Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten Media Partner
Lagu Bayar Bayar Bayar Ditarik dari Platform Musik, Pakar: karena Ada Tekanan
27 Februari 2025 7:09 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Belakangan ini media sosial diramaikan dengan penarikan lagu berjudul Bayar Bayar Bayar karya band punk Sukatani, dari platform musik. Sukatani memutuskan menarik lagu tersebut dari sejumlah media sosial dan platform musik, seperti Spotify. Penarikan dan adanya permintaan maaf dari band Sukatani atas viralnya lagu tersebut, menjadi sorotan warganet lantaran dianggap mengganggu kebebasan berekspresi.
ADVERTISEMENT
Kebebasan berekspresi yang tertuang dalam karya seni menjadi sorotan bagi Puji Karyanto SS MHum, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair). Menurutnya, penarikan lagu tersebut disayangkan.
Bagi Puji, keputusan untuk menarik lagu itu menunjukkan bahwa terjadi ketegangan terkait kebebasan berekspresi di dunia seni.
“Pernyataan maaf oleh band Sukatani justru menjelaskan hal yang sebaliknya, bahwa pernyataan tersebut didasari adanya tekanan dari pihak lain,” tutur Puji, dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Kamis (27/2).
Puji menjelaskan bahwa karya seni yang tertuang dalam lagu Sukatani justru patut mendapatkan apresiasi, karena menunjukkan nilai-nilai kritik yang bertujuan meluruskan masalah sosial di sekitar. Hal itu selaras dengan konsep kesenian yang Puji sebutkan, dulce et utile, yaitu ekspresi seni yang bagus bukan hanya sekadar menyenangkan, tetapi juga memiliki kegunaan.
ADVERTISEMENT
“Tidak ada batasan khusus dalam kebebasan berekspresi yang tertuang pada suatu karya seni. Semua alternatif ekspresi seni itu dimungkinkan. Tetap perlu kita pahami bahwa seni merupakan entitas yang tidak bisa berdiri sendiri di sebuah ruang kebudayaan, melainkan terikat dengan norma dan etika yang berlaku pada ruang kebudayaan masyarakat setempat,” jelasnya.
Menurut pandangan Puji, hakikat seni memang menghadirkan kebaruan atau dengan kata lain dapat diartikan melawan kemapanan. Semestinya, tidak ada alasan apa pun bagi pihak lain untuk melakukan intimidasi terhadap suatu karya seni.
Lebih lanjut, makna sensor dan batasan ekspresi itu justru ada pada diri seniman itu sendiri, sesuai ideologi berkesenian yang dianut dalam ekspresi seninya.
“Ketika terjadi tindakan intimidasi dari pihak lain terhadap suatu karya seni, langkah yang dapat dilakukan yakni mengkamuflase isi pesan yang dapat berupa sarana simbolik. Bisa juga dengan merapatkan barisan sesama seniman melalui suatu organisasi. Sehingga jika terjadi intimidasi dapat menjadi common enemy untuk semua pelaku seni,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Di satu sisi, Puji mengatakan bahwa perlu terdapat pemahaman seni untuk suatu karya seni. Ia mengimbau para seniman untuk tetap selektif dalam menyampaikan pesan melalui karya seni.
“Cerdaslah dalam menyampaikan pesan melalui kesenian. Agar pesan yang ingin disampaikan tetap sampai, tetapi tidak kehilangan esensinya sebagai kesenian,” pungkasnya.