Konten dari Pengguna

3 Khutbah Idul Adha 2025 Penuh Makna untuk Dijadikan Referensi

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Khutbah Idul Adha 2025. Foto: Unsplash/Masjid Pogung Raya
zoom-in-whitePerbesar
Khutbah Idul Adha 2025. Foto: Unsplash/Masjid Pogung Raya

Umat Muslim akan melaksanakan sholat Idul Adha berjamaah pada Jumat, 6 Juni 2025. Selepas sholat, jemaah disunnahkan untuk tidak segera pulang, melainkan duduk dan mendengarkan khutbah hingga selesai.

Isi khutbah Idul Adha bisa membahas tentang keutamaan kurban, sunnah yang dianjurkan, serta ibadah lainnya. Khutbah juga bisa berisi wasiat untuk bertakwa kepada Allah, nasihat, dan peringatan.

Butuh referensi? Yuk, simak contoh khutbah Idul Adha 2025 selengkapnya dalam artikel berikut ini.

Khutbah Idul Adha 2025

Khutbah Idul Adha 2025. Foto: Unsplash/Raka Dwi Wicaksana

Ada banyak referensi khutbah Idul Adha yang bisa dijadikan contoh, salah satunya yang disampaikan oleh para ulama. Berikut contohnya yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Khutbah Idul Adha Oleh KH M Cholil Nafis

Berikut naskah khutbah Idul Adha oleh KH M Cholil Nafis, Ph D, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, dikutip dari laman MUI:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Waliilahil Hamd. Marilah kita senantiasa bersyukur dan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Kita masih diberi nikmat iman dan Islam, termasuk melaksanakan shalat Idul Adha pada pagi hari ini.

Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah penting dalam ajaran Islam. Ajaran qurban dan praktiknya telah ditunjukkan oleh para nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad SAW Nabi Ibrahim AS.

Peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Nabi Isma’il AS merupakan dasar bagi adanya ibadah kurban. Nabi Ibrahim AS dengan penuh iman dan keikhlasan bersedia untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail hanya semata-mata untuk memenuhi perintah Allah SWT. Peristiwa yang mengharukan ini, dilukiskan dengan indah oleh Allah SWT dalam Alquran surat as-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّيْ أَرَى فِيْ المَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَآأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ الصَابِرِيْنَ

“Tatkala anak itu sampai umurnya dan sanggup berusaha bersamasama Ibrahim. Ibrahim berkata; Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. la menjawab, wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban, setiap 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Kesanggupan Nabi Ibrahim AS. menyembelih anak kandungnya sendiri Nabi Ismail AS., bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta (taqlid), tetapi meyakini bahwa perintah Allah SWT itu harus dipatuhi.

2. Khutbah Idul Adha oleh Muhammad Shodiq Ma’mun

Berikut naskah khutbah Idul Adha oleh Muhammad Shodiq Ma’mun, S.Sos, Ketua RMI NU Ajibarang, dilansir dari laman NU:

Kaum Muslimin, Jamaah Shalat Id yang dirahmati Allah… Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang kita rayakan. Qurban adalah jalan, sebuah proses panjang untuk membangun dan mengasah jiwa yang taat dan penuh ketakwaan dalam hati setiap insan beriman.

Mari kita renungkan kembali kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika Allah memerintahkan beliau untuk mengorbankan putra tercinta, Ismail, beliau tidak sekali pun merasa ragu atau bertanya “mengapa”. Dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan, beliau taat menjalankan perintah Allah. Inilah contoh ketakwaan yang sesungguhnya, menyerahkan apa yang paling kita cintai demi ridha-Nya.

Qurban merupakan wujud nyata dari perjalanan spiritual seorang hamba yang berusaha keluar dari kehinaan maksiat menuju keluhuran ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلىَ عِزِّ الطَّاعَةِ اَعْنَاهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ مَالٍ وَاَيَّدَهُ مِنْ غَيْرِ جُنْدٍ وَاَعَزَّهُ مِنْ غَيْرِعَشِيْرَةٍ

Artinya: “Barangsiapa yang meninggalkan kehinaan maksiat, lalu melaksanakan kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikannya sebagai orang yang kaya tanpa harta, kuat tanpa pasukan, dan menang tanpa bala (bantuan kelompoknya.” (HR. Baihaki)

Qurban juga mengajarkan kita tentang makna pengorbanan yang hakiki. Dengan berqurban, kita dilatih untuk mengikis sifat cinta dunia yang berlebihan, menumbuhkan rasa empati terhadap sesama yang kurang beruntung, serta memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah. Inilah bentuk nyata dari ketaqwaan yang melahirkan jiwa yang bersih, ikhlas, dan penuh kasih sayang.

Baca juga: Syarat Penyembelihan Hewan Kurban, Rukun, dan Kriterianya dalam Islam

3. Khutbah Idul Adha oleh H. Muhammad Faizin

Khutbah Idul Adha 2025. Foto: Unsplash/Masjid Pogung Raya

Berikut contoh naskah khutbah Idul Adha oleh H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung, dirangkum dari laman MUI:

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah.... Idul Adha merupakan hari raya umat Islam yang selalu diwarnai dengan kemeriahan dan kebersamaan.

Semua ini bisa kita rasakan dalam rangkaian ibadah seperti shalat Id berjamaah, ibadah haji, dan juga kurban. Kita berkumpul bersama di masjid dan tanah lapang yang penuh keberkahan, untuk bersama melaksanakan shalat Id sebagai wujud penghambaan dan ketaatan.

Semua berkumpul tanpa memandang status kehidupan. Semua sama di hadapan Allah dengan pembeda hanya ketakwaan. Kebersamaan dalam haji dan shalat Idul Adha, tentu akan memperkuat ikatan persaudaraan kita. Dari sinilah akan tumbuh rasa cinta untuk senantiasa menghormati sesama.

Kita memang diciptakan ke dalam suku, bangsa, warna kulit, dan budaya yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu bukan untuk dibanding-bandingkan dan merasa unggul satu dengan yang lainnya.

Tujuan diciptakannya kita berbeda-beda oleh Allah adalah untuk saling kenal dengan sesama. Sehingga muncul harmoni yang menambah keindahan dalam kehidupan di dunia. Allah berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah, Mari tinggalkan sifat dan sikap merasa unggul dalam materi dan kekayaan. Jauhi sikap merasa lebih mulia karena nasab atau keturunan. Jangan memandang rendah orang lain dan merasa tinggi karena jabatan.

Ciptakan kehidupan yang saling menghormati dalam perbedaan. Wujudkan kerukunan dan tumbuhkan cinta pada perdamaian. Karena sekali lagi yang dinilai oleh Allah, tiada lain dan tiada bukan, hanyalah ketakwaan.

(SLT)