kumparan
7 Sep 2019 12:16 WIB

Kornea Buatan, Inovasi untuk Pasien Buta ala Mahasiswa UNAIR

Foto-foto: Masruroh/Basra
Data Bank Mata Indonesia tahun 2017 menunjukkan hanya 5-10 persen pasien kebutaan di Indonesia yang dapat menjalani transplantasi kornea. Jadi, harus ada solusi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.
ADVERTISEMENT
Berangkat dari fakta itu, tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya tergerak mencari solusi. Solusi dari para mahasiswa program studi S1 Teknik Biomedis, Fakultas Sains dan Teknologi, itu adalah membuat kornea buatan (artifisial).
Mereka adalah Novi Dwi Widya Rini selaku ketua tim, lalu ada Marsya Nilam Kirana dan Tri Astutik. Penelitian mereka didampingi oleh Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio, CCD.
"Sampai sekarang standar emas untuk menangani kerusakan permanen pada kornea adalah dengan keratoplasty, yang mentransplantasikan donor kornea ke pasien. Namun metode ini tidak sempurna karena jumlah donor kornea di Indonesia masih terbatas. Itulah mengapa tercetus ide untuk membuat kornea buatan," jelas Dr. Widiyanti kepada Basra, Jumat (6/9).
ADVERTISEMENT
Dijumpai dalam kesempatan yang sama, Marsya menjelaskan, kornea artifisial ini dibuat dengan biomaterial hasil sintesis kolagen-kitosan-sodium hyaluronate (NaHA). Penelitian tersebut menggunakan metode in vivo pada organisme dan membutuhkan waktu selama kurang lebih lima bulan.
"Kolagen tipe I merupakan komponen terbesar dari kornea, yang memiliki sifat mampu meningkatkan biokompatibilitas dan kekuatan mekanik dari material. Kolagen juga mampu meningkatkan sifat hidrofilik biomaterial pengganti kornea, yang membuat lingkungan topografi yang sesuai untuk interaksi seluler dan spesifitas jaringan," papar Marsya.
Sedangkan kitosan, kata Marsya, memiliki sifat yang baik pada bioadhesi, permeabilitas, toksisitas, dan ocular tolerance. Kitosan yang ditambahkan pada kolagen dapat memperbaiki waktu biodegradasi serta meningkatkan sifat mekanik dan kestabilan dari kolagen.
"Sodium hyaluronate juga ditambahkan karena diketahui dapat meningkatkan presentase transmitansi cahaya," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Kornea buatan ini, lanjut Marsya, tidak hanya dilakukan uji in vitro atau skala lab saja, tapi juga dilakukan uji in vivo (diimplankan) pada hewan percobaan kelinci.
Prestasi membanggakan pun berhasil ditorehkan Marsya bersama timnya, yakni menyabet emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 di Bali yang diselenggarakan pada 27-30 Agustus 2019.
"Alhamdulillah, kita berhasil meraih dua medali emas untuk kategori poster dan presentasi," imbuh Masya.
Atas prestasi yang berhasil ditorehkan ketiga mahasiswi tersebut, Dr. Widiyanti berharap nantinya kornea artifisial ini dapat membantu mengatasi masalah penglihatan, terutama di Indonesia. (Reporter: Masruroh/Editor: Windy Goestiana)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan