kumparan
11 Sep 2019 8:19 WIB

Berkat Angklung, Siswa Tunanetra Pernah Tampil di Jerman

Siswa YPAB saat membawakan lagu Bagimu Negeri bersama pengurus Rotary Surabaya. Foto : Masruroh/Basra
Punya keterbatasan dalam fungsi penglihatan tak memadamkan semangat siswa-siswi SMPLB dan SMALB Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya untuk berkarya. Bahkan, mereka sangat piawai memainkan gamelan dan angklung.
ADVERTISEMENT
"Bemain alat musik termasuk dalam mata pelajaran seni budaya di sekolah kami. Kalau ada pentas, baru kami latihan intensif. Seperti saat tampil di acara Rotary, kami latihan sehari saja. Biasanya kami tampil beramai-ramai. Kali ini seusai permintaan, kami bermain dengan tujuh anak," jelas Riski Nurilawati, guru seni budaya SMPLB dan SMALB YPAB Surabaya, kepada Basra, Selasa (10/9).
Kemampuan bermusik para siswa YPAB telah dilatih sejak mereka duduk di bangku kelas tujuh.
Berkat permainan angklung yang menawan, 28 siswa YPAB juga sempat tampil di Jerman pada Juni 2015.
Riski Nurilawati atau yang akrab disapa Kiki mengaku bersyukur siswanya bisa keliling dunia berkat bermain musik angklung. Di Jerman kala itu, siswa-siswanya tidak hanya tampil di satu tempat, tapi juga di kota-kota lainnya selama dua minggu.
ADVERTISEMENT
Kiki yang juga penyandang tunanetra ini mengaku tidak ada kesulitan dalam mengajari anak didiknya. Sebab, dalam setiap mengajarkan memainkan alat musik tradisional sangat dinikmatinya.
Ia lantas menjelaskan bermain musik angklung bukan hanya bunyinya yang terdengar merdu, melainkan juga etika dalam bermain. Sebab dalam memainkan musik angklung yang paling utama adalah kekompakan dalam kelompok.
“Etika itu juga perlu saat diatas panggung. Kalau tidak, itu bisa mempengaruhi bagus tidaknya penampilan. Yang terpenting etika dalam bermain musik. Itu kunci dalam segala permainan musik,” tukasnya. (Reporter : Masruroh / Editor : Windy Goestiana)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan