• 2

Jurnal: Bangkok-Jakarta via Timnas

Jurnal: Bangkok-Jakarta via Timnas



Final Piala AFF 2016

Bentuk dukungan suporter Timnas Indonesia pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)

I
Bangkok, Kamis, 15 Desember 2016, setelah tiga setengah jam berada di pesawat, saya tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Ini akhir tahun. Musim liburan. Wajar kalau di kawasan imigrasi bandara terdapat antrean panjang. Turis, turis, dan turis.
Setelah keluar dari terminal kedatangan, urusan saya dengan bandara itu belum selesai. Saya memilih untuk menunggu Tim Nasional Indonesia mendarat di bandara yang sama pada pukul empat sore. Dua jam lebih saya menunggu, saya tak mendapatkan Timnas Indonesia tiba di pintu kedatangan B.
Justru rombongan pria berjas yang bergaya sangat parlente yang lebih dulu keluar dari pintu tersebut. Tak perlu waktu lama untuk mengenali rombongan itu karena setelah melihat beberapa wajah mereka, saya tahu jika itu adalah rombongan Tim Nasional Thailand. Saya pun langsung bergegas mendekati mereka untuk meminta wawancara.
Apesnya saya, tak ada satu pemain di rombongan depan yang mau diwawancarai. Dari Teerasil Dangda hingga Tristan Do semua menolak.
Ketika keberuntungan saya sepertinya akan sirna, satu orang yang berjalan paling belakang dari rombongan menyelamatkan saya. Orang tersebut adalah penjaga gawang utama Thailand, Kawin Thamsatchanan. Awalnya, ia tak mau membuka mulut. Namun, saya tak kehabisan akal. Saya mengajaknya berfoto dulu sebelum bertanya-tanya. Cara tersebut membuat suasana lebih cair dan kiper berusia 26 tahun itu pun mau membuka mulut. Beberapa komentar tentang laga final Piala AFF 2016 pun terlontar darinya.

Timnas Thailand Gelar Latihan Jelang Final AFF 2016

Kiper timnas Thailand, Kawin Thamsatchanan, saat latihan jelang final AFF Suzuki cup 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Jumat (16/12). Timnas Thailand bakal menjamu Indonesia pada laga leg kedua final Piala AFF 2016, Sabtu 17 Desember 2016 malam WIB. (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)

Misi mendapatkan komentar dari pemain Thailand berhasil. Tapi, tidak dengan pemain-pemain Indonesia. Beberapa saat kemudian, saya mendapat kabar kalau Boaz Solossa dan rekan-rekannya keluar lewat pintu lain. Mereka dijaga oleh rombongan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Thailand. Usaha saya menunggu berjam-jam pun runtuh begitu saja.
Tak apalah. Ini baru awal. Cerita mengenai Timnas Indonesia bisa saya dapatkan keesokan harinya. Saya pun langsung bergegas mencari taksi untuk meluncur ke hotel.
Di sepanjang rute menuju hotel, saya melihat ke luar: jalanan Bangkok lebar, ramai, dan terlihat rapi. Walau ada beberapa kemacetan, tapi itu tak berlangsung lama. Hanya sekitar satu kilometer mungkin. Sejam berlalu, saya sampai di hotel. Sempat terlintas di benak bahwa malam masih terlalu dini; tidak ada salahnya melihat-lihat suasana malam di Bangkok. Tapi, lelah dan kantuk membabat habis pikiran itu.

Thailand

Sejumlah penumpang melintasi zebra cross di bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Aditia Noviansyah)

II
Hotel tempat Timnas Indonesia menginap hanya berjarak 10 menit dari hotel saya —dengan menggunakan taksi. Pagi itu, pemain-pemain Timnas Indonesia belum menampakkan batang hidungnya. Pemain tak ada, ofisial demikian juga. Yang ada adalah Okie Agustina dan Risma Syahrozad, yang disebut pertama adalah istri Gunawan Dwi Cahyo dan yang kedua adalah kekasih Lerby Eliandry.
Ada hal menarik terlontar dari mulut Risma. Ternyata, tak hanya datang secara khusus untuk mendukung Lerby, ia juga datang untuk melakukan nazar yang telah dibuat olehnya dan Lerby: Lerby akan melamarnya langsung di Thailand jika Indonesia berhasil menjadi jawara Piala AFF 2016.
Tak lama setelah berbincang dengan keduanya, orang-orang yang saya tunggu sejak pagi tadi pun akhirnya turun ke lobi hotel: para pemain beserta beberapa ofisial tim. Mereka hendak berangkat untuk menunaikan ibadah Salat Jumat. Saya hendak bertanya satu atau dua hal kepada mereka. Tapi, hari itu para pemain sedang puasa bicara. Oleh pelatih mereka, Alfred Riedl, mereka memang diminta untuk fokus saja ke pertandingan.
"Jangan saya mas.. Yang lain saja," adalah kalimat andalan yang mereka ucapkan untuk menolak saya dan beberapa rekan wartawan lain. Dari Teja Paku Alam, Dedi Kusnandar, hingga Bayu Pradana melontarkan kalimat sakti itu kepada saya.
Hanya Gunawan Dwi Cahyo yang akhirnya mau membuka mulut. Itu pun singkat. Meski begitu, Gunawan dengan penuh percaya diri mengatakan, Indonesia datang ke Bangkok untuk mendapatkan kemenangan, bukan sekadar mengincar hasil imbang.
Lima menit perjalanan, kami telah sampai di Masjid Yamee-Unmuttaqeen. Setelah turun dari mobil, para pemain dan ofisial tim pun langsung bergegas menambil air wudhu dan tak lama kemudian mereka sudah duduk di dalam masjid, bersiap melaksanakan shalat. Tepat pukul satu, ibadah siang itu selesai. Seluruh pemain kembali ke mobil lalu menuju hotel.

00:00:00/00:00:00

Timnas Indonesia

Saya sendiri tidak mengikuti mereka. Setelah acara shalat di masjid itu, saya langsung menyetop taksi untuk pergi menuju Emerald Hotel, Bangkok, tempat akan dilangsungkannya konferensi pers menjelang final Piala AFF 2016. Sekitar empat puluh lima menit perjalanan saya untuk sampai di tempat tersebut.
Sesampainya di sana, saya menuju ke lantai tiga tempat acara berlangsung. Ruangan itu sudah dipenuhi dengan awak media. Di sudut sebelah kanan, duduk dua pelatih yang akan saling berhadapan di laga final. Kiatisuk Senamuang untuk Thailand dan Alfred Riedl untuk Indonesia. Keduanya tengah berbincang santai di sebuah sofa. Beberapa kali terlihat pula keduanya saling tersenyum karena candaannya masing-masing.
Kita, yang mengetahui bahwa Riedl amat jarang tersenyum, pastilah menganggap momen itu amat langka. Riedl yang tampak beku dan dingin itu mendadak tampak seperti ayah yang berbincang-bincang dengan anaknya —Kiatisuk.

Konferensi Pers Final AFF 2016

Konferensi Pers Menjelang Leg Kedua Final AFF 2016 antara timnas Thailand Vs Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah)

Namun, mimik muka Riedl berubah lagi begitu duduk di meja konferensi pers. Kaku, dingin, serius, seperti biasanya. Dari situ, perlawanannya untuk membawa Indonesia menjadi juara dimulai.
III
Ini harinya.
Pagi ini, pukul delapan saya sudah menyelesaikan sarapan di hotel. Hari ini, saya harus berangkat lebih pagi karena saya harus menuju hotel tempat Timnas Indonesia menginap. Alasannya, ada perayaan ultah salah satu pemain, yakni Manahati Lestusen. Selain itu, mereka juga akan melakukan latihan ringan di dekat hotel pada jam sembilan.
Di Hotel Grand Four Wings, tempat para pemain menginap, perayaan kecil-kecilan untuk Manahati itu dilakukan pada saat sarapan. Tak lama, datang kue dengan lilin kecil di atasnya yang diantarkan oleh seorang pramusaji. Tapi tak ada perayaan meriah dari para pemain karena mereka langsung buru-buru berjalan ke kamar masing-masing untuk bersiap melakukan latihan ringan.
Pukul sembilan lewat lima, semua pemain telah berkumpul di lobi hotel. Tak lama, mereka langsung berjalan menuju lapangan futsal yang berada tepat di sebelah hotel. Tiba di dalam lapangan, mereka langsung melakukan pemanasan. Setelah itu, permainan tangkap bola dilakukan oleh seluruh pemain dan mereka hanya melakukan itu saja selama 20 menit. Sesi latihan pun selesai.

Timnas Indonesia

Timnas Indonesia gelar latihan ringan jelang laga final melawan Thailand (Foto: Aditia Noviansyah)

Asisten Pelatih Timnas Indonesia, Wolfgang Pikal, mengungkapkan jika latihan itu dilakukan hanya untuk menjaga kebugaran para pemain sembari terus meningkatkan kekompakan mereka menjelang laga final yang akan berlangsung malamnya.
Pagi yang sunyi, diikuti oleh perayaan ulang tahun yang juga sunyi, serta sebuah sesi latihan yang tidak terlalu riuh. Timnas sedang menyimpan tenaganya untuk malam hari nanti.
Pukul empat sore, saya sudah berada di Stadion Rajamangala. Dan seperti yang telah saya duga, puluhan ribu orang telah memadati kawasan stadion. Beberapa ada yang sedang membeli pernak-pernik, membeli makanan, atau ada pula yang tengah berfoto. Suasana terlihat riang, sama sekali tidak tegang walau ini adalah laga final yang sangat menentukan dan Thailand tengah dalam posisi tertinggal —ingat, di leg pertama Thailand kalah 1-2.
Di lautan biru itu, saya melihat beberapa orang memaikai baju merah, seragam Tim Nasional Indonesia. Beberapa di antara mereka datang lantaran digerakkan oleh sebuah impian: melihat Indonesia menjadi juara Piala AFF untuk yang pertama kalinya.

Suasana Rajamangala National Stadium di Thailand

Para pendukung sepakbola mulai memasuki Rajamangala National Stadium (Foto: Bergas Brilianto)

Pukul lima, setelah melewati antrean yang mengular, puluhan ribu penonton telah masuk ke area lingkaran stadion. Di area itu mereka harus mengantre lagi sebelum bisa duduk di tribun stadion. Tak seperti di Indonesia, antrean di Stadion Rajamangala terlihat rapi dan tertib. Singkatnya, para penonton mudah diatur dan pihak keamanan pun mengatur dengan cara sangat manusiawi. Pun ketika bus pemain Indonesia tiba, tak ada ejekan yang dilakukan mereka.
Hingga pukul enam, mereka semua akhirnya sudah duduk di dalam stadion. Saya sendiri masih berkeliling di area lingkaran stadion, sekadar melihat-lihat situasi yang sudah mulai sepi. Tak ada antrean penonton yang tidak bisa masuk ke dalam stadion di sana. Juga, tak ada layar lebar yang disediakan oleh panitia penyelenggara.
Pukul setengah tujuh kurang, akhirnya saya memutuskan masuk ke dalam Rajamangala. Stadion sudah penuh dan para suporter Thailand tengah melakukan yel-yel. Beberapa atraksi pun mereka tunjukkan di stadion. Tak lama stadion semakin meriah ketika kedua kesebelasan masuk ke lapangan untuk melakukan pemanasan.

Final Piala AFF 2016

Bentuk dukungan suporter Timnas Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)

Ketika 22 pemain keluar ke lapangan untuk bersiap berlaga di atas lapangan, penonton di dalam stadion semakin meriah. Yel-yel, nyanyian-nyanyian, dan atraksi-atraksi semakin bagus diperagakan mereka. Satu bendera raksasa pun dikibarkan di tribun timur. Ketika lagu kebangsaan Indonesia dikumandangkan, kemeriahan itu langsung berubah sunyi. Hebatnya, tak ada sorakan dari para pendukung Thailand untuk lagu Indonesia Raya. Sesuatu yang langka jika lagu kebangsaan negara lawan sedang dikumandangkan di stadion-stadion Indonesia.
Malam itu, pada akhirnya, kita semua tahu ujung ceritanya.
Ada teriakan pecah begitu wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan. Dan kita tahu, teriakan itu, yang tentu saja adalah teriakan rasa senang yang meletup-letup, bukan berasal dari pendukung Indonesia.
Malam itu, kita (Indonesia) kalah lagi.

Final Piala AFF 2016

Pesepak bola Indonesia, Dedi Kusnandar (11) dan Boas Salossa (7) mengekspresikan kesedihan usai Indonesia dikalahkan Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)

Begitu kapten sekaligus striker Thailand, Teerasil Dangda, mengangkat Piala AFF —kelima untuk Thailand— saya memutuskan meninggalkan tribun, dan bergegas ke ruang konferensi pers.
Ketika saya sampai, Riedl dan Pikal sudah tiba di ruang konferensi pers. Mereka adalah pelatih dan asisten pelatih dari tim yang baru saja kalah. Tapi, malam itu, melihat Riedl dan Pikal mendapatkan tepuk tangan riuh dari jurnalis Indonesia, saya tahu bahwa mereka sudah jadi pemenang dengan sendirinya di mata penduduk negeri seribu pulau tersebut.
Saya duduk sejenak setelah semuanya selesai. Ketika saya duduk di ruangan yang sudah mulai sepi itu, ada mimpi banyak rakyat Indonesia yang terbang dan melenyap di langit Rajamangala.
Dua jam berlalu, saya masih ada di kawasan stadion. Saya kembali masuk ke stadion yang sudah kosong, berfoto bersama awak media lain. Beberapa lubang terlihat di rumput, mungkin itu akibat tekel Hansamu Yama kepada Dangda. Mungkin juga itu akibat terjangan Abduh Lestaluhu kepada Tristan Do di sisi kiri pertahanan Indonesia.
Lapangan terang, tapi seluruh tribun yang tadi dipenuhi puluhan ribu manusia telah gelap.
IV
Pukul sepuluh pagi.
Saya baru memulai sarapan di hotel. Tak ada agenda pagi hari ini. Agenda saya hanya menuju Bandara Suvarnabhumi untuk kembali ke Jakarta. Pukul 11 saya sampai di bandara megah itu lagi.


Timnas Indonesia

Rombongan Timnas Indonesia terlihat menunggu di ruang bandara. (Foto: Bergas Brilianto)


Di ruang check-in, saya melihat rombongan Timnas Indonesia sedang menunggu. Rupanya, mereka satu pesawat dengan saya. Melihat itu, saya pun langsung mengajak mereka mengobrol. Ada pula beberapa yang berhasil saya wawancarai.
Stefano Lilipaly, salah satu pemain yang mau saya tanya-tanya siang itu mengungkapkan jika trofi hanyalah simbol. Menurutnya, Indonesia telah berhasil meraih juara dengan caranya sendiri.
Selain Lilipaly, Lerby berbicara kepada saya jika semua hal harus disyukuri dan Thailand memang tampil baik. Kekecewaan masih ada dalam raut wajah mereka, tapi kini mereka sudah sedikit santai. Beberapa pun sudah mulai bercanda.


Pukul setengah dua, saya sudah di dalam ruang tunggu untuk menuju ke pesawat. Di situ, terdapat pula rombongan pemain Indonesia yang menunggu sembari mendengarkan lagu atau mengobrol. Sebagian lain baru sampai setelah berbelanja di toko pernak-pernik yang ada di dalam bandara. Tak lama, panggilan untuk segera masuk ke pesawat diumumkan. Saya dan mereka pun bergegas masuk.
Sampai di atas pesawat, mereka duduk tertib sembari diiringi tepuk tangan ketika seorang pramugari mengucapkan selamat datang. Ketika pesawat berjalan, beberapa pemain mengambil posisi untuk tidur. Beberapa lain masih asyik mendengarkan musik. Pesawat lepas landas dan tiga setengah jam kemudian kami telah sampai di Jakarta setelah melewati ketegangan karena cuaca sempat memburuk.
Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, mereka langsung kembali disambut meriah oleh awak media dan para suporter yang telah menunggu. Tak hanya itu, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, pun datang untuk mengalungkan bunga menyambut kedatangan mereka. Di situ juga hadir Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh indonesia, Edy Rahmayadi, yang turut datang menyambut.

Timnas Indonesia disambut oleh warga Indonesia

Timnas Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah)

Pukul tujuh malam, para pemain masuk ke dalam bus yang telah menunggu mereka dan kemudian pergi meninggalkan bandara. Tugas mereka purna sudah.
Bangkok-Jakarta
15-18 Desember 2016

SportsSepak BolaPiala AFF 2016Timnas Indonesia

500

Baca Lainnya