kumparan
8 Okt 2019 16:20 WIB

Siswa SD Ini Bikin Pembelajaran Matematika dari Sampah Daur Ulang

Foto : Amanah Nur Asiah/Basra
Bhimantara memang masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD). Di usianya yang begitu belia, Bima berhasil membuat media pembelajaran matematika yang menyenangkan untuk siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan PAUD.
ADVERTISEMENT
Seperti penjumlahan, pengurangan, hingga perkalian. "Karena matematika adalah pelajaran yang sangat penting. Saya ingin menggerakkan anak-anak TK ini untuk mencintai matematika sejak dini. Agar waktu SD tidak merasa kesulitan," jelas Bima, Selasa (8/10).
Dalam proses pembuatannya, Bima memanfaatkan barang-barang bekas atau tidak terpakai seperti tali, sedotan, gelas plastik, tikar, poster, tempat telur, hingga stik es krim.
Bahkan, bentuknya pun dibuat semenarik mungkin dengan tambahan gambar kartun lucu favorit anak-anak.
"Karena anak-anak usia TK dan PAUD itu kan suka kalau banyak kartun, terus warnanya juga cerah. Supaya waktu belajar nggak bosan," ungkap siswa asal SDN Airlangga 1 Surabaya ini.
Selain membuat media pembelajaran matematika, Bima juga membuat kerajinan meronce gambar.
ADVERTISEMENT
Seperti diketahui, kegitan meronce ini mempunyai banyak manfaat untuk anak-anak. Diantaranya sebagai stimulan otot anak dalam tahapan perkembangan menulis, membaca, hingga melatih daya imajinasi dan konsentrasi anak.
"Kalau meronce ini biasanya digunakan untuk pembelajaran anak inklusi," kata Bima.
Kedua media pembelajaran karya Bima ini telah diuji cobakan pada siswa TK yang ada dikawasan Gubeng Surabaya. Dari hasil uji coba tersebut, Bima mengaku jika sangat membantu para siswa dalam belajar berhitung.
"Bahkan waktu itu, ada orang tua siswa yang minta dibuatin. Karena dapat membantu anaknya ketika belajar," tuturnya.
Ke depannya, Bima masih akan terus membuat karya lain yang dapat membantu siswa TK ketika proses belajar. "Semoga dengan adanya media pembelajaran yang saya buat, anak-anak bisa senang ketika belajar. Dan yang paling penting, mereka bisa mencintai matematika sejak dini," tutup bocah asal Surabaya ini. (Reporter : Amanah Nur Asiah / Editor : Windy Goestiana)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan