Pentingnya Edukasi Manajemen Risiko untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Konten Media Partner
27 April 2022 16:01
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pentingnya Edukasi Manajemen Risiko untuk Anak Berkebutuhan Khusus (39104)
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Basra
ADVERTISEMENT
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Bagong Suryanto, M.Si. mengungkapkan, anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan kelompok masyarakat yang sering kali menjadi korban stigma karena kondisi fisiknya.
ADVERTISEMENT
Kelompok ini juga rawan menjadi korban perundungan, hingga pelecehan dari orang-orang di sekitarnya, karena kondisi mereka yang dianggap berbeda.
Agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi pada anak-anak ini, Dr. Mary Philia Elisabeth, S.Psi., M.Psi., Psi. mengatakan, orang tua perlu memberikan edukasi sedini mungkin guna mengenalkan situasi sosial kepada anak.
"Orang tua itu memang melindungi anak, tapi mereka tidak pernah menghadirkan bahwa akan ada risiko dimana anak berada di situasi bahaya, dan bagaimana cara anak mengatasi bahaya tersebut," kata Mary pada Basra, Rabu (27/4).
Mary menuturkan, bahwa sebaiknya orang tua mulai mempersiapkan anak dan memperkenalkan anak terkait situasi di sekelilingnya sesuai dengan kemampuan kognitif dan bahasanya anak.
"Kalau didalam terapi biasanya menggunakan media bermain untuk menunjukkan ada kemungkinan mana situasi yang berbahaya dan aman buat dia (anak). Kalau misalnya dia ketemu situasi berbahaya, pada siapa dia minta tolong dan apa yang harus dia lakukan, itu harus diajarkan," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Terkait situasi yang aman, Mary menjelaskan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan anak untuk menolong orang yang mengalami bahaya.
"Misalnya dia harus berteriak, atau dia harus melindungi tubuh bagian yang mana. Karena kasus seperti ini cukup banyak. Di sekolah juga banyak terjadi," jelas Dosen Fakultas Psikologi Ubaya ini.
Terkait situasi berbahaya adalah situasi yang mengancam kenyamanannya dia. Misalnya ketika ada orang menawarkan permen, kalau tidak kenal dengan orangnya permen tersebut tidak boleh diambil.
"Lalu kalau ada orang minta datamu, alamatmu, kalau enggak kenal jangan dikasih. Kenal itu artinya kamu tahu keluarganya siapa, rumahnya dimana. Misalnya kamu kenal bapak ibu guru, teman bapak dan ibu yang pernah kamu bertemu, atau kalau kamu diajak kamu harus menelepon bapak dan ibu dulu," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, Mary berpesan kepada para orang tua dan pihak sekolah saling berkomunikasi serta mengadakan kelas khusus terkait situasi saat ini.
"Jadi memang pada sekolah yang selama ini belum ada oelatihan untuk anak-anak berkebutuhan khusus dan orang tua dalam hal manajemen risiko. Kebanyakan mereka masih fokus pada kognitifnya saja dan akademik. Padahal kita juga perlu memikirkan pendidikan karakter dan pendidikan pertahanan diri untuk anak-anak ini. Jadi harus ada kelas khusus untuk para orang tua dan anak. Tujuannya supaya interaksi dan komunikasi antara sekolah, orang tua dan anak terjadi dengan baik," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020