Kisah Maya Stolastika Bertani Organik, Lawan Stigma Petani Profesi Orang Gagal

Konten Media Partner
1 November 2022 8:53
·
waktu baca 12 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
PETANI PEREMPUAN : Maya Stolastika Boleng, pemilik Twelve's Organic di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Foto-foto: Berita Anak Surabaya
zoom-in-whitePerbesar
PETANI PEREMPUAN : Maya Stolastika Boleng, pemilik Twelve's Organic di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Foto-foto: Berita Anak Surabaya
ADVERTISEMENT
Sejak tahun 2017 sampai 2020 jumlah petani di Indonesia terus menurun jumlahnya. Menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2017 ada 39,7 juta orang Indonesia menjadi petani. Namun di tahun 2020 jumlah tersebut terus menyusut menjadi 33,3 juta orang. Dan dari jumlah yang terus berkurang itu, jumlah petani muda Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya sekitar 2,7 juta orang.
ADVERTISEMENT
Salah satu petani muda yang tak pernah menyesal telah mendedikasikan waktu dan energinya untuk mengolah, mengeksplorasi, dan memperbaiki kualitas pangan lokal Indonesia adalah Maya Stolastika Boleng, pemilik Twelve's Organic di Desa Claket dan Desa Mligu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Maya adalah perempuan berusia 37 tahun yang lahir di Flores Timur. Sejak tahun 2007 atau saat masih menjadi mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Negeri Surabaya, Maya mulai berkenalan dengan pertanian organik secara tidak sengaja.
"Saat itu, saya bersama teman-teman kampus datang ke Baturiti, Bali, untuk ikut kelas yoga. Ternyata pemilik kelas yoga itu punya kebun organik seluas 14 hektar. Di sana untuk pertama kalinya saya disuguhkan jus wortel yang ternyata rasanya segar dan tidak ada bau sayur. Saya yang awalnya enggak suka sayur, jadi penasaran kenapa sayur bisa seenak itu beda dengan yang pernah saya coba. Di situlah saya dikenalkan ada konsep bertanam dengan cara organik, pemakaian kimia sintetis sangat dibatasi bahkan dieliminasi mulai dari menghasilkan produk sampai ke tangan konsumen," kata Maya pada Basra, (23/10).
ADVERTISEMENT
Selama di Bali, perkenalan Maya dengan pertanian organik ternyata membekas. Dia selalu teringat ucapan sang guru yoga yang mengatakan pertanian organik itu memberikan kebaikan.
SEMANGAT PEREMPUAN : Maya dan Wita, dua sahabat yang mendirikan Twelve's Organic di Desa Claket, Mojokerto, Jatim.
zoom-in-whitePerbesar
SEMANGAT PEREMPUAN : Maya dan Wita, dua sahabat yang mendirikan Twelve's Organic di Desa Claket, Mojokerto, Jatim.
"Pertanian organik itu menjaga kesehatan tanah, menyeimbangkan ekosistem, dan memberi dampak kesehatan yang baik untuk orang yang mengonsumsinya. Saya pernah mencatat biodiversity apa saja yang hidup di kebun sebelum kami mengolah tanahnya. Waktu itu ada sekitar 100 jumlahnya, ternyata setelah kami menjalankan pertanian organik, jumlah hewan dan tumbuhan itu lebih banyak lagi jenisnya. Dari situ saya percaya pertanian organik adalah masa depan pertanian," kata Maya.
Saat kembali ke Surabaya, Maya dan keempat temannya mulai memikirkan ucapan sang guru yoga untuk menjadi manusia bermanfaat dan memberi kebaikan pada sesama. Mereka pun sepakat untuk mengelola kebun organik sendiri.
"Kami pilih pertanian organik karena ini something new di tahun 2008. Lagipula dampaknya bisa sangat dirasakan. Saat itu kami berlima mengumpulkan uang dari hasil mengajar les bahasa Inggris, hasil jualan pulsa gosok, dan camilan. Modalnya terkumpul Rp 500 ribu dan kami bisa sewa lahan seluas 5 ribu meter persegi di Claket ini. Kami beri nama Kembang Organic Farm karena berlima perempuan semua. Saat itu kami sewa satu tahun, kami beli pupuk, benih sawi, dan kami dikenalkan dengan petani-petani di Claket," kata Maya.
ADVERTISEMENT
Semangat yang menggebu untuk bertani organik di awal-awal ini diakui Maya belum diiringi dengan pengetahuan tentang berkebun terutama lama masa tanam masing-masing sayuran.

"Jadi saat itu kami tanam sawi di bulan Februari 2008, bulan Maret sudah panen. Kami enggak tahu kalau masa tanam sawi itu cuma sekitar 20 hari. Jadi kami kaget tiba-tiba ditelepon panen 1,5 ton sawi. Kami jujur kebingungan mau dijual ke siapa, kalau pasar ke pasar mana. Tahun itu kan enggak seperti sekarang bisa promo lewat WhatsApp. Jadi kami pakai buku Yellow Pages dan mulai telepon orang satu per satu nawarin sayuran kami. Tapi cara itu juga enggak berhasil karena orang kan belum percaya. Akhirnya kami dapat kenalan untuk jual sayur sawi sebanyak itu ke Pasar Keputran Surabaya. Karena itu pasar induk saya pikir bakal cepat laku. Tapi ternyata masalah belum selesai. Jual sayur di pasar induk persis kayak pasar saham. Harga berubah terus, mau dilepas atau enggak harga segini. Kami sempat nawarin ke hotel, restoran, juga enggak laku. Bener-bener kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Kami rugi. Tapi dari situ kami jadi belajar tentang manajemen pasar," kata Maya.

ADVERTISEMENT
Setelah pelajaran berharga tersebut, di tahun 2009 Maya dan rekannya mulai mengevaluasi bisnis mereka.
"Tiga teman kami memutuskan untuk tidak lanjut lagi. Jadi tinggal berdua saya dan Wita. Kebetulan saat itu masa sewa lahan juga habis, dan kami berdua juga bertanya-tanya, 'lanjut enggak ya?' Karena kita udah berdarah-darah banget nih awalnya. Lalu saat kami sedang mempertimbangkan itu, ada telepon masuk dari satu-satunya customer kami. Dia tiba-tiba telepon dan tanya 'kapan mbak kirim sayur lagi?' Kami menganggap itu seperti pertanda dari Tuhan untuk melanjutkan usaha ini. Telepon itu seperti pesan dari surga," kata Maya.
Meski mulai memberanikan diri mencoba pertanian organik untuk kedua kalinya, Maya dan Wita sudah kehabisan modal. "Kami kan sering jalan ke beberapa lahan di daerah sini (Claket), akhirnya kami diizinkan mengelola lahan seluas 2.500 m2 yang sudah lama tidak dirawat karena yang punya sudah tua. Saya bilang saya mau sewa tapi belum punya duit, si pemilik kebun bilang nanti bayarnya kalau sayur saya sudah laku. Jadilah itu upaya kedua kami jadi petani organik," kata Maya.
Kisah Maya Stolastika Bertani Organik, Lawan Stigma Petani Profesi Orang Gagal (15797)
zoom-in-whitePerbesar

Jadi Supplier Sayur Organik di 7 Supermarket Besar di Surabaya

ADVERTISEMENT
Sambil bertani organik di lahan 2.500 m2, Maya ternyata masih punya pekerjaan sampingan sebagai guru les kumon di Surabaya. Saat dirinya sedang beristirahat di sebuah supermarket premium di kawasan Surabaya Barat, tiba-tiba dirinya dihampiri manajer supermarket tersebut.
"Dia nyapa saya, dia ingat saya pernah nawarin sayur organik ke dia. Dia bilang butuh supplier sayur organik. Akhirnya dari situ, seperti kesempatan terbuka lebar, kami juga jadi supplier untuk enam supermarket lain di Surabaya. Kesempatan yang tidak disangka, tapi tiba-tiba datang," cerita Maya.
Kerja sama dengan supermarket besar ternyata memberikan pelajaran tersendiri bagi Maya dan Wita. "Kami banyak belajar tentang quality control, packaging, dan ukuran sayur itu harus seberapa supaya lolos jual. Semua kriteria itu kami ikuti. Saat itu kami supply bayam merah, bayam hijau, selada hijau, wortel, sawi pakcoy, dan caisim," kata Maya.
ADVERTISEMENT

Stigma Petani adalah Profesi Orang Gagal

Kesuksesan Maya dan Wita menjadi supplier sayur organik ke supermarket-supermarket ternyata tak bertahan lama. Pada 2010 mereka dihadapkan pada kewajiban untuk lulus kuliah dan keluarga belum merestui anak mereka jadi petani.
"Dulu seperti ada anggapan kalau jadi petani itu orang yang gagal. Orang yang enggak berani bersaing dan enggak punya kapasitas. Akhirnya saya ke Bali dan kerja di pertanian organik di Baturiti itu sebagai manager, sedangkan Wita kerja di hotel. Saya sempat bergonta-ganti pekerjaan dan belajar hal baru seperti manajemen bisnis, dan belajar membuat estimasi. Tapi karena enggak passion jadi ya memutuskan resign. Sampai akhirnya saya sama Wita dipertemukan dalam satu project bersama," kata Maya.
Dalam pertemuan tersebut, Maya dan Wita diminta oleh seorang ekspatriat yang juga mantan atasan mereka untuk menjalankan perusahaan barunya dengan gaji sesuai permintaan.
ADVERTISEMENT
"Tapi bukannya kami menerima, kami justru merasa ya sudah ini adalah pembuktian kalau kami ini punya kualitas yang bisa dihargai sebaik itu. Kami menolak tawaran mantan bos saya itu, dan kami malah terpikir untuk kembali ke pertanian organik karena memang itu passion kami," jelas Maya.

'Second Zero Start'

Maya tak memungkiri kalau ada ketakutan luar biasa saat dia dan Wita memutuskan kembali bertani. Tawaran jabatan yang prestige, gaji tinggi, dan karir yang menjanjikan, sudah mereka lepas demi mengikuti panggilan hati untuk bertani.
"Saya sudah pernah merasakan gagal bertani, punya hutang, dan pertanian organik bukan hal mudah. Apalagi posisi karir yang kita tinggalkan juga diinginkan banyak orang. Ini seperti pertaruhan. Tapi Wita bilang, "apa kamu enggak nyesel kalau enggak coba (bertani) lagi? Tiga tahun dari sekarang mungkin kita bisa berhasil, kamu enggak penasaran?" kata Maya mengulang ucapan sahabatnya itu.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Akhirnya di tahun 2012 mereka kembali ke Desa Claket. Maya dan Wita dibuat terkejut dengan harga sewa lahan yang sudah mencapai Rp 7,5 juta per tahun dan harus menyewa selama 15 tahun.
"Karena modal kami belum sebanyak itu, akhirnya kami enggak memaksakan diri menyewa lahan. Kami ubah strategi. Saya dan Wita ambil produk organik teman-teman petani lain untuk dijual ke supermarket besar di Surabaya, Balikpapan, Pontianak, Bali, dan Lombok, dan ternyata cara itu sukses. Penghasilan kami sangat besar," kata Maya.

Kebun Diracun, Modal Puluhan Juta Hanya Sisa Rp 1 Juta

Pada tahun 2013 Maya dan Wita menerima tawaran kerja sama mengelola kebun dari seorang crazy rich di Surabaya. Selama satu tahun pertama Maya terkejut karena tidak satupun tanaman mereka berhasil panen.
ADVERTISEMENT

"Jadi setelah kami pelajari, tanah di kebun itu diracun. Saya ibarat menjalankan 'tanah terkutuk' karena semua yang kami tanam tidak ada yang bisa tumbuh. Modal puluhan juta yang kami kumpulkan di kerja sama itu mulai habis untuk beli obat, pupuk, benih, dan nutrisi. Tapi kami bertahan. Pelan-pelan kami memperbaiki kualitas tanahnya. Begitu tanah mulai sehat, tanaman tumbuh dan hampir panen, kami diputus sepihak oleh crazy rich tadi. Kami ingat kami enggak punya uang lagi karena semua dipakai untuk memperbaiki kebun. Uang kami hanya sisa Rp 1 juta untuk hidup berdua," kenang Maya.

Pantang Pulang Sebelum Jadi Pemenang

Maya dan Wita harus menerima situasi pelik dan tagihan hutang yang terus memanggil dari hari ke hari. "Pernah kami hanya beli beras itu seperempat kilo atau setengah kilo untuk berdua. Kami kumpulkan uang-uang receh untuk beli mi instan dan beras. Kami enggak cerita ke orang tua karena itu kan pilihan kami sendiri. Pernah mau pinjam ke rentenir tapi ternyata Tuhan enggak mengizinkan. Senjata kami setiap hari hanya doa, puasa, dan tahajud bukan karena kami relijius, tapi karena situasi itu sudah enggak mungkin kami atasi sendiri," kata Maya.
ADVERTISEMENT
Pertolongan Tuhan itu datang. Maya bercerita sepulang dari usahanya meminjam uang ke rentenir yang tidak membuahkan hasil, dia tiba-tiba ditelepon teman lamanya.
"Teman saya bilang, 'May kamu enggak butuh uang ta? Ini lho aku ada uang kamu pakai dulu aja. Aku masih belum butuh. Nanti-nanti aja ngembaliinnya kalau kamu sudah ada'. Dan jumlah uang yang dipinjamkan teman saya itu persis jumlah hutang saya," kata Maya.
Pada 2015 saat sedang berkeliling mencari kebun yang akan disewa, Maya dan Wita dihubungi seorang petani yang ingin mengenalkan mereka dengan atasannya di perusahaan perkebunan besar di Jawa Timur.
Ternyata perusahaan itu ingin Maya dan Wita mengelola lahan tidur mereka agar lebih produktif dan menghasilkan. Maya dan Wita pun sepakat untuk mengelola lahan seluas 3,5 hektar. Dua sahabat ini memiliki strategi jitu agar lahan yang semula tidak dimanfaatkan justru menjadi pundi-pundi rupiah yang menjanjikan.
ADVERTISEMENT
"Caranya kami buka kebun itu untuk konsumen. Kami beri nama program itu Garden Fresh Market. Jadi kami punya kalender tanam dan panen. Saat panen tiba, kami atur kebun supaya konsumen bisa petik sayur sendiri setiap Sabtu Minggu. Ternyata orang belanja gila-gilaan. Setiap kebun dibuka kami bisa jual sayur 200-250 kilogram. Dari situ kami optimis ternyata orang suka melihat proses produksi. Ini kesempatan untuk mengedukasi pasar," kata Maya.
Dan terbukti, jatuh bangun Maya mengelola pertanian organik ternyata menuai penghargaan sebagai Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia pada tahun 2016 dan meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan.
Maya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan.
zoom-in-whitePerbesar
Maya meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan.

Sukses karena Tidak Mengikuti Hukum 'Supply and Demand'

Maya bercerita bahwa masalah pertanian di Indonesia ini berkutat pada melimpahnya hasil panen tapi tidak bisa terserap seluruhnya di konsumen. Salah satu penyebabnya karena petani terlalu memaksakan diri menuruti keinginan konsumen tanpa memedulikan faktor alam yang tak bisa dilawan.
ADVERTISEMENT

"Saya pernah diketawain saat saya bilang kita terlalu terpaku pada hukum ekonomi "supply and demand". Menurut saya hukum itu tidak berlaku untuk bidang pertanian. Konsumen maunya sayur tertentu harus ada terus sepanjang tahun. Sedangkan petani ini tantangannya di musim. Saat musim hujan, petani enggak bisa menanam sayur seperti pakcoy karena enggak memungkinkan. Pasti gagal panen karena tanah terlalu lembab. Kalaupun sayurnya bisa bertahan petani melakukan banyak cara seperti memberikan pestisida kimia dan pupuk kimia supaya sayur ini kuat. Tapi apakah sehat dikonsumsi? Kalau kualitas sayur lokal jelek, ujung-ujungnya impor. Sedangkan ini petani sudah berusaha mati-matian. Seharusnya kita tawarkan dulu sayur apa yang bagus di musim hujan misalnya, kita edukasi kenapa sayur ini bagus untuk dikonsumsi di musim hujan. Nanti kalau konsumen sudah teredukasi, barulah tercipta permintaan. Sayur yang berhasil tumbuh dan dipanen sesuai musim itu punya kandungan nutrisi, antioksidan, lebih tinggi karena berhasil survive," kata Maya.

ADVERTISEMENT
Sejak 2015 Maya dan Wita sudah menggunakan strategi end user oriented untuk menjual produk sayur mereka langsung ke tangan konsumen. Dengan begitu, mereka bisa langsung mengedukasi konsumen dan mengetahui permintaan pasar secara langsung.
Karena itu saat pandemi COVID-19 usaha pertanian organik milik Maya justru mengalami kenaikan permintaan. "Karena orang saat pandemi jadi lebih sadar konsumsi makanan sehat, dan sejak 2015 kami sudah memasang strategi langsung jual ke konsumen dan reseller, jadi saat hotel restoran kolaps, kami survive," jelas Maya.
Hingga kini Maya memiliki 300 konsumen tetap dari skala rumah tangga, serta belasan reseller, dan beberapa outlet organik. Maya dan Wita dibantu 14 petani di Desa Claket untuk menjalankan Twelve's Organic. Maya selalu meyakinkan para petani perempuan bahwa petani adalah sebuah profesi menjanjikan dan pekerjaannya tidak sekadar mencangkul.
ADVERTISEMENT
Saat masuk ke Twelve's Organic, para petani wajib ikut empat kelas pelatihan yaitu kelas pemahaman pertanian organik, kelas budidaya, kelas penjaminan mutu organik, dan kelas manajemen kebun.
"Di kelas manajemen kebun saya akan jelaskan secara transparan mengapa sayur organik harganya lebih tinggi. Saya akan sampaikan hitung-hitungan ke petani berapa biaya benih, berapa ongkos tenaga, berapa harga perawatannya, dan berapa bagian yang didapat petani. Tidak cuma itu, kami bahkan mempertemukan petani dan konsumen di pertemuan konsumen supaya petani ini tahu mengapa kualitas sayurnya harus bagus," kata Maya.
Menjalankan pertanian organik harus menggunakan hati. Saat ditanya apa nutrisi yang dipakai Maya untuk menyehatkan tanaman sayurnya, Maya mengaku membuat nutrisi dari bonggol pisang, bawang putih, dan kulit telur. Bahkan pengendali hama alami yang dipakai Maya adalah tanaman bunga-bunga seperti hydrangea, krisan, dan mawar.
ADVERTISEMENT
"Dulu di awal kami hanya menanam tujuh jenis sayur sekarang di 9 kebun yang kami kelola kami bisa panen 70 jenis sayuran dan buah," kata Maya.
Ketujuh puluh jenis sayur dan buah itu di antaranya kubis ungu, romaine merah, romaine hijau, iceberg lettuce, ketela, jagung, raspberry, blackberry, strawberry, talas mbothe, lemon lokal, mentimun, wortel, cabai, tomat, serai, kunyit, jahe, labu siam, lobak, buncis, kacang panjang, daun ginseng, daun kelor, daun mint, daun pepaya Jepang, okra hijau, pucuk labu, pakis sayur, brokoli, pakcoy, sawi pagoda, bayam hijau, bayam merah, beetroot, dan masih banyak lagi.
Untuk menyiasati masalah perubahan iklim yang tak bisa diprediksi seperti sekarang ini, Maya menegaskan bahwa petani Indonesia harus adaptif.
ADVERTISEMENT
"Saat ini kalender tanam tidak lagi bisa dipakai karena musim sudah tidak bisa diprediksi. Dulu saat masih kecil, masih bisa diprediksi kapan musim hujan, kapan kemarau. Sekarang sepanjang tahun bisa hujan meski intensitasnya tidak selalu deras. Tahun depan prediksi gagal panen lebih tinggi karena itu kita sudah menyiasati dengan memperbanyak varietas tanaman. Pilih karbohidrat dari pangan lokal seperti ubi, ketela, jagung dan riset tanaman yang tahan dengan musim hujan seperti sayur kenikir, jamur, pegagan, pucuk labu, dan pakis. Dengan begitu petani tetap bisa menjual hasil panen, dan masyarakat dapat nutrisi dari sayuran sesuai musim," pungkas Maya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020