• 0

USER STORY

Riedl Masih Jadi Orang yang Tepat untuk Duduk di Kursi Itu

Riedl Masih Jadi Orang yang Tepat untuk Duduk di Kursi Itu


Siapa yang akan mengisi kursi pelatih Tim Nasional Indonesia masih menjadi tanda tanya. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang memiliki wewenang untuk menentukan siapa orang yang tepat juga belum memutuskan. Kini, seluruh penikmat sepak bola di Tanah Air sedang bertanya-tanya.
Selain itu, sorotan kini mengarah kepada Alfred Riedl, pria terakhir yang mengisi jabatan itu. Setelah gagal membawa 'Skuat Garuda' meraih gelar Piala AFF 2016 dan hanya menjadi runner-up untuk yang kelima kalinya, nasib Riedl memang masih menjadi tanda tanya. Secara pribadi, dirinya mengaku siap untuk melanjutkan karier sebagai pelatih Timnas. Tapi di satu sisi, banyak pihak yang ingin pria asal Austria itu mundur.
Riedl, yang telah menangani Timnas Indonesia di tiga Piala AFF berbeda, dianggap sudah habis dan prestasinya hanya mentok sekadar runner-up saja. Karenanya, sangat sedikit pihak yang meyakini jika kembali diberi kesempatan, Riedl akan bisa memberikan gelar untuk 'Skuat Garuda'. Mereka tak ingin PSSI memutar kaset kusut berulang-ulang kali.
Sesungguhnya, jika melihat apa yang telah dilakukan Riedl di Piala AFF 2016 lalu, ada harapan terang yang menunggu Timnas Indonesia jika dirinya masih berada di kursi pelatih. Mengapa demikian? Kami mencoba memberikan alasannya.
Riedl tengah membangun tim dengan fondasi yang baik
Perlu diketahui, dari daftar 40 nama yang didaftarkan Tim Nasional Indonesia untuk gelaran Piala AFF 2016, ada 13 pemain berusia 23 tahun ke bawah. Sementara itu, hanya ada enam pemain yang berusia 30 tahun lebih. Itu berarti, pemain-pemain sisanya saat ini sedang berada dalam usia emas. 
Artinya, jika Riedl masih diberi kesempatan untuk melatih 'Skuat Garuda' hingga Piala AFF mendatang pun pemain-pemain yang dipilihnya tak akan banyak berubah dan itu berarti, fondasi yang telah dibangun ini akan menjadi tim yang matang dan kuat.
Belum lagi, pada rentang dua tahun sebelum Piala AFF 2018 nanti bergulir, akan ada gelaran SEA Games dan Asian Games yang akan diikuti oleh Tim Nasional Indonesia U-23. Karenanya, dua ajang tersebut pun bisa digunakan Riedl untuk menyeleksi dan memonitor pemain-pemain muda yang memang menjadi fondasi tim senior.
Sepak bola seperti yang kita tahu bukanlah sebuah hal yang instan, karena itu proses adalah segalanya. Tentu, untuk membangun tim nasional yang kuat, dibutuhkan proses yang panjang. Dan memberikan kembali tugas pelatih kepada Riedl untuk membangun apa yang sudah ia mulai adalah sebuah hal yang masuk akal, alih-alih mengutus Guus Hiddink sebagai pelatih berikutnya.
Dengan pembatasan saja bisa menjadi runner-up, bagaimana jika diberi kebebasan?
Kita semua tentu tahu, sebelum Piala AFF 2016 bergulir, banyak pihak yang tak yakin Indonesia akan mampu menembus partai final dan mampu mengalahkan Thailand di salah satu laganya. Alasan yang paling kuat dari tanggapan miring itu adalah karena 'Skuat Garuda' terbang ke Filipina dengan keterbatasan.
Beberapa bulan sebelum gelaran dua tahunan itu bergulir, PSSI memutuskan melakukan kebijakan konyol: membatasi hanya dua pemain per klub yang boleh memperkuat tim nasional. Lantas, keputusan itu langsung mendapat cemoohan publik. Karena pembatasan pemain jelas akan mempengaruhi kualitas Timnas kita.
Tapi Riedl, pria 67 tahun asal Austria, mampu membalikan tanggapan miring itu. Riedl dengan keterbatasan pemain yang dimilikinya, bisa menghasilkan tim yang kuat. Jika kata kuat terlalu berlebihan menurut Anda, tengoklah bagaimana Boaz Solossa dan kawan-kawan mampu menahan imbang Filipina, menaklukkan Singapura, menyingkirkan Vietnam, dan merepotkan Thailand. 
Dengan polesan sederhana -formasi klasik 4-4-2, bermain bertahan di area lapangan sendiri, dan mengandalkan serangan balik cepat dalam menyerang- Riedl membuat Indonesia mengakhiri kompetisi di peringkat kedua. Peringkat yang tak diinginkan, tapi juga tak disangka-sangka oleh banyak pihak sebelum turnamen berlangsung.
Jika itu dengan keterbatasan pemain, bagaimana kalau Riedl diberi kebebasan memilih pemain yang ia mau untuk membangun skuatnya. Mungkin banyak yang akan menyebut Piala AFF 2010 atau 2014 sebagai contoh, tapi nyatanya kondisi itu berbeda saat ini. Riedl jelas telah belajar dari kegagalan di dua AFF perdananya itu, pun dengan Piala AFF 2016 lalu.
Karena itu, ia melakukan perubahan, dengan membangun fondasi yang diisi oleh para pemain-pemain muda. Riedl tahu, mengandalkan pemain-pemain tua atau banyak memasukan pemain naturalisasi ke dalam skuatnya tidak akan membuat Indonesia berprestasi, apalagi berkembang. Dan untuk membangun fondasi itu agar semakin kuat, eks juru taktik Vietnam itu membutuhkan kebebasan dalam hal memilih pemain.
Dalam konferensi pers pascalaga final leg kedua di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12/2016) lalu, Riedl berkata sendiri melalui mulutnya jika soal hal itu. Bahkan, ia berani menjami jika kebebasan diberikan, menaklukkan Thailand bukanlah hanya sebuah mitos.
"Untuk membangun tim nasional yang semakin kuat kami harus mendapat lebih banyak kebebasan. Tidak dengan situasi yang sulit seperti ini. Dan dengan itu, dalam dua tahun lagi kami akan bisa menantang Thailand," ujarnya optimistis.
Jelas jika optimisme itu sangat masuk akal. Dengan fondasi yang ada, ditambah keleluasaan dalam memilih pemain, sampai menentukan lawan latih tanding, diyakini Tim Nasional Indonesia akan bisa menjadi lebih kuat. 
Atau kalau Anda perlu contoh, tengok saja Pelatih Thailand saat ini, Kiatisuk Senamuang, yang telah membangun fondasi tim yang kini menjuarai Piala AFF 2016 itu sejak tahun 2013 lalu. Karenanya tak heran jika ia berhasil memunculkan seorang Chanatip Songkrasin yang di usia 23 tahun, sudah dua kali terpilih menjadi pemain terbaik Piala AFF. Perlu dicatat, Kiatisuk diberi kebebasan memilih pemain oleh Federasi Sepak Bola Thailand (FAT). 
Masuk akal tentu jika pada 2018 nanti, Indonesia akan bisa mengikuti jejak Thailand, dan apa yang telah dilakukan Kiatisuk juga akan bisa dilakukan Riedl.
Riedl telah tahu karakter pemain dan karakternya juga dibutuhkan untuk tim
Sebagai pelatih yang telah menangani Timnas Indonesia di tiga edisi Piala AFF berbeda, Riedl jelas telah tahu bagaimana karakter pemain-pemain Indonesia kebanyakan. Begitu pun soal kualitas dan pendekatan taktik yang perlu diterapkan untuk para pemain-pemain Indonesia, Riedl sudah tak perlu lagi memerlukan adaptasi. Karena itu, jika ia meneruskan perjalanannya di kursi pelatih Timnas, ia hanya tinggal meneruskan apa yang sudah dimulainya.
Sebaliknya, karakter pelatih seperti Riedl adalah apa yang dibutuhkan Timnas Indonesia saat ini. Sangat disiplin, tak neko-neko, keras, tapi masih kadang-kadang masih bisa santai adalah karakter yang dimiliki oleh dirinya. Perlu diketahui memang, mantan pemain Standard Liege itu, memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi sebagai seorang pelatih sehingga membuat para pemain tak bisa bertingkah seenaknya. 
Hal tersebut sungguh bagus dan tentu perlu semakin ditingkatkan. Karena memang membangun sebuah tim apalagi itu tim nasional, tak hanya melulu soal strategi di lapangan. Hal-hal lain di luar lapangan seperti jam tidur, waktu bicara kepada media, atau soal-soal yang menyangkut kedisiplinan lainnya, perlu dijaga dan sangat penting diperhatikan. Dan lagi-lagi, Riedl adalah orang yang tepat untuk mengepalainya.

Riedl Masih Jadi Orang yang Tepat untuk Duduk di Kursi Itu


Sepak Bola

500

Baca Lainnya