Woman
·
20 November 2020 14:37

Kisah Syanni, Bangkit dari Keterpurukan Pasca Kecelakaan yang Merenggut Matanya

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Kisah Syanni, Bangkit dari Keterpurukan Pasca Kecelakaan yang Merenggut Matanya (109444)
Syanni Oetomo Pangkey, bangkit dari keterpurukan pasca kecelakaan yang merenggut matanya
Mengalami kebutaan di usia dewasa menjadi pukulan tersendiri bagi Syanni Oetomo Pangkey. Perempuan kelahiran Surabaya 56 tahun lalu ini harus kehilangan penglihatannya pasca kecelakaan hebat yang dialaminya. Sempat terpuruk, namun akhirnya Syanni memilih 'bersahabat' dengan kebutaannya untuk terus melanjutkan hidup.
ADVERTISEMENT
25 Juni 1987, menjadi hari paling mengenaskan bagi Syanni. Sejak hari itu Syanni tak bisa lagi melihat keindahan dunia, hanya kegelapan yang menyapanya.
Mobil antar jemput karyawan yang ditumpangi Syanni dari arah Citereup – Bogor ke Jakarta kala itu menghantam bagian belakang truk yang melintang di jalur yang mereka lewati. Mobil yang ditumpangi Syanni terguling dan terhempas.
“Dari 10 karyawan, 4 orang meninggal. Depan, 2 penumpang, dan sopir. Seorang yang meninggal duduk di sebelah saya. 1 orang gegar otak, 1 orang patah kaki, 1 orang patah rusuk. Sedangkan saya, wajah, hidung, dan gigi hancur. Mata juga terkena pecahan kacamata yang saya pakai," kisah Syanni saat dihubungi Basra, Jumat (20/11).
ADVERTISEMENT
Karena kecelakaan itu, Syanni harus menjalani perawatan di rumah sakit hampir 2 bulan. Ketika pulang ke rumah, kedua mata Syanni ditutup. Setiap kali Syanni bertanya pada dokter yang kontrol, selalu dijawab masih diusahakan. Mendengar itu Syanni masih berharap matanya bisa pulih.
"Saya sedih kalau sampai tidak bisa melihat lagi karena harus bergantung pada orang lain. Apalagi saya anak pertama yang bekerja membantu ekonomi keluarga," tukas ibu satu putra ini.
Tak kunjung mendapat kepastian akan nasib kedua matanya, Syanni pun dilanda putus asa. Tiap malam menjelang tidur, dia selalu berdoa agar Tuhan segera mengambil nyawanya. Namun nyatanya Tuhan masih memberinya kesempatan menghirup nafas.
Pada November 1987 Syanni menjalani operasi kedua yang ditangani dokter ahli dari Australia. Dokter ini didatangkan untuk menangani kasusnya. Usai operasi, Syanni merasakan seluruh wajahnya sakit. Operasi itu hanya merekonstruksi wajah Syanni, tidak dengan kedua matanya. Seluruh biaya operasi ditanggung tempat Syanni bekerja sebelum kecelakaan tragis itu terjadi.
ADVERTISEMENT
Mendapati penglihatannya yang tak mungkin kembali, Syanni hanya bisa pasrah meski hatinya hancur. Pelan tapi pasti Syanni mencoba bangkit, menyemangati dirinya sendiri.
Pada Februari 1988, atas kebaikan
Mr. Supka, pria berkebangsaan Norwegia, Syanni bekerja sebagai operator telepon. Menangani 15 lines telepon dari dalam dan luar negeri, untuk 150 extention. Awalnya Syanni diberi tempat di front office bersama dengan resepsionis. Namun karena kurang percaya diri, Syanni minta duduk di dalam.
"Mr. Supra adalah pimpinan perusahaan tempat saya bekerja sebelum kecelakaan tragis terjadi. Oleh kantor, saya juga dileskan private Braile. Pertama kali pegang huruf Braile, saya menangis. Tapi saya berpikir ini tantangan," jelasnya mengenang.
Tahun 1992, Syanni menjadi utusan PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) untuk mengikuti pertandingan keterampilan penyandang cacat se-Asia Pasifik di Hongkong. Terpilihnya Syanni karena dia bekerja sebagai operator telepon dan bisa bahasa Inggris. Dalam event tersebut Syanni pun berhasil meraih juara tiga.
ADVERTISEMENT
Kemenangan tersebut kian memotivasi diri Syanni untuk terus bersemangat menjalani hidup. Hingga di tahun 1999, Syanni menikah dengan Eddy Oetomo, yang juga seorang tuna netra. Dari hasil pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai seorang putra.
"Puji Tuhan, anak saya tidak tuna netra seperti kedua orang tuanya," tukasnya.
Syanni tak memungkiri jika putranya sempat merasa minder memiliki kedua orangtua yang tuna netra. Namun seiring berjalannya waktu, putra Syanni bisa menerima kondisi kedua orangtuanya.
"Waktu kecil, dia sempat malu punya orangtua buta. Saya bisa memahami hal itu. Syukurlah, saat beranjak remaja dia mulai bisa menerima kondisi kami," imbuh Syanni.
Memiliki putra, mendorong Syanni untuk melepas pekerjaannya. Uang pesangon dari tempatnya bekerja digunakan Syanni merintis usaha baru yaitu toko stationary di depan rumah. Selain toko, Syanni juga mencari order housekeeping perusahaan atau pabrik. Usaha yang dikelolanya merangkak maju. Kini sudah ada beberapa perusahaan yang ia tangani. Dari keperluan rumah tangga seperti gula, kopi, teh, tisu, cairan pembersih, alat tulis kantor, kursi, cangkir, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Kini Syanni juga rutin menjadi motivator, memberikan suntikan semangat kepada kaum disabilitas. Syanni ingin menularkan semangatnnya agar mereka yang disabilitas tak terpuruk dengan keadaan.
"Kita harus bangkit, berjuang untuk berdiri di kaki sendiri. Jangan putus asa, kita masih punya Tuhan," tegasnya.