• 2

Starting XI Terbaik ISC A 2016 Versi kumparan

Starting XI Terbaik ISC A 2016 Versi kumparan



Marcel Sacramento

Marcel Sacramento (baju merah) sedang berusaha mengelabui kiper Persiba Balikapapan. (Foto: PT GTS/ISC A)

Silakan kalau mau mendebatnya, tapi inilah starting XI ISC A versi kami di kumparan.
Kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 telah usai. Persipura Jayapura keluar sebagai juara dengan raihan 68 poin dari 34 pertandingan. Sementara itu, bomber Sriwijaya FC, Alberto 'Beto' Goncalves, menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan raihan 25 golnya.
Seperti pada kompetisi kebanyakan, ISC A ini juga memunculkan banyak pemain-pemain terbaik dari setiap posisinya, lokal maupun asing. Kami di kumparan memilih 11 nama yang akan masuk dalam tim terbaik ISC A 2016 sepanjang turnamen dengan formasi 4-3-3. Siapa saja? Simak daftar kami berikut ini.
Kiper: Andritany Ardhiyasa (Persija Jakarta)
Nama Andritany Ardhiyasa rasanya tidak bisa tidak masuk sebagai penjaga gawang terbaik ISC A 2016. Walau hanya mencatatkan lima clean sheet sepanjang 22 penampilannya bersama Persija Jakarta, nyatanya Andritany adalah kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak di ISC A. Total, ada 101 penyelamatan yang dilakukan oleh kiper asal Jakarta itu. 

Andritany Ardhiyasa

Andritany tampil impresif mengawal gawang Persija di sepanjang kompetisi ISC A 2016. (Foto: PT GTS/ISC A)

Penampilan heroik pria berusia 24 tahun itu juga seringkali menyelamatkan “Macan Kemyaroran” dari kekalahan. Laga tandang pada pekan ke-18, saat menghadapi Semen Padang, adalah buktinya. Kala itu, berkat penampilan gemilang Andritany, Persija berhasil menjadi tim pertama yang mampu mencuri poin dari Kabau Sirah. Sekaligus ia menjadi kiper pertama yang tak kebobolan di Stadion Haji Agus Salim pada ajang ISC A.
Bek Tengah: Hamka Hamzah (Arema Cronus)
Performa Hamka Hamzah sebagai seorang bek tengah kerap kali dianggap sudah jauh menurun seiring usianya yang menua. Tapi di ajang ISC A 2016 ini, Hamka berhasil menepis tanggapan itu. Pada kompetisi tersebut, pria kelahiran Makassar itu mampu menjadi salah satu bek tengah terbaik sepanjang turnamen. 
Posisi penjaga gawang Arema Cronus memang kerap kali berganti dari Kurnia Meiga hingga Achmad Kurniawan, namun satu tempat di posisi bek tengah sudah pasti menjadi milik Hamka. Karenanya sangat pantas jika Hamka disebut sebagai salah satu kunci sukses “Singo Edan” mampu mencatatkan 19 kali clean sheet. Selain itu, Arema juga merupakan tim yang paling sedikit kebobolan dengan hanya kemasukan 22 gol dari 34 pertandingan.

Hamka Hamzah

Hamka Hamzah kala mengamankan lini pertahanan Arema Cronus dari ancaman pemain Persela. (Foto: PT GTS/ISC A)

Satu hal penting yang membuat Hamka masuk dalam daftar ini adalah kepiawaiannya dalam hal membantu serangan. Perlu diketahui, mantan bek Tim Nasional Indonesia ini adalah bek tersubur di ajang ISC A. Total sembilan gol yang diraihnya selama semusim penuh bahkan mengungguli raihan bomber Timnas Indonesia di Piala AFF 2016, Lerby Eliandry.
Bek Tengah: Ricardo Salampessy (Persipura Jayapura)
Persipura berhasil meraih gelar juara ISC 2016. Satu sosok penting dalam keberhasilan itu datang dari lini belakang. Dia adalah Ricardo Salampessy. Di bawah komandonya di lini belakang, “Mutiara Hitam” berhaisl menjadi tim terbaik kedua soal jumlah kemasukan gol. Hanya kebobolan 27 gol dari 34 pertandingan adalah salah satu kunci sukses mereka berhasil meraih gelar juara.
Salampessy sendiri bermain 27 kali di sepanjang musim, menjadi bek tengah Persipura dengan penampilan terbanyak di ISC A. Pemain asal Maluku itu mampu bermain lugas di setiap penampilannya. Catatan 60 persen tekel sukses dari 27 laga adalah buktinya. 

Ricardo Salampessy

Ricardo Salampessy (baju merah-hitam) mencoba membendung serangan yang dilancarkan pemain PS TNI. (Foto: PT GTS/ISC A)

Tak hanya itu, ketika pada pertengahan musim kursi pelatih Persipura berganti ke tangan Alfredo Vera, Salampessy mendapat peran baru sebagai ball playing defender. Aliran bola cepat dari lini belakang ke lini tengah adalah tugasnya. Oleh karenanya, dengan rasio 81 persen umpan sukses per laga, Salampessy terbilang sukses menjalankan tugasnya itu. Karenanya pula, permainan umpan-umpan pendek cepat dari kaki ke kaki khas Persipura akhirnya mampu membuahkan gelar.
Bek Kanan: Yustinus Pae (Persipura Jayapura)
Benny Wahyudi boleh saja menjadi bek inti di Tim Nasional Indonesia saat ini. Namun, jika berbicara di ajang ISC A 2016, pos bek kanan terbaik diisi oleh pemain Persipura, Yustinus Pae. Kendati sudah menginjak usia 33 tahun, kemampuan Pae dalam bertahan atau membantu penyerangan masih konsisten dan patut diacungi jempol.
Soal bertahan, 70 persen tekel sukses yang dicatatkannya sepanjang kompetisi membuktikan jika sisi kanan pertahan Persipura memang menjadi sisi yang sulit dibombardir oleh lawan-lawannya. Sementara soal menyerang, Pae terbukti agresif. Memang sebagai seorang bek kanan, dirinya sering kali naik maju membantu penyerangan. Satu gol dan dua assists mampu diciptakannya pada gelaran ISC A 2016 ini.

Yustinus Pae

Yustinus Pae menjaga bola dari rebutan pemain PBFC. (Foto: PT GTS/ISC A)

Selain itu, Pae juga mampu menjaga stamina untuk selalu tampil prima di setiap laganya. Pada musim ini saja total ada 31 penampilan yang dicatatkan Pae. Total penampilan itu adalah yang terbanyak dibandingkan pemain belakang Persipura lainnya. Sebuah prestasi tersendiri bagi seorang bek yang telah berusia 33 tahun.
Bek Kiri: Abdul Rahman (Persiba Balikapapan)
Nama Abdul Rahman mencuat di ajang ISC A 2016 ini. Tampil impresif bersama Persiba, ia layak mengisi pos bek kiri terbaik sepanjang turnamen. Pos bek kiri sebenarnya jadi posisi yang paling sulit untuk ditentukan, Ahmad Alfarizi (Arema Cronus) hingga Toni Sucipto (Persib Bandung) juga tampil baik selama turnamen. Tapi, konsistensi Abdul pada setiap laga yang dijalaninya, membuat kami akhirnya memilihnya.

Abdul Rahman

Abdul Rahman saat merayakan gol untuk Persiba ke gawang Semen Padang. (Foto: PT GTS/ISC)

Abdul bagus di total 19 penampilannya bersama Persiba musim ini. Dari penampilannya itu, satu gol dan dua assist diciptakan pemain asli Balikpapan itu. Abdul memang terkenal sebagai bek sayap yang agresif dalam membantu penyerangan. Tapi, tak hanya itu, soal bertahan pun ia cukup agresif. Bermain di klub yang menekankan permainan lugas dan keras, 38 jumlah pelanggaran dan 57 persen tekel sukses adalah statistik yang cukup bagus untuk seorang pemain belakang.
Karena alasan itulah, Pelatih Tim Nasional Indonesia, Alfred Riedl, memasukkan namanya dalam daftar 23 pemain untuk Piala AFF 2016 lalu. Sayang, ia tak sekalipun diturunkan.
Gelandang Tengah: Raphael Maitimo (Arema Cronus)
Salah satu gelandang yang paling konsisten sepanjang penampilannya di ajang ISC A 2016 adalah Raphael Maitimo. Karenanya kami memilih namanya untuk mengisi pos gelandang tengah di tim terbaik ini.
Maitimo adalah sumber kreativitas Arema dalam membangun serangan. Perolahan lima assist adalah buktinya. Tak hanya itu, 80 persen catatan akurasi umpan per pertandingan membuktikannya sebagai gelandang tengah yang mumpuni.

Raphael Maitimo

Raphael Maitimo merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persegres Gresik United. (Foto: PT GTS/ISC A)

Maitimo musim ini mampu membuktikan diri jika tanggapan miring banyak pihak yang menyebutnya sudah habis tidak benar. Justru kini namanya masih diperhitungkan sebagai salah satu gelandang terbaik yang ada di Indonesia.
Gelandang Tengah: Slamet Nurcahyo (Madura United)
Madura United menjadi tim yang paling mengejutkan di ajang ISC A 2016 ini. Tak diunggulkan pada awal kompetisi, di akhir musim “Laskar Sape Kerrab” mampu finis di peringkat ketiga. Bahkan, mereka mampu mengungguli tim-tim semacam Persib Bandung atau Sriwijaya FC. Dan satu pemain yang menjadi sosok penting keberhasilan mereka adalah sang gelandang andalan, Slamet Nurcahyo. 

Slamet Nurcahyo

Slamet Nurcahyo (tengah) melepaskan umpan di tengah kawalan pemain Persegres Gresik United. (Foto: PT GTS/ISC A)

Slamet, walau sudah berusia 33 tahun, mampu tampil penuh semangat dan berkontribusi besar untuk lini tengah Madura United. Kreativitasnya juga sangat diandalkan oleh sang pelatih, Gomes De Oliviera. Torehan enam gol dan lima assist jelas sebuah torehan yang bagus dari seorang gelandang lokal yang bermain di antara dua gelandang asing. Slamet membuktikan jika kualitasnya tidak tenggelam ditelan oleh dua rekannya di lini tengah, Dane Milovanovic dan Erick Weeks Lewis.
Gelandang Tengah: Rasyid Bakri (PSM Makassar)
Rasyid Bakri adalah gelandang paling kreatif di ISC A 2016. Tak percaya? Tengok saja bagaimana statistik yang diciptakannya. Gelandang berambut gondrong itu pada musim ini terlibat dalam 15 gol yang diciptakan klubnya PSM Makassar. Tujuh gol dan delapan assist adalah penjabarannya. Bahkan Rasyid adalah gelandang lokal dengan jumlah assist terbanyak di ISC A 2016 ini. Karenanya, tak ada alasan untuk tidak memasukannya dalam daftar ini.

Rasyid Bakri

Rasyid Bakri (kanan) mencoba melepaskan umpan walau dikawal oleh pemain Bali United. (Foto: PT GTS/ISC A)

Ketika PSM masih ditangani Luciano Leandro pada awal-awal kompetisi, Rasyid belum menunjukkan performa terbaiknya. Namun, ketika Robert Rene Alberts mengambil alih kursi pelatih 'Juku Eja', Rasyid langsung mencapai performa terbaiknya. Walau di putaran kedua PSM banyak mendatangkan pemain asing di pos gelandang, pemain 25 tahun itu tidak tergeser.
Jika menengok performa gemilang PSM di putaran kedua ISC A, satu sosok pemain yang berpengaruh besar, ya, seorang Rasyid Bakri.
Penyerang Kanan: Thiago Furtuoso (Bhayangkara FC)
Thiago Furtuoso datang ke Indonesia pada tahun 2015 untuk memperkuat Bhayangkara Surabaya United di ajang Piala Jenderal Sudirman. Ketika kompetisi ISC A 2016 bergulir, Thiago masih tetap berada di klub yang kini telah berganti nama menjadi Bhayangkara FC itu. Dan di musim perdananya, bomber asal Brasil itu mampu menunjukkan performa gemilang.
Di akhir musim, Thiago keluar sebagai top-skorer klub dengan raihan 15 gol. Tak hanya itu, raihan tersebut pun membuatnya berada di peringkat kelima dalam daftar top-skorer ISC A 2016. 

Thiago Furtuoso

Thiago Furtuoso mencetak gol yang dicetaknya kala menghadapi Persela. (Foto: PT GTS/ISC A)

Suburnya pria berkepala plontos itu juga sangat berpengaruh bagi Bhayangkara FC. Bahkan di akhir-akhir putaran pertama hingga pertengahan putaran kedua, “The Great Alligator” dibawanya merangsek ke papan atas. 
Walau di akhir musim klub yang dimiliki oleh Kepolisian Republik Indonesia itu hanya mampu finis di peringkat ketujuh, namun Thiago telah berhasil mencuri perhatian. Dan bisa dipastikan, di musim depan akan banyak klub-klub lain yang akan memburu tandatangannya.
Penyerang Tengah: Alberto 'Beto' Goncalves
Sulit untuk tidak memasukan nama Beto dalam daftar ini. Selain karena dirinya adalah top-skorer ISC A 2016, penyerang asal Brasil ini juga mampu tampil konsisten di sepanjang musim dan kerap kali menyelamatkan Sriwijaya FC dari hasil-hasil minor. Karenanya “Laskar Wong Kito” acapkali kehilangan konsistensi ketika pria 35 tahun itu absen.

Alberto Beto Goncalves

Beto (tengah) sedang mencoba melepaskan tembakan walau diganggu oleh dua orang pemain PBFC. (Foto: PT GTS/ISC A)

Eks bomber Persipura Jayapura itu juga kerap menunjukkan aksi-aksi gemilang. Trigol dari kepala kala menghadapi Persegres Gresik United atau empat gol ke gawang PS TNI misalnya. Beto memang penyerang dengan naluri gol yang sangat tinggi. Gelar top-skorer kedua kali dalam kompetisi berformat liga di Indonesia ini adalah buktinya.
Penyerang Kiri: Marcel Silva Sacramento (Semen Padang)
Marcel Silva menutup daftar pemain dalam daftar ini. Menariknya, ia juga menjadi bomber ketiga asal Brasil pada daftar ini. Sekaligus menutup peluang bomber-bomber lokal.
Marcel menyelesaikan musim dengan berada di peringkat dua dalam daftar top-skorer. Torehan 21 golnya hanya kalah empat gol dari milik Beto. Tapi dalam daftar sepuluh besar top-skorer, penyerang berusia 29 tahun itu memiliki jumlah assist yang paling banyak. Total ada enam assist yang diciptakannya sebagai penyerang tengah.

Marcel Silva Sacramento

Marcel Silva Sacramento merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persegres Gresik United. (Foto: PT GTS/ISC A)

Jelas dengan jumlah gol yang mencapai dua digit dan jumlah assist yang cukup banyak, nama Macel kami kedepankan. Walau gagal membuat “Kabau Sirah” mengakhiri musim di peringkat keempat. Tapi, konsistensi dan perannya yang begitu besar di sepanjang kompetisi tak bisa dikesampingkan. Perlu diingat pula jika kompetisi ISC A 2016 ini merupakan ajang perdananya di Indonesia.

Sepak BolaLiga Indonesia

500

Baca Lainnya