Pencarian populer
USER STORY
16 April 2019 18:01 WIB
0
3

Quick Count Jadi Penyelamat Pemilu di 5 Negara Ini

Ilustrasi Quick Count. Foto: Widodo S Jusuf/Antara
Pembicaraan mengenai Quick Count (hitung cepat) kembali ramai seiring mendekatnya Pemilu 2019 yang digulir pada Rabu (17/4). Selain itu, Mahkamah Konstitusi juga baru memberikan kepastian terkait waktu tayang Quick Count.
ADVERTISEMENT
National Democratic Institute (NDI) sebagai lembaga yang mendukung penerapan demokrasi menjabarkan soal manfaat besar Quick Count. Hal itu didasarkan pada pengalaman NDI melakukan pengawalan terhadap penyelenggaraan pemilu.
Dalam handbook berjudul 'The Quick Count and Election Observation: An NDI Guide for Civic Organizations and Political Parties', mereka membeberkan soal manfaat Quick Count yang menyelematkan pemilu di enam negara.
Berikut adalah pemilu di enam negara yang terselamatkan akibat penerapan Quick Count:
1. Pemilu 1988 di Chile
Dalam pemilu yang menentukan apakah pemerintahan kepemimpinan Augusto Pinochet dilanjutkan atau tidak, Committee for Free Elections (CEL) menggunakan Quick Count berbasis statistik untuk memperkirakan hasil dari 22.000 TPS di Chile.
Berdasarkan 10 persen sampel dari jumlah TPS, CEL secara akurat meramalkan kemenangan untuk kelompok anti-Pinochet. Quick Count pun memaksa pemerintahan yang berkuasa saat itu untuk mengakui kekalahan. Para ahli berspekulasi sangat mungkin adanya manipulasi dari rezim Pinochet jika tidak ada Quick Count yang digulir CEL.
ADVERTISEMENT
2. Pemilu 1989 di Panama
Saat itu jelas bagi Manuel Noriega, pemimpin militer di Panama sejak 1983, mengalami kekalahan dalam Pilpres 1989 lewat pemungutan suara. Namun, pemerintah saat itu justru menangguhkan hasil di tingkat daerah dan berupaya mengumumkan hasil palsu.
Sebuah organisasi Gereja Katolik, Archdiocese Commission for the Coordination of Laity (sekarang Commission for Justice and Peace) menggunakan metode Quick Count. Hasil yang independen ini menunjukkan bahwa Noriega mengalami kekalahan. Pada akhirnya, Guillermo Endara yang dinobatkan sebagai pemenang.
3. Pemilu 1990 di Bulgaria
Dalam pemilu pertama pasca era komunis, kelompok oposisi gabungan (UDF) diklaim pasti menang melawan Partai Sosialis (sebelumnya Komunis). Tak terbayangkan oleh mereka bahwa mereka bisa kalah dalam pemilihan yang bebas dan adil.
ADVERTISEMENT
Ketika hasil resmi mengindikasikan kemenangan Partai Sosialis, ketegangan pun meningkat. Unjuk rasa terjadi di pusat kota Sofia yang melibatkan 60.000 demonstran. Pasukan militer dikerahkan pemerintah untuk mengatasinya.
Dalam kondisi itu, The Bulgarian Association for Fair Elections and Civil Rights (BAFECR), sebuah organisasi non-partisan yang dipercaya opisisi, melakukan Quick Count. Hasil BAFECR membuktikan kepada opsisi bahwa mereka kalah. Para demonstran pun pulang dengan damai.
4. Pemilu 1996 di Republik Dominika
Kecurangan yang dilakukan pihak petahana memungkinkan Joaquin Balaguer untuk kembali menduduki kursi presiden. Namun, pihak Balaguer justru terpecah belah dan mendesak untuk dilakukan pemilihan baru pada 1996.
Lembaga sipil Citizen Participation (PC) dibentuk untuk memantau proses pemilu. Selama periode sebelum pemilu, sebuah partai politik mengangkat isu soal potensi pemungutan suara ilegal. Hal ini meningkatkan ketegangan dan kecurangaan di antara keduanya.
ADVERTISEMENT
Untungnya, laporan Quick Count PC membantu menghilangkan kekhawatiran itu di kedua putaran pemilu. Metode tersebut juga dilakukan sebuah kelompok pengamat pemilu pada Pemilu 2000. Dampaknya, hasil Quick Count membantu menenangkan situasi dan mengklarifikasi kabar-kabar tak sedap.
5. Pemilu 1997 di Kenya
Masyarakat sipil Kenya menunjukkan kekuatannya dengan mengerahkan lebih dari 28.000 relawan untuk memantau pada periode sebelum pemilu, prosedur pemilu, dan penghitungan saat hari H.
Relawan ini ditempatkan dalam 14.000 TPS. Selanjutnya, Komite Keadilan dan Perdamaian Katolik ikut membantu dengan melakukan Quick Count. Data dikumpulkan secara perlahan dan digunakan untuk konfirmasi bahwa hasil resmi bisa dipercaya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80