Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tahun 2021 Minus 5,54 Persen

Konten Media Partner
7 Maret 2022 14:10
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tahun 2021 Minus 5,54 Persen (32528)
zoom-in-whitePerbesar
Infografis Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tahun 2021. (sumber: BPS Bojonegoro)
ADVERTISEMENT
Bojonegoro - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojongoro menyebutkan bahwa dibanding dengan tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro tahun 2021 mengalami kontraksi (turun) sebesar minus 5,54 persen.
ADVERTISEMENT
Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya produksi minyak dan gas (migas) di Kabupaten Bojonegoro, serta menurunnya produksi pertanian, khususnya padi di Kabupaten Bojonegoro.
Dari data BPS tersebut, sektor Pertambangan dan Penggalian, mengalami kontraksi sebesar minus 11,61 persen.
Sementara, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, mengalami kontraksi sebesar minus 1,21 persen.
Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tahun 2021 Minus 5,54 Persen (32529)
zoom-in-whitePerbesar
Infografis Pertumbuhan Ekonomi Bojonegoro Tahun 2021. (sumber: BPS Bojonegoro)
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro Ir Firman Bastian MSi, kepada awak media ini Senin (07/03/2022) menjelaskan bahwa pembagian atau share dana bagi hasil (DBH) migas di Kabupaten Bojonegoro cukup besar, yaitu sekitar 50 persen, sehingga sangat mendominasi perekonomian di Bojonegoro. Sementara, berdasarkan analisis BPS, produksi minyak Bojonegoro di tahun 2021 mengalami penuruan sebesar minus 11,61 persen.
"Cuma karena share-nya minyak itu sekitar 50 persen dari perekonomian Bojonegoro sehingga dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi terkontraksi oleh migas itu, sehingga menjadi minus 5,54 persen. Karena produksi minyak di tahun 2021 mengalami penuruan atau minus 11,61 persen," tutur Firman Bastian
ADVERTISEMENT
Firman menambahkan bahwa selain migas, pada tahun 2021 produksi padi di Kabupaten Bojonegoro juga mengalami penurunan atau mengalami kontraksi sebesar minus 1,21 persen.
Menurutnya, 3 daerah penyumbang produksi padi terbesar di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Lamongan, Ngawi, dan Bojonegoro, pada tahun 2021 produksinya mengalami penurunan.
"Mungkin Dinas Pertanian yang bisa menjelaskan, tetapi secara umum karena memang terjadi bencana seperti kekeringan sehingga pengairannya secara keseluruhan mengalami gangguan," kata Firman Bastian.
Namun demikian, Firman Bastian mengungkapkan bahwa selain sektor migas dan pertanian, beberapa sektor lainnya di Kabupaten Bojonegoro masih mengalami pertumbuhan.
"Tetapi di sektor lain mengalami pertumbuhan. Penyebab penurunan terbesarnya dari migas, karena migas di luar kontrol pemerintah juga. Kalau kita riil melihat tanpa data migas, sebetulnya tumbuh 3,55 persen." kata Firman Bastian. (red/imm)
ADVERTISEMENT
Editor: Imam Nurcahyo
Publisher: Imam Nurcahyo
Story ini telah dipublish di: https://beritabojonegoro.com