Konten dari Pengguna

Arti Warak Pangrungrungan dalam Weton Perjodohan dan Cara Menghitungnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi weton perjodohan. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi weton perjodohan. Foto: pixabay

Dalam primbon Jawa, warak pangrungrungan dimaknai sebagai ramalan terhadap kehidupan rumah tangga seseorang. Ramalan ini dapat dikaitkan dengan kondisi ekonomi, kesejahteraan, hingga hubungan percintaan.

Perhitungan warak panrungrungan sudah dipercaya masyarakat Jawa sejak lama. Meski sudah memasuki era modern, mereka masih menggunakannya sebagai acuan agar bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Primbon Jawa ini berkaitan erat dengan weton seseorang. Mengutip buku Kitab Primbon Jawa Serbaguna karya R. Gunasasmita (2009), ramalannya diambil dari neptu masing-masing calon pengantin yang dijumlahkan.

Konon, pasangan yang mendapatkan weton warak panrungrungan akan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Benarkah demikian? Simak penjelasannya dalam artikel berikut ini.

Arti Warak Pangrungrungan

Ilustrasi weton warak pangrungrungan. Foto: pixabay

Menurut primbon, warak pangrungrungan artinya sepasang kekasih akan diberkahi dengan rezeki berlimpah. Mereka tidak akan merasakan kekurangan sedikit pun.

Mengutip buku Novel Pangeran Diponegoro karya Remy Sylado (2008), warak pangrungrungan ini diwakili dengan angka naptu 20, 27, dan 34. Apabila sepasang suami istri mendapatkannya, maka mereka akan kaya raya.

Namun, salah satu dari mereka cenderung boros dalam membelanjakan harta dan tidak pandai menabung. Oleh karena itu, salah satunya harus bekerja sama dalam perencanaan keuangan.

Selain warak pangrungrungan, ada juga istilah primbon perjodohan lainnya yang dikenal oleh masyarakat Jawa, yaitu:

  • Pisang punggel: Jika mempelai dikarunai anak laki-laki, maka peran ayah tidak lagi dominan. Jika lahir anak perempuan, maka peran ibu tidak lagi signifikan.

  • Sanggar waringin: Rumah tangga seseorang akan aman sentosa dan tenteram. Sehingga, tidak ada kemungkinan cerai ataupun perselisihan di antara keduanya.

  • Bale kedawang: Rumah yang ditempati oleh pasangan suami istri akan terasa panas. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya penyakit tertentu dan mereka akan mengalami kesusahan.

  • Gajah Plasungan: Nasib pernikahannya akan selamat dan jauh dari godaan. Namun, salah satu orang yang dikasihi, baik itu pasangan ataupun anak, akan meninggal ketika beranjak dewasa.

  • Garangan macam: Kedua mempelai cenderung jujur dan pekerja keras, sehingga mereka akan dilimpahi dengan rezeki yang berkah. Namun, mereka mudah terkena jerat tipu.

Cara Menghitung Warak Panrungrungan

Ilustrasi perhitungan warak pangrungrungan. Foto: pixabay

Sejatinya, menghitung weton jodoh warak pangrungrungan bisa dilakukan dengan mudah. Anda cukup menghitung neptu hari dan pasaran masing-masing calon pengantin, kemudian menjumlahkannya.

Hari kelahiran terdiri dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Sedangkan pasarannya terdiri dari Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Berikut daftar angka neptunya yang bisa Anda simak:

Neptu Hari

Minggu: 5

Senin: 4

Selasa: 3

Rabu: 7

Kamis: 8

Jumat: 6

Sabtu: 9

Neptu Pasaran

Wage: 4

Kliwon: 8

Legi: 5

Pahing: 9

Pon: 7

Setelah mengetahui hasil neptu calon pengantin, Anda bisa langsung menjumlahkannya. Contohnya, mempelai wanita lahir pada Jumat Kliwon, maka angka neptunya adalah 6+8 = 14. Sedangkan mempelai pria lahir pada Minggu Kliwon, maka angka neptunya adalah 5+8 = 13.

Jika kedua neptu tersebut dijumlahkan hasilnya adalah 27. Maka, pasangan tersebut memiliki angka weton 27 yang tergolong sebagai warak pangrungrungan.

Baca juga: Cara Menghitung Weton Jodoh untuk Melihat Kecocokan Hubungan

(MSD)