• 2

"Kalau PSSI Cari Pelatih, Jangan Tanggung-tanggung"

"Kalau PSSI Cari Pelatih, Jangan Tanggung-tanggung"


Timnas Indonesia (ilustrasi)

Timnas Indonesia merayakan gol ke gawang Thailand di leg 1 final PIala AFF 2016 (ilustrasi). (Foto: Aditia Noviansyah )
"Poinnya secara tersirat menunjukan bahwa kalau PSSI cari pelatih diharapkan jangan tanggung-tanggung."
Itu kalimat yang terlontar dari Juru Bicara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot S Dewa Broto, ketika ditanyai kumparan perihal pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi yang mengusulkan sosok Guus Hiddink menjadi juru taktik Tim Nasional Indonesia.
Ini bukanlah pertama kalinya usulan mendatangkan pelatih top demi prestasi instan datang dari petinggi negara. Susilo Bambang Yudhoyono, ketika masih menjabat sebagai presiden, pernah mengusulkan agar PSSI mendatangkan Fatih Terim sebagai pelatih tim nasional.

Imam Nahrawi

Imam Nahrawi Menteri pemuda dan Olahrag (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Anggapannya, dengan mendatangkan pelatih top, prestasi tim nasional otomatis terangkat. Padahal, dalam banyak kasus, seringkali federasi sepak bola sebuah negara terlebih dulu membenahi kompetisi agar tim nasionalnya mendapatkan keuntungan dari pemain-pemain yang berlaga di kompetisi tersebut.
Jerman, contohnya. Usai gagal total di Piala Eropa 2000, federasi sepak bolanya (DFB) langsung berbenah. Presiden DFB saat itu, Gerhard Mayer-Vorfelder, langsung mencetuskan sebuah program bernama Das Talentfoerderprogramm (Program Pengembangan Bakat) pada 2003.
Tetapi, tidak hanya mengembangkan bakat pemain, DFB juga mengembangkan kemampuan para pelatih. Maka, tak heran, kini pemain-pemain muda terus bermunculan dari Bundesliga Jerman. Demikian juga dengan pelatih-pelatih jempolan. Kini, di Bundesliga ada nama-nama seperti Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann yang terhitung cukup muda di dunia kepelatihan.

Thomas Tuchel

Thomas Tuchel saat memimpin Borussia Dortmund berlaga. (Foto: Christof Koepsel/Getty Images)
"Kemarin sudah cukup, tetap yang selanjutnya harus lebih tinggi levelnya," ucap Gatot kemudian, menjelaskan bagaimana keinginan dari Menpora.
Padahal baru di pertengahan Desember kemarin Alfred Riedl mendapatkan pujian selangit. Kendati pun lagi-lagi gagal menjadi juara, Riedl dianggap sudah cukup sukses dengan membawa Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2016. Apalagi jika melihat berbagai batasan yang ia terima.
Riedl, yang kerap duduk di bench dengan wajah dingin itu, tidak bisa membawa skuat terbaik karena ada batasan maksimal memanggil dua pemain saja dari tiap-tiap klub. Sudah begitu, Indonesia baru bisa bermain di kancah internasional lagi setelah dibekukan oleh FIFA.

Wolfgang Pikal dan Alfred Riedl

Wolfgang Pikal bersama Alfred Riedl dalam laga final leg kedua Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala. (Foto: AFF)
Ketika ditanya perihal pentingnya pembinaan dan kompetisi untuk memunculkan pemain-pemain berkualitas dan membuat Timnas Indonesia lebih kuat, Gatot mengungkapkan jika Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai pemilik wewenang harus tahu mana hal yang perlu menjadi prioritas.
"Banyak hal yang harus dilakukan. PSSI perlu membuat grand desain (organisasi) lebih dulu. Dan dari situ ada yang diprioritaskan, termasuk pelatih karena (dalam waktu dekat) ada ajang SEA Games," ujarnya.
Sementara itu, pihak PSSI yang diwakili oleh sang wakil ketua umum, Joko Driyono, mengungkapkan pernyataan diplomatis ketika kumparan bertanya perihal sosok Guus Hiddink yang diinginkan oleh Menpora.

(Cover) Ketum PSSI Letjen Edy Rahmayadi dan Wakil Ketua Djoko Driyono

Ketum PSSI Letjen Edy Rahmayadi (tengah) bersama dengan Wakil Ketua Djoko Driyono (kiri) menyaksikan latihan tim nasional sepakbola Indonesia di Tangerang, Banten. (Foto: Muhammad Iqbal)
Menurut pria yang juga menjabat sebagai CEO PT Gelora Trisula Semesta (GTS) itu, yang terpenting saat ini adalah PSSI menjalankan program-programnya sembari juga bersinergi dengan pemerintah (dalam hal ini Kemenpora). Dan urusan pelatih akan diputuskan pada Kongres Biasa yang akan berlangsung di Bandung pada 8 Agustus mendatang.
"Prinsipnya, PSSI akan memutuskan siapa pelatih Timnas pada bulan Januari 2017. Terpenting sepak bola Indonesia fokus, serius, dan konsisten terhadap program terbaiknya. Agar bisa kompetitif di kompetisi global," ujar Jokdri -sapaan akrabnya- kepada kumparan.

SportsSepak BolaTimnas Indonesia

500

Baca Lainnya