Konten dari Pengguna

3 Pesan dari Konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji

Berita Terkini
Penulis kumparan
27 Oktober 2023 20:06 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Sumber foto: Unsplash/Markus Spiske
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Sumber foto: Unsplash/Markus Spiske
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji! Kesultanan Banten berhasil mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651 hingga 1683.
ADVERTISEMENT
Bersamaan dengan itu, sedang terjadi konflik internal kerajaan dalam Kesultanan Banten. Dikutip dari buku Ensiklopedia Kerajaan Islam, Binuko Amarseto (2017), konflik internal kerajaan terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan sang putra, yaitu Sultan Haji.

Sebutkan Pelajaran yang Dapat Kita Petik dari Konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji!

Ilustrasi Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Sumber foto: Unsplash/Pawel Furman
Konflik internal yang terjadi di Kasultanan Banten disebabkan oleh upaya Sultan Haji yang ingin merebut kekuasaan sang ayah dengan cara bersekongkol bersama VOC. Pada akhirnya, Sultan Haji berhasil mendapat keinginannya.
Sultan Haji naik takhta Kesultanan Banten menggantikan kedudukan sang Ayah. Berikut jawaban atas pertanyaan, "Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji!".

1. Keserakahan dan Ambisi yang Berlebihan

Hikmah dari konflik Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang dapat diambil adalah bahwa kehancuran sebuah kerajaan di Indonesia dapat juga disebabkan karena keserakahan. Keserakahan ini dapat dilihat dari bagaimana Sultan Haji ingin merebut kekuasaan ayahnya.
ADVERTISEMENT
Ambisi keluarga kerajaan yang berlebihan menjadi salah satu alasan terjadinya konflik tersebut. Terlebih lagi jika ambisi tersebut merupakan ambisi ke arah yang buruk.

2. Berkhianat dan Termakan Hasutan

Demi menggapai keinginannya tersebut, Sultan Haji memilih untuk bersekutu dengan VOC atau Kongsi Dagang Hindia Belanda. Padahal, Sultan Ageng Tirtayasa sangat menentang keras kependudukan VOC di Nusantara.
Pada 1652, Sultan Ageng Tirtayasa mengirim pasukannya untuk menyerang VOC di Jakarta. Serangan tersebut berujung pertempuran antara Kesultanan Banten dengan Belanda.
Hal tersebut berguna untuk melindungi kerajaan, Sultan Ageng Tirtayasa yang awalnya masih berpihak pada Kesultanan Banten melakukan sabotase dan merusak kebun tebu serta pabrik-pabrik penggilingan VOC pada 1656.
Tidak hanya itu, pasukan Kesultanan Banten juga membakar kampung-kampung yang dijadikan sebagai tempat pertahanan Belanda. Berkat jerih payahnya, sejumlah kapal VOC dan beberapa pos penting pun berhasil dikuasai oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, upaya Sultan Ageng Tirtayasa untuk mengalahkan VOC kurang disetujui oleh sang putra, Sultan Haji. Belanda yang mengetahui hal ini pun mencoba menghasut Sultan Haji demi membantu mereka menghancurkan Kesultanan Banten.

3. Melakukan Taktik Adu Domba

Taktik Belanda dalam mempengaruhi Nusantara disebut sebagai devide et impera atau taktik adu domba. Tujuannya adalah untuk memecah belah keluarga kerajaan.
Setelah Sultan Haji melakukan perjanjian bersama VOC, pertempuran sengit antara ayah dan putra ini dimulai. Meskipun Sultan Ageng Tirtayasa harus melawan putranya sendiri, dia tidak melemah dan tetap melakukan perlawanan besar.
Namun, pada akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap oleh VOC dan dipenjara di Batavia sampai meninggal dunia pada 1692. Karena kejadian tersebut, Sultan Haji naik takhta sebagai pemimpin Kesultanan Banten dari tahun 1683 hingga 1687.
ADVERTISEMENT
Itulah penjelasan mengenai pesan atas pertanyaan, "Sebutkan pelajaran yang dapat kita petik dari konflik antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji!". Semoga penjelasan di atas dapat menambah wawasan para pembaca. (Gin)