Mom
·
18 September 2020 9:57

Cara Hitung Napas Anak yang Jadi Tanda Pneumonia

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Cara Hitung Napas Anak yang Jadi Tanda Pneumonia (27153)
Pixabay
Pneumonia masih menjadi penyebab kematian anak nomor satu di dunia yang seharusnya dapat dicegah. Bahkan menurut penelitian di Johns Hopkins University dan Save The Children, pneumonia akan membunuh 11 juta anak di tahun 2030 jika tidak dicegah. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, satu dari lima kematian balita di Indonesia disebabkan pneumonia.
ADVERTISEMENT
Menurut tulisan Dr. Madeleine Ramdhani Jasin, Sp.A di laman resmi IDAI, pneumonia merupakan radang paru akut yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, misalnya bakteri atau virus.
Menurut data badan kesehatan dunia (WHO), pneumonia menjadi penyebab 15 persen dari seluruh kasus kematian anak balita di dunia. Selain itu, ternyata pneumonia merupakan penyakit yang lebih mematikan untuk anak dibanding diare, malaria, HIV/AIDS, maupun campak.
Gejala pneumonia didahului dengan demam dan gejala infeksi saluran pernapasan atas akut, misalnya batuk, yang kemudian memburuk menjadi sesak. Sesak merupakan gejala utama pada pneumonia.
Sesak pada anak ditandai dengan napas cepat dan tarikan dinding dada ke dalam. Mengenali secara dini gejala sesak pada anak penting untuk diketahui orangtua atau pengasuh, agar anak dapat segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat dan mendapat pertolongan secara cepat dan tepat.
ADVERTISEMENT
Bagaimana cara menghitung napas anak?
Cara menghitung napas anak dapat dilakukan dengan meletakkan tangan orangtua atau pengasuh pada dada anak dan menghitung gerak napas anak dalam 1 menit.

Napas anak dikatakan cepat apabila frekuensi napas anak lebih atau sama dengan 60 kali permenit pada anak berusia < 2 bulan, lebih atau sama dengan 50 kali permenit pada anak berusia 2 bulan hingga 11 bulan, dan lebih atau sama dengan 40 kali permenit pada anak berusia 1 tahun hingga 5 tahun.

Bila napas anak menjadi cepat disertai dengan tarikan dinding dada ke dalam, dan anak bernapas sambil mengangguk-angguk ketika bernapas dan tampak kebiruan pada bibir, maka pada anak tersebut terdapat kondisi sesak napas.
ADVERTISEMENT
Anak dengan pneumonia ditangani dengan pemberian oksigen dan pemberian antibiotik di fasilitas kesehatan. Tanda bahaya lainnya yang merupakan kegawatan pada anak adalah jika terdapat kejang, penurunan kesadaran, anak tampak membiru atau tidak mau minum.
Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang mematikan terutama pada anak balita. Mengenali secara dini gejala pneumonia oleh orangtua dan pengasuh dengan melakukan hitung napas anak penting untuk tata laksana yang cepat dan tepat sehingga dapat menghindari kematian karena pneumonia.
Menurut dr. Dini Adityarini, Sp.A spesialis tumbuh kembang anak dari RSIA Kendangsari Merr Surabaya, pneumonia bisa dicegah dengan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PVC) yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
"Imunisasi ini dilakukan empat kali di rentan usia 0 sampai 2 tahun. Bila sudah memberikan ASI dan melakukan imunisasi PVC kemungkinan terkena pneumonia akan sangat kecil. Karena tubuh anak sudah terproteksi dengan baik," kata Dini.
ADVERTISEMENT