Pencarian populer
USER STORY

Kisah Pemandi Jenazah Korban Teror Christchurch yang 3 Malam Tak Tidur

Pelayat membawa mayat di Memorial Park Cemetery di Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 22 Maret 2019. (Foto: AP via Channel News Asia)

Peristiwa penembakan di Christchurch hingga kini masih meninggalkan duka mendalam. Meski telah lebih dari seminggu berlalu, namun peristiwa yang menewaskan 50 orang itu hingga kini masih menjadi sorotan publik.

Diketahui bahwa peristiwa penembakan secara brutal itu terjadi di dua masjid. Sebanyak 41 orang tewas di Masjid Al-Noor dan 7 orang tewas di Masjid Lindwood. sementara dua orang lainnya meninggal usai dibawa ke rumah sakit.

Polisi setempat telah menetapkan Brenton Tarrant sebagai tersangka dalam penembakan di Christchurch. Namun, tidak hanya jumlah korban maupun identitas saja yang menjadi sorotan. Aksi solidaritas hingga munculnya beberapa tokoh juga turut mencuat kisahnya.

Baru-baru ini muncul lagi cerita terkait penembakan di Christchurch. Cerita ini datang dari perjuangan relawan pemandi jenazah korban penembakan.

Seorang anak kecil meletakkan bunga sebagai penghormatan kepada para korban serangan di masjid, di luar Masjid Al Noor di Christchurch, Selandia Baru. Foto: Reuters/Jorge Silva

Melansir Channel News Asia, Minggu (24/3), sosok Mo adalah salah satu relawan pemandi jenazah. Ia mengisahkan bahwa dirinya adalah satu dari 10 relawan. Selain itu, sebanyak 3 dokter juga turut andil dalam membantu korban pasca penembakan.

Sebanyak 47 jenazah laki-laki dimandikan dan disiapkan untuk proses pemakaman oleh tim pria. Sementara 3 jenazah lain disiapkan oleh tim perempuan. Hal itu dilakukan setelah tim medis membersihkan luka hingga mengambil peluru yang bersarang di tubuh korban.

"Para dokter yang membantu membersihkan tubuh korban, mereka sangat luar biasa," jelas Mo, seperti dilansir dari Channel News Asia.

Setelah dimandikan, mereka juga mewudukan hingga mengafani jenazah sebelum disalatkan dan dimakamkan. Dalam melakukan hal itu secara sukarela, Mo dan relawan lainnya bahkan tidak tidur selama tiga malam.

Pria Muslim mensalatkan jenazah di sebuah taman dekat masjid Al-Noor. (Foto: AFP via Channel News Asia)

"Kami membersihkan dan memandikan jenazah mulai pukul 08.00 pagi hingga sekitar pukul 02.00 dini hari (waktu setempat)," tambahnya.

Mo mengisahkan, bahwa apa yang telah dilakukannya merupakan sesuatu yang sangat emosional. Bahkan mereka, para relawan, hingga menitikkan air mata seusai menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya mereka bisa menikmati tidur mereka dengan tenang.

"Setelah kami selesai, saya tidur sekitar satu jam. Dan, itu adalah jam terbaik yang pernah kumiliki," lanjut Mo.

Setelah sempat ditutup, kini Masjid Al-Noor dan Masjid Lindwood yang jadi target penembakan di Christchurch, Selandia Baru, telah kembali dibuka. Pembukaan secara simbolis dilakukan dengan mencabut tali pengamanan yang terpasang seseaat usai penembakan.

(zhd)

Baca lebih banyak berita mengenai artis/seleb/sepak bola/info unik lebih nyaman di aplikasi kumparan.

Download aplikasi Android di sini.

Download aplikasi iOS di sini.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: