• 3

Mendatangkan Hiddink Bukan Jawaban untuk Timnas Indonesia

Mendatangkan Hiddink Bukan Jawaban untuk Timnas Indonesia


Guus Hiddink

Hiddink saat memimpin Timnas Belanda menghadapi Timnas Turki. (Foto: Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)
Sabtu (17/12/2016) malam di Stadion Rajamangala, Bangkok, tuan rumah Thailand berhasil meraih gelar juara Piala AFF 2016. Itu adalah gelar kelima pasukan "Gajah Perang" pada ajang sepak bola paling bergengsi di Asia Tenggara tersebut.
Sebaliknya, Indonesia yang dikalahkan di Rajamangala dalam laga final itu, harus merasakan menjadi runner-up untuk yang kelima kali. Perjalanan Indonesia, lagi-lagi mentok hanya sampai laga final.
Soal prestasi di sepak bola, Thailand memang benar-benar telah jauh meninggalkan Indonesia.

Final Piala AFF 2016

Pesepak bola Indonesia, Stefano Janjte Lilipaly (8) mengekspresikan kesedihan usai indonesia ditaklukan Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12) (Foto: Aditia Noviansyah)
***
"Seperti Guus Hiddink, misalnya. Boleh saja didatangkan," ujar Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Alasan Menpora jelas: untuk meningkatkan prestasi Timnas Indonesia. Mendatangkan pelatih top dunia, seperti Hiddink, dianggap akan secara cepat mendatangkan prestasi untuk "Skuat Garuda".
Tapi apakah benar demikian? Mari kita mencoba berkaca dari Thailand.
Thailand menjuarai Piala AFF berturut-turut pada 2014 dan 2016 dengan menggunakan jasa pelatih lokal dalam sosok Kiatisuk Senamuang. Perlu diketahui pula, Kiatisuk baru berusia 40 tahun ketika ditunjuk sebagai pelatih. Prestasi ia sebelumnya kala menjadi juru taktik juga tak terlalu mentereng. Dirinya hanya berhasil menjuarai Vietnam National Cup bersama Hoang Anh Gia Lai pada 2010 dan satu tahun sebelumnya hanya memenangi Kor Royal Cup (semacam Community Shield-nya Thailad) bersama Chonburi.

Final Piala AFF 2016

Pesepak bola Thailand merayakan gol usai mencetak dua poin ke gawang Indonesia pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)
Jelas jika menengok Thailand, alasan menggunakan pelatih top sebagai pendongkrak prestasi tim nasional bukanlah argumen yang tepat. "Negeri Gajah Putih" juga pernah merasakannya sendiri. Pada medio 2009 hingga 2011 mereka menggunakan jasa pelatih asing yang didatangkan langsung dari Inggris dalam sosok Bryan Robson. Nyatanya, legenda Manchester United itu tak mampu berbuat banyak. Thailand kandas di babak grup Piala AFF 2010 di bawah kendalinya.
Justru di bawah asuhan Kiatisuk yang notabene merupakan pelatih muda, Thailand mampu meraih kesuksesan. Nama besar memang nyatanya tak bisa berbicara banyak dalam hal ini. Kunci keberhasilan Thailand adalah dengan membangun fondasi timnas senior dengan bertumpu pada pemain-pemain muda. 
Selain itu, pembinaan dengan mengandalkan klub-klub yang memiliki akademi sejak usia dini juga mempermudah mereka membentuk tim nasional yang kuat. Kiatisuk berhasil dengan sebuah proses panjang yang tak hanya dijalaninya dan para pemain, tetapi juga bersama klub-klub dan federasi lewat kompetisi yang rapi. Itulah, apa yang tidak dilakukan Indonesia. Dan karenanya, Boaz Solossa dan kawan-kawan gagal di Rajamangala.

Final Piala AFF 2016

Selebrasi kemenangan Timnas Thailand pada ajang AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12). (Foto: Aditia Noviansyah)
Jelas apa yang dilakukan Thailand itu bisa menjadi cerminan Indonesia. Mendatangkan pelatih top dengan nilai kontrak yang sangat mahal nyatanya belum tentu bisa secara instan memberikan prestasi. PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia atau Menpora sendiri, mungkin bisa mementingkan pembinaan atau kompetisi, alih-alih uangnya digunakan untuk memakai jasa pelatih dengan nama besar.
Eks Pelatih Tim Nasional Indonesia U-19, Indra Sjafri, juga menganggap yang seharusnya menjadi sorotan PSSI atau Menpora saat ini adalah soal peningkatan kualitas pemain. "Kalau untuk World Cup, saya setuju (Guus Hiddink jadi pelatih Timnas). Tapi tentu dengan syarat kualitas pemain harus diperbaiki," ungkapnya kepada kumparan
Menurut pelatih terakhir yang menghadirkan gelar untuk Timnas Indonesia (U-19) itu, kompetisi yang ada untuk pemain-pemain muda juga harus jadi hal yang paling penting untuk disorot dan perlu diperbaiki. Dengan itu, pemain-pemain berkualitas akan muncul dengan sendirinya. "Kompetisi harus lebih baik agar semakin efektif dalam soal scouting pemain," tambahnya.
Ketika dirinya membentuk Timnas U-19 yang menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013 lalu, pria asal Sumatera Barat itu harus blusukan ke daerah-daerah untuk mencari pemain-pemain berkualitas. Senada dengan Indra Sjafri, Asisten Pelatih Timnas di Piala AFF 2016 lalu, Wolfgang Pikal, juga menekankan jika pembinaan dan kompetisi adalah hal terpenting untuk membentuk tim nasional yang kuat ketimbang mendatangkan pelatih sekaliber Guus Hiddink.

Timnas Indonesia

Pemain Timnas Indonesia merayakan keberhasilannya memenangi partai leg 1 semifinal Piala AFF 2016 melawan Vietnam (Foto: Aditya Novinasyah)
"Tingkatkan diklat (pendidikan latihan) di semua provinsi, akademi klub, juga infrastruktur liga. Kualitas dan kuantitas pelatih lokal juga harus ditingkatkan. Juga soal liga usia muda, scouting, dan identivikasi pemain-pemain muda, semua harus dengan parameter yang jelas," ujar Pikal kepada kumparan.
"Semua memang tidak akan langsung sempurna. Tetapi kita harus mulai dari satu titik dan ciptakan cara Indonesia sendiri. Kita tidak bisa tiru langsung cara negara lain. Namun kita bisa ambil konsep dan idenya, kemudian jalankan dengan cara Indonesia," tambah pria berusia 49 tahun itu.
Thailand menunjukkan, timnas yang kuat dan berprestasi bukan hanya karena sosok pelatih saja. Lebih dari itu, pembinaan, kompetisi, dan kualitas pemain memang adalah hal yang pokok.

SportsSepak BolaTimnas Indonesia

500

Baca Lainnya