kumparan
15 Sep 2019 16:33 WIB

11 Cerita Mengiris Hati Para Muslim di Amerika Setelah Insiden 9/11

Tragedi WTC 9/11 (Foto: REUTERS/Sara K. Schwittek)
Sudah 18 tahun berlalu sejak penyerangan menara World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat, atau yang lebih dikenang sebagai serangan 9/11 terjadi. Meski begitu, duka mendalam bagai tak kunjung hilang. Meninggalkan cerita-cerita pahit yang mengiris hati bila dikenang kembali, terutama bagi umat Muslim di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Dalang terorisme itu memang merupakan militan Al Qaeda, namun, tindakan mereka turut berimbas pada umat Muslim lainnya di AS. Setelah kejadian itu, kehidupan umat muslim di sana turut berubah. Diskriminasi hingga bullying kerap dirasa, terutama di minggu-minggu awal setelah insiden terjadi.
Meski kehidupan sekarang sudah terasa jauh lebih baik bagi umat muslim di sana, 11 September kemarin, mereka dan warga Amerika lainnya mengenang kembali pahitnya hidup yang terjadi saat itu lewat tagar #AfterSeptember11 di Twitter.
Berikut rangkuman 11 kisah menyayat hati yang dirasakan umat muslim AS setelah insiden 9/11.
1. "#afterseptember11 kakek saya dipukuli saat sedang menuju ke masjid. Mereka tidak tahu jika ia baru saja kehilangan anaknya di insiden 9/11." - @TheChicken Eater
Tangkapan layar Twitter @JosephineLukito
2. "#afterseptember11 saya hidup tanpa Mama karena seseorang dengan pistol memutuskan bahwa Mama saya perlu bertanggung jawab pada insiden itu dengan nyawanya" - @rukhushana
ADVERTISEMENT
3. "#afterseptember11 Pada 13 September 2001, ayah saya berhenti memakai turban, memotong rambutnya, dan mencukur jenggotnya karena dia diserang di kantor oleh laki-laki berkulit putih" -@anuvir
4. "#afterseptember11 Orang tuaku dengan tulus menanyakan kakak saya, apakah ia mau mengganti namanya karena ia bernama Osama. Saat itu ia berusia 9 tahun." -@Nahwalnut
5. "#afterseptember11 Hampir tidak pernah punya teman saat kecil karena orang tua teman-temanku tidak mau anaknya main bersama orang-orang seperti kami" - @blxckfxntasy
6. "#afterseptember11 Ibuku dilecehkan di parkiran sebuah tempat perbelanjaan karena ia memakai jilbab. Padahal, saat itu ia membawa dua anak kecil dan bayi berusia 2 bulan. Ia berlari menuju mobilnya secepat ia bisa. Ia selalu berkata jika ia tidak pernah sebegitu merasa takut dan tak berdaya seumur hidupnya selain karena hal itu" -@Navvai
Tangkapan layar Twitter @Navvai
7. "#afterseptember11 Teman saya yang berusia 11 tahun menangis di tengah kelas gym, karena anak-anak menjahatinya dan terus mengatai ia teroris. Kemudian gurunya malah memanggil ia keluar di tengah pelajaran dan mempermalukan agama yang ia anut" - @mrsaturtle
ADVERTISEMENT
8. "Ayahku saat itu di-bully dan diperlakukan kasar oleh teman-teman sekantornya sampai ingin bunuh diri. Abangku dipukuli saat berusia 5 tahun. 9/11 memang terjadi di USA, tapi dampaknya terasa di seluruh dunia. #afterseptember11" - @jentyler124
9. "#afterseptember11 orang tua saya berkata kalau saya tidak bisa bilang bahwa saya orang Indonesia lagi (saya berusia 11 tahun). Saya tidak mengerti mengapa sampai saya mulai melihat liputan berita menunjuk ke 'Negara Muslim' dengan garis bidik. Disonansi antara kenyataan dan berita tersebut menjadi alasan mengapa saya belajar jurnalisme hari ini" - @JosephineLukito
10. "afterseptember11 hidupku menjadi konstan dengan terus-menerus minta maaf atas suatu hal yang tidak pernah aku lakukan, dan menjelaskan ke orang-orang kalau tidak semua dari kami buruk." - @shezumi
ADVERTISEMENT
11. "Ibuku memasang bendera AS di rumah kami setelah insiden 9/11 untuk menjadi patriotik dan agar orang-orang tidak melemparkan batu ke jendela rumah kami." - @harikondabolu
(NS)
Baca lebih banyak berita mengenai berita heboh/berita artis/info bola/dan lifehack lebih nyaman di aplikasi kumparan.
Download aplikasi Android di sini.
Download aplikasi iOS di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan