• 0

Wahai, Mercedes... Siapakah Pengganti Rosberg Itu?

Wahai, Mercedes... Siapakah Pengganti Rosberg Itu?



Nico Rosberg

Nico Rosberg sedang memegang trofi gelar juara setelah Grand Prix Abu Dhabi. (Foto: Mark Thompson/Getty Images)
Lima hari (ya, hanya lima hari --tak sampai seminggu) setelah menjadi juara dunia Formula 1 musim 2016 di Grand Prix Abu Dhabi, Nico Rosberg memutuskan pensiun.
Tentu, keputusan pensiun dini yang diambil oleh pebalap Mercedes itu membuat banyak pihak terkejut. Salah satunya tentu Mercedes sendiri sebagai konstruktor yang sudah dinaunginya sejak tahun 2010. Kehilangan pebalap andalan, apalagi yang baru saja meraih gelar juara dunia, adalah pukulan telak bagi konstruktor asal Jerman itu.
Kini, mereka pun tengah kebingungan untuk mencari pengganti Rosberg. Sejumlah nama seperti pebalap Williams, Valterri Bottas, atau pebalap McLaren, Fernando Alonso, dikabarkan akan menjadi rekan baru Lewis Hamilton pada balapan musim 2017 nanti. Melihat dari nama-nama yang tersedia, rasanya Mercedes masih bisa memilih-milih nama yang paling tepat untuk menggantikan Rosberg.

Nico Rosberg

Nico Rosberg bersama sang istri, Vivian Sibold, setelah memastikan gelar juara dunia Formula 1 musim 2016. (Foto: Clive Mason/Getty Images)

Namun demikian, seperti apa yang dikatakan Bos tim Mercedes F1, Toto Wolff, timnya tak akan terburu-buru untuk mencari pengganti Rosberg. Kemungkinan, baru pada awal tahun 2017 nanti nama sang pengganti akan diumumkan. Wolff dan tim memang tak ingin main-main dalam menentukan pebalab barunya. Karenanya, kumparan mencoba merangkum prestasi dan melihat kelayakan para calon pengganti Rosberg. Dari mulai Fernando Alonso hingga Pascal Wehrlein.
Fernando Alonso
Nama pebalap senior, Fernando Alonso, masuk dalam daftar buruan Mercedes untuk menjadi pengganti Rosberg. Pebalap berusia 35 tahun ini jelas adalah seorang pebalap berpengalaman dan penuh prestasi. Dirinya pernah menjadi juara dunia Formula 1 pada musim 2005 dan 2006 bersama tim Renault. Tak hanya itu, sepanjang kariernya, Alonso telah 32 kali memenangi balapan dan 97 kali berdiri di podium. Tak heran jika dirinya masuk ke dalam bidikan Mercedes.
Bos tim Mercedes F1, Toto Wolff, bahkan dikabarkan telah menghubungi pebalap McLaren musim 2016 lalu itu. "Kami harus selalu mempertimbangkan Fernando (Alonso). Ia adalah seorang pebalap yang selalu kami hormati," sebut Wolff kepada Sky Sport.

Fernando Alonso

Pebalap McLaren-Honda, Fernando Alonso. (Foto: Adam Pretty/Getty Images)

Ketertarikan Mercedes terhadap Alonso memang masuk akal. Sebagai pebalap dengan pengalaman dan prestasi mentereng, Alonso akan mampu menjadi rekan sekaligus pesaing bagi Lewis Hamilton. Bukan sekadar menjadi pebalap 'kedua' dibelakang bayang-bayang pria Inggris Raya itu. Walau, memang, pada musim lalu Alonso hanya mengakhiri musim di peringkat kesepuluh.
Menariknya, Hamilton sendiri mengaku jika dirinya tak khawatir dengan siapapun yang akan menjadi rekan barunya. Baik itu pebalab yang pernah meraih gelar juara dunia seperti Alonso sekalipun. "Mereka (Petinggi Mercedes) bisa memilih pebalap yang mereka mau, mendatangkan Vettel atau Alonso, atau siapapun itu. Saya pernah balapan satu tim dengan Alonso di McLaren pada 2007, dan saya mengalahkannya. Jadi tak ada kekhawatiran untuk saya," ujar Hamilton kepada Guardian.
Valtteri Bottas
Satu lagi nama yang kencang dikabarkan menjadi pengganti Rosberg adalah Valtteri Bottas. Kabar bakal merapatnya pebalap Williams itu ke Mercedes semakin kencang setelah dirinya mengungkapkan pernyataan yang menguatkan rumor tersebut. Bottas menyatakan, dengan mesin terbaik --yang jelas dimiliki Mercedes-- dirinya akan bisa menjadi juara dunia. 
"Saya tak punya keraguan di diri saya dan saya tahu saya punya kapabilitas untuk memenangkan balapan," sebutnya kepada Autosport.
Soal prestasi, apa yang dimiliki Bottas hingga kini memang tak banyak. Dirinya belum pernah sekalipun meraih gelar juara dunia dan bahkan belum sekalipun memenangi balapan selama tiga tahun kariernya di Formula 1. Prestasi terbaik yang diraih Bottas hanyalah sembilan kali berdiri di podium dengan catatan tujuh kali berada di peringkat tiga dan dua kali berdiri di podium kedua. Sisanya, Bottas kerap menyelesaikan balapan di urutan tengah.

Valtteri Bottas

Valtteri Bottas berada dalam mobilnya menjelang balapan di Grand Prix Brasil. (Foto: Clive Mason/Getty Images)

Tapi memang, alasan jika dirinya berada di tim Williams sejak awal karier bisa menjadi pemakluman. Karena itu pula mungkin kometar optimistis terlontar dari mulutnya ketika berbicara soal kemungkinan menjadi juara dunia jika pindah ke tim yang lebih bagus. Menariknya, Williams sendiri sudah ikhlas jika sang pebalap memutuskan pundah ke Mercedes. Kedekatan Bottas dengan Bos Mercedes F1, Toto Wolff, jelas menjadi salah satu alasannya.
"Saya senang Mercedes menempatkan Bottas sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Rosberg. Kami selalu tahu jika ia adalah salah satu pebalap paling berbakat di Formula 1, dan kami pun ikut bangga saat tim papan atas (seperti Mercedes) juga menyadari tentang itu," ungkap deputi tim Williams, Claire Williams, kepada BBC.
Tak hanya itu, urung pensiunnya rekan setim Bottas musim lalu, Felipe Massa, juga akan membuat Williams lebih mudah melepas Bottas ke Mercedes. Sekarang yang menjadi sorotan tinggal bagaimana Mercedes membuktikan ketertarikan mereka. Karena peluang Bottas menjadi rekan tim Hamilton, kami nilai, cukup besar.
Carlos Sainz Jr
Autosport memasukkan nama Carlos Sainz Jr dalam daftar calon pengganti Nico Rosberg. Alasannya sederhana: penampilan pebalap asal Spanyol ini pada musim lalu banyak mencuri perhatian. Membalap bersama tim Scuderia Toro Rosso, Sainz Jr mampu tiga kali menembus enam besar, juga tujuh kali finis di urutan sepuluh besar. Walau mengakhiri musim di peringkat ke-12, pria Spanyol jelas merupakan salah satu pebalap paling potensial yang ada saat ini.
Oleh sebab itu, tak heran jika namanya dihubung-hubungkan dengan Mercedes. Belum lagi, Sainz Jr memang membutuhkan tim yang lebih baik untuk memajukan progres kariernya. Karena sampai saat ini dirinya juga tak kunjung prmosi ke tim Red Bull, seperti yang didapatkan mantan rekannya di awal musim lalu, Max Verstappen. Apalagi jika mampu balapan bersama Mercedes di usia yang masih muda (22 tahun), itu jelas menjadi prestasi tersendiri untuknya.

Carlos Sainz Jr

Pebalap Toro Rosso, Carlos Sainz Jr, sebelum menjalani latihan menjelang Grand Prix Abu Dhabi. (Foto: Peter Fox/Getty Images)

Yang kini jadi masalah justru adalah bagaimana persaingan antara Mercedes dan Red Bull --sebagai tim utama Toro Rosso-- di lintasan dalam beberapa musim terakhir jelas akan membuat Sainz Jr kesulitan untuk hengkang. Direktur tim Red Bull Formula 1, Christian Horner, mengungkapkan hal itu. "Tidak masuk akal jika membiarkan salah satu aset Red Bull pergi ke saingan terberat kami," ujarnya kepada BBC.
Ya, peluang Sainz Jr memang jadi yang paling kecil jika dibandingkan dengan dua pebalap sebelumnya yang masuk dalam daftar ini. Tapi bukankah F1 juga sebuah olahraga yang, kapanpun, semua kemungkinan bisa saja terjadi. 
Pascal Wehrlein
Sebagai pebalap muda Mercedes, sudah sewajarnya memang nama Pascal Wehrlein mencuat menjadi pebalap utama. Belum lagi, prestasi cukup lumayan yang diraihnya bersama Manor Racing Team pada musim 2016 lalu membuatnya tak patut dipandang sebelah mata.
Keberhasilan dirinya finis sekali di urutan 10 musim lalu juga dinilai merupakan sebuah kejutan. Karenanya, banyak pihak yang merasa dirinya layak menjadi rekan Hamilton di tim Mercedes.

Pascal Wehrlein

Pascal Wehrlein sebelum balapan bersama timnya, Manor Racing Team, di Grand Prix Amerika Serikat. (Foto: Mark Thompson/Getty Images)

Bahkan, Bos Mercedes, Toto Wolff bahkan memuji talenta pebalap mudanya itu. "Pascal adalah seorang anak muda yang ambisius. Ia memiliki target yang tinggi,sama seperti kami. Karena alasan itulah mengapa ia bisa menjadi bagian dari program pengembangan kami," sebut Wolff kepada Motorsport
Kebetulan pula, Wehrlein baru-baru ini ditolak oleh Force India. Peluangnya untuk promosi ke Mercedes pun cukup terbuka. Walau, memang, prinsip Mercedes untuk tak memilih pebalap yang hanya akan menjadi 'pelengkap' jelas akan memperkecil peluang pria asal Jerman itu. Karena, walau potensial, langkah mantan rekan Rio Haryanto itu untuk bisa menyaingi Hamilton masih terlalu dini.

Formula 1Sports

500

Baca Lainnya