yang menjadi lokasi peristiwa tabrak lari beberapa waktu lalu. (Agung Santoso)
SOLO- Respons terkait komplain Satpol PP atas dugaan keterlambatan penanganan korban tabrak lari di Fly Over Manahan Solo, Retnoning, Senin (1/7/2019), disampaikan oleh Humas Rumah Sakit Kasih Ibu, David Pangaribuan. Menurut David, RS Kasih Ibu, rumah sakit yang menangani korban kecelakaan, telah melakukan penanganan sesuai dengan Standar Pelayanan Operasional (SPO) di rumah sakit.
ADVERTISEMENT
"Memang benar ada dua petugas Satpol PP datang untuk meminta emergency call ke rumah sakit. Kami layani sesuai SPO. Kami sudah sigap dan cepat mendatangi lokasi kecelakaan," ujar David melalui telepon, Senin (15/7/2019) malam.
David melanjutkan, dalam proses permintaan emergency call, petugas medis akan mencatat keterangan pelapor terkait kondisi korban terkini. Selain itu, petugas medis secara SOP akan memberitahukan jumlah nominal biaya operasional.
"Itu memang wajar sesuai SPO, bahwa petugas hanya memberitahukan nominal, tanpa ada motivasi kepada penanggung agar segera dibayar. Apalagi tidak ada hitam di atas putih saat itu juga," tuturnya.
Menurutnya, sesuai keterangan tim medis yang berjaga saat peristiwa terjadi, tidak ada komplain dari pihak Satpol PP. Bahkan, petugas medis sempat bingung ketika dikonfirmasi pihak humas rumah sakit terkait komplain oleh petugas Satpol PP. Karena menurut petugas medis, tidak ada komplain yang diterimanya saat kejadian berlangsung.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, korban tabrak lari di fly over Manahan Solo, Retnoning, sempat mengerang kesakitan selama 1 jam. Rahmat dan anggota Satpol PP lainnya yang berada di lokasi langsung berbagi tugas dengan untuk mengevakuasi korban, menghubungi pihak keluarga korban, dan rumah sakit terdekat.
Namun saat di RS Kasih Ibu untuk meminta mobil ambulans, Rahmad mengaku dimintai uang sebesar Rp 400 ribu untuk biaya operasional.
"Saya pergi ke Rumah Sakit Kasih Ibu. Sampai di IGD, saya minta bantuan ambulans untuk evakuasi korban. Malah saya dimintai Rp 400 ribu untuk operasional ambulan. Saya kan tidak bawa uang sebanyak itu. Saya mintanya tim medis agar kerja cepat. Katanya masih nunggu dokter, lalu nunggu sopir ambulans juga. Menurut saya responnya terlalu berbelit-belit. Kasihan korban harus segera ditolong," cerita Rahmad, Senin (15/7).
ADVERTISEMENT
(Agung Santoso)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·