• 2

Pikal: Orang yang Berteriak Paling Lantang di Rajamangala

Pikal: Orang yang Berteriak Paling Lantang di Rajamangala



Wolfgang Pikal, Asisten Pelatih Timnas

Wolfgang Pikal, Asisten Pelatih Timnas (Foto: Bergas Brilianto)

Namanya Wolfgang Pikal. Dia adalah orang yang berteriak paling lantang di Rajamangala Sabtu lalu.
Hari itu, Sabtu, 17 Desember malam hari, Pikal, yang bertugas sebagai asisten pelatih Tim Nasional Indonesia, berteriak-teriak di pinggir lapangan Stadion Rajamangala, Bangkok. Hampir sepanjang pertandingan ia melakukannya.
Dari gerakannya, ia terlihat meminta anak-anak asuhnya untuk bermain lebih semangat dan mampu merebut bola secepat mungkin dari pemain-pemain Thailand. Namun, Indonesia akhirnya kalah 0-2 dari Thailand, menenggelamkan teriakan-teriakan lantang Pikal malam itu.
Pikal memang bukan pelatih kepala Timnas Indonesia. Tapi, dialah kepanjangan tangan pelatih Alfred Riedl. Teriakan-teriakan Pikal adalah suara Riedl juga, yang lebih sering duduk di bench dengan wajah yang dingin.

Final Piala AFF 2016

Aksi Pemain Indonesia dalam pertandingan Final Piala AFF 2016 (Foto: Aditia Noviansyah)

Sesekali, Riedl memang berdiri dan langsung memberikan instruksi untuk pemain-pemain Timnas Indonesia. Namun, dalam banyak kesempatan, asistennya itu yang lebih sering melakukannya. Sudah dalam tiga gelaran Piala AFF (2010, 2014, 2016) Pikal melakukannya.
Tak hanya itu, Pikal pun kerap menggantikan tugas Riedl dalam hal melayani wawancara, memantau pemain di klub masing-masing, hingga berbicara dari hati ke hati kepada para pemain. Wajar, pasalnya Pikal amat fasih berbahasa Indonesia.
Kumparan sempat berbincang dengan sosok yang selalu bersama Riedl ketika menjadi Pelatih Timnas Indonesia itu. Dia pun menceritakan bagaimana kedatangannya ke Indonesia, kerjasamanya dengan Riedl, hingga apa yang ingin dilakukannya setelah gelaran Piala AFF 2016 ini selesai.
Bali Membuka Karier Kepelatihannya
1989 adalah tahun yang sangat dikenang oleh Pikal. Untuk pertama kalinya, pria asal Austria itu menginjakkan kaki di tanah Indonesia. Kala itu ia mengunjungi Bali untuk sekadar berlibur. Pria kelahiran Wina itu langsung jatuh hati.
Enam tahun berselang, masih di Bumi Dewata, ia memutuskan menjadi mualaf guna mempersunting seorang perempuan lokal bernama Tina Rostina Gondokusumo. Setahun berselang, Pikal menikah dengan wanita itu dan memutuskan tinggal di Bali.
Empat tahun setelah menikah dengan Tina, Pikal memulai keriernya sebagai pelatih. Waktu itu ia diajak oleh rekannya asal Belanda, Dick Buitelaar, untuk menjadi asisten pelatih di klub Perseden Denpasar.
Pikal tak menolak. Sebagai pria yang pensiun dini sebagai pemain sepak bola, pertemuannya dengan Buitelaar mengubah peruntungannya untuk bisa kembali berkarier di dunia sepak bola.
"Saya bukan pemain hebat. Sebelum pensiun karena cedera, saya hanya bermain untuk klub divisi tiga Austria," ucap Pikal kepada kumparan.

Wolfgang Pikal

Pikal saat ditemui kumparan di hotel tempat Timnas Indonesia menginap di Bangkok. (Foto: Bergas Brilianto)

Pria tinggi besar itu pensiun di usia 22 tahun dari klubnya, SR Donaufeld, karena cedera patah kaki. Pikal tak sempat menikmati karier sebagai seorang pesepak bola. Beruntung sebagai pelatih, kariernya cukup baik. Sejak menjadi asisten pelatih di tahun 1999 itu, Pikal semakin giat mengikuti kursus kepelatihan. Kini, pria berusia 49 tahun itu telah memiliki 21 lisensi kepelatihan sepak bola.
"Saya memiliki 21 lisensi kepelatihan sepak bola. Salah satunya bahkan soal sistem manajemen sumber daya manusia. Saya rasa itu penting karena sebagai pelatih kita memanajemen manusia," tambahnya.
Lisensi tertingginya adalah AFC A. Namun, ia juga memiliki lisensi B UEFA, lisensi A dari Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB), serta lisensi dari Federasi Sepak Bola Inggris. Pikal pun pernah mencari ilmu kepelatihan di beberapa klub top Eropa seperti Arsenal, Ajax Amsterdam, dan Aston Villa. Pikal memang benar-benar serius dengan karier kepelatihannya. Kegagalan sebagai pesepak bola tak ingin diulanginya sebagai pelatih.
Awal Pertemuan dengan Alfred Riedl
Tahun 2008, Pikal berkenalan dengan pria asal Austria lain, yakni Alfred Riedl. Kala itu, keduanya bertemu di Vietnam, tempat Riedl sedang berkarier sebagai pelatih klub setempat, Hai Phong. Dua tahun berselang, setelah Riedl menyelesaikan tugasnya sebagai Pelatih Tim Nasional Laos, Pikal mempertemukannya dengan para petinggi PSSI. Pucuk dicinta ulam pun tiba, PSSI tak lama setelah itu langsung menunjuk Riedl sebagai pelatih Timnas Indonesia.
"Saya sebenarnya tak memberikan penawaran apapun kepada Riedl. Saya hanya memperkenalkannya dengan para petinggi PSSI," jelas Pikal.
Riedl pun tak ingin sendiri menukangi "Skuat Garuda". Maka, sebagai sesama orang Austria yang telah lama mengenal dan tinggal di Indonesia, maka diajaklah Pikal sebagai asistennya. Debut kompetisi keduanya terjadi di Piala AFF 2010. Sayang, kala itu keduanya gagal membawa Firman Utina dan kawan-kawan keluar sebagai kampiun. Tapi, membawa Indonesia sebagai runner-up pun telah membuat keduanya banyak meraih pujian dan dikenal publik Indonesia.

Pelatih Timnas Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016

Pelatih kepala timnnas Indonesia Alfred Riedl menggelar latihan untuk menghadapi final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Karawaci, Tangerang, Senin (12/12/2016). Timnas Indonesia akan kembali tampil di depan puluhan ribu suporternya saat menjamu Timnas Thailand di leg pertama Final Piala AFF 2016 yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (14/12/2016). (Foto: Aditia Noviansyah/Kumparan)

Berkat namanya yang mencuat itu pula Pikal banyak mendapat tawaran untuk melatih klub-klub Indonesia. Pada tahun 2012, Pikal mendapat kepercayaan menjadi pelatih kepala di klub raksasa Indonesia, Arema Cronus, dalam kompetisi Indonesia Super League. Sayangnya, kariernya di Malang tak bertahan lama. Tiga kekalahan dan satu hasil imbang membuatnya dilengserkan dari kursi pelatih.
Pada tahun 2013, berbarengan ditunjuknya kembali  Riedl sebagai Pelatih Timnas, Pikal kembali ikut serta. Setahun berselang, keduanya gagal total di Piala AFF 2014. Tapi, pada Piala AFF 2016 lalu, duo Austria itu masih menjadi tulang punggung di kursi pelatih Indonesia. Sayang memang gelar juara tak mampu diraih pada gelaran ketiga mereka ini. Karier keduanya pun kini diujung tanduk karena belum ada kabar soal perpanjangan kontrak —yang sedianya berakhir pada akhir Desember ini.
Masih Siap Membantu Indonesia
Setengah jam lebih setelah Indonesia dipastikan menjadi peringkat kedua di ajang Piala AFF 2016, kumparan menunggu rombongan Timnas Indonesia keluar menuju bus di area mixed-zone. Tak lama menunggu, satu per satu pemain keluar dari dalam stadion. Setelah para pemain seluruhnya telah masuk ke dalam bus, giliran ofisial menyusul. Riedl berjalan melewati mixed-zone tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Di belakangnya, Pikal menyusul. Namun, tak seperti seniornya itu, pria dua anak ini berhenti ketika namanya dipanggil. Tak hanya itu, ia pun mau meladeni beberapa pertanyaan formal tentang pertandingan. Sampai akhirnya, sebuah pertanyaan soal masa depannya bersama Timnas Indonesia terlontar.
"Kita lihat nanti. Jika dipanggil PSSI saya selalu siap. Kalau mereka minta saya untuk suatu posisi saya akan siap," ujar Pikal.
Jelas dengan kalimat singkat itu, Pikal mengisyaratkan jika dirinya masih berminat berada di kursi staf kepelatihan Timnas Indonesia. Sekali pun itu hanya kembali menjadi asisten pelatih dari seorang Alfred Riedl. Tapi, Pikal juga menekankan jika ia tertarik untuk bisa mengembangkan dan meningkatkan pembinaan usia muda. Cita-citanya untuk bisa memajukan sepak bola Indonesia begitu besar.

Wolfgang Pikal dan Alfred Riedl

Wolfgang Pikal bersama Alfred Riedl dalam laga final leg kedua Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala. (Foto: AFF)

Namun, ketika kumparan bertanya soal bagaimana kemungkinan dirinya menangani sebuah klub, Pikal justru sedikit enggan. Alasanya, banyak klub yang belum bisa profesional, terutama dalam urusan mengelola pemain.
"Saya orang yang profesional. Gaji tidak masalah, yang penting klub itu profesional.”
Terakhir, ia bicara soal bagaimana Indonesia seharusnya meningkatkan pembinaan usia dini, menumbuhkan, dan mengedukasi pemain sejak akar-akarnya.
***
Mengenakan kemeja putih dan celana jeans, serta memakai kacamata hitam, Pikal masuk ke kabin belakang pesawat untuk menyapa sebentar para pemain. Hari itu, sehari setelah pertandingan di Rajamangala, Timnas Indonesia langsung pulang ke tanah air.
Tak lama, Pikal bergegas ke depan, ke kabin bisnis, untuk duduk di sebelah sang rekan, sang senior, yang selama ini selalu bersamanya, Riedl.
Ia mungkin kerap berada di samping Riedl. Tapi kerap kali, justru ialah yang berada paling depan. Seperti pada malam sendu di pinggir lapangan Stadion Rajamangala.

Sepak BolaPiala AFF 2016Timnas IndonesiaSports

500

Baca Lainnya