kumparan
13 September 2019 16:01

Penyesalan Ayah Workaholic yang Anaknya Meninggal Saat Dirinya Bekerja

J.R Storment dan keluarga (Foto: LinkedIn J.R Storment)
Peristiwa delapan tahun lalu telah mengubah J.R Storment untuk selama-lamanya. Laki-laki yang terus-terusan bekerja itu kehilangan anaknya yang masih bocah saat ia sedang melakukan hal yang paling ia suka —bekerja.
ADVERTISEMENT
September 2011, Storment sedang merintis sebuah perusahaan. Pada saat itu, ia sudah berkeluarga. Storment dikaruniai 2 orang anak kembar.
Meski sudah berkeluarga, Storment lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia sengaja tak liburan hingga bekerja sampai larut. Tak ada waktu untuk bersantai. Tak ada waktu untuk keluarga. Semua demi kesuksesan bisnisnya.
Suatu hari, ketika ia sedang ikut konferensi, istrinya menelepon.
“Ada apa?” tanya Storment.
“J.R, Wiley meninggal.” “Apa??” Storment tak percaya.
“Wiley meninggal,” istrinya mengulang.
“Apa? Tidak!” Storment berteriak. “Aku telepon 911 dulu,” kata istrinya. Lalu perbincangan telepon itu berakhir.
Storment panik. Ia berlari sekencang-kencangnya menuju mobil.
“Sialan. Sialan. Sialan,” ujar Storment sambil berlari. Setengah perjalanan, Storment baru sadar kalau Ia tak membawa kunci garasi parkirannya. Ia lalu kembali ke lobi. Di sana, Ia berteriak-teriak.
ADVERTISEMENT
“Seseorang antarkan aku! Seseorang antarkan aku!”
Beruntung, ada rekan kerjanya yang mau mengantarkannya.
Setibanya di rumah, halamannya sudah dipenuhi ambulans dan mobil polisi. Polisi menghalangi jalan masuk. Ketika seorang anak meninggal tiba-tiba, ada kemungkinan tindak kriminal.
Setelah 2,5 jam yang terasa begitu panjang, Storment akhirnya dibolehkan melihat anaknya.
“Ia terbaring di kasurnya, terlihat seperti tidur nyenyak,” cerita Storment di akun LinkedIn nya. Ia yang hanya bisa melihat dari kejauhan itu akhirnya tak dapat membendung air matanya lagi. Tangisannya pecah.
Ketika tim forensik selesai melakukan pekerjaannya akhirnya Storment diizinkan untuk mendekat. Ia berbaring di sebelah anaknya yang kini terbujur kaku.
“Ada apa, Nak? Ada apa?”
Ia dan istrinya tak meninggalkan sisi Wiley selama lebih dari setengah jam. Dengan lembut, mereka mengelus kepala anaknya yang baru berumur 8 tahun itu sampai petugas datang untuk membawa jasadnya.
ADVERTISEMENT
Akhirnya Wiley dibawa ke ambulans. Meninggalkan Storment dan istrinya dalam keheningan yang menusuk.
—————————————
Oliver dan Wiley (Foto: LinkedIn J.R Storment)
“Ayah tak mendengarkanku! Tak ada yang mendengarkanku!”
Storment bercerita itu adalah salah satu kata-kata terakhir Wiley kepadanya. Wiley berkata begitu setelah Storment memarahinya sampai menangis.
“Aku menghukum diriku beberapa kali karena itu,” cerita Storment penuh sesal.
Beberapa bulan sebelum meninggal, Wiley didiagnosis menderita Epilepsi Rolandik. Penyakit yang agak lumrah dialami anak-anak berusia 8-13 tahun. Dokter bilang, hal itu tak mematikan. Kalaupun ada risiko kematian, secara statistik sangat kecil. Penyakit itu disebut tak ada obatnya, tak dapat pula dicegah.
“Banyak yang bertanya apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban anak yang menderita penyakit itu. Peluk Ia. Jangan bekerja terus,” kata Storment.
ADVERTISEMENT
Kematian WIley tak hanya mengajarkan Storment untuk berhenti menjadi workaholic. Tapi juga membuatnya jadi lebih dekat dengan keluarganya.
Kini, anaknya tinggal satu. Namanya Oliver. Storment mengaku tak lagi menolak saat anaknya mengajak bermain ketika ia tengah bekerja. “Itu membuat Oliver senang, kami jadi dekat karena sering menghabiskan waktu bersama,” kata Storment.
(NS)
Baca lebih banyak berita mengenai berita heboh/artis/seleb/sepak bola/info unik lebih nyaman di aplikasi kumparan.
Download aplikasi Android di sini.
Download aplikasi iOS di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan