News
·
6 April 2021 11:29

Bioskop di Surabaya Buka Lagi, Epidemiolog: Perhatikan Protokol VDJ

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Bioskop di Surabaya Buka Lagi, Epidemiolog: Perhatikan Protokol VDJ (93019)
Bioskop di Surabaya yang mulai buka lagi. Epidemiolog Unair mengingatkan tentang protokol VDJ. Foto-foto: Masruroh/Basra
Setelah tutup selama setahun, bioskop di Surabaya akhirnya beroperasi kembali.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal tersebut, pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dr Windhu Purnomo
mengingatkan risiko penyebaran virus corona jauh lebih besar di dalam ruangan ketimbang di luar ruangan.
“Tidak bisa dipungkiri risiko penyebaran virus di indoor lebih besar. Risiko penularan (di bioskop) tetap ada," ujar Windhu kepada Basra, Selasa (6/4).
Lebih lanjut Windhu menjelaskan, protokol kesehatan mempunyai peran vital dalam menekan penyebaran virus corona. Tak terkecuali terkait protokol VDJ alias Ventilasi-Durasi-Jarak, yang harus betul-betul diperhatikan pengelola gedung bioskop.
Menurut Windhu, V adalah ventilasi yang artinya berkaitan dengan sirkulasi udara. Risiko penularan virus corona lebih rendah jika ada aliran udara segar.
"Lain ceritanya dengan ruangan yang tertutup yang ber-AC, di mana udara kembali resirkulasi. Nah, bioskop kan ruangan tertutup yang ber AC sehingga cukup berisiko terhadap penularan COVID-19," jelasnya.
Bioskop di Surabaya Buka Lagi, Epidemiolog: Perhatikan Protokol VDJ (93020)
Setelah ventilasi, ada pula aspek lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu durasi atau “D”. Dikatakan Windhu, durasi juga menentukan penyebaran virus corona dalam satu lingkungan. Sebab, semakin lama durasi kita berinteraksi dengan seseorang yang telah terinfeksi atau mengembangkan gejala-gejala COVID-19, maka semakin besar potensi penularan terjadi. Oleh sebab itu diwajibkan menggunakan masker, dan cobalah sebisa mungkin untuk mempersingkat waktu ketika melakukan kegiatan di luar rumah.
ADVERTISEMENT
"Durasi penayangan film di bioskop kan cukup lama, sekitar dua jaman. Itu terlalu riskan, kecuali kalau yang diputar itu film-film berdurasi pendek," imbuh Windhu.
Terakhir “J” alias jarak. Untuk mencegah penularan virus corona, setidaknya kita perlu menjaga jarak aman sejauh 2 meter dengan orang lain. Menurut Windhu, semakin tertutup suatu ruangan maka jarak satu sama lain harus semakin lebar.
"Seperti halnya di bioskop yang tertutup maka jarak antar penonton juga harus makin lebar, malah bisa lebih dari dua meter," tukasnya.
Terlepas dari telah beroperasinya bioskop, Windhu menekankan yang mengetahui betul kondisi suatu daerah adalah pimpinan dari daerah tersebut. Menurut Windhu, sebelum memutuskan untuk melakukan relaksasi terhadap tempat rekreasi hiburan umum (RHU) tentu yang harus dilihat adalah angka positivity rate-nya.
ADVERTISEMENT
“Tidak cukup hanya melihat berapa yang positif. Yang penting positivity rate, jumlah yang positif dibagi jumlah orang yang diperiksa di hari yang sama. Yang dilansir tiap hari kan tidak ada jumlah yang di tes. Kita tidak boleh hanya melihat jumlah yang positif, harus juga dilihat yang di tes,” jelasnya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata Windhu, menerapkan standar bila angka positivity rate di atas 5 persen termasuk high incidence, 10-20 persen moderate incidence, dan di atas 20 persen very high incidence. Jika angka positivity rate di bawah 5 persen, artinya setiap 100 orang yang diperiksa ada 5 yang positif, maka relaksasi bisa dilakukan.
Windhu kembali menegaskan RHU seperti taman dan hutan kota, lebih rendah risiko penularannya dibanding tempat tertutup seperti bioskop.
ADVERTISEMENT