kumparan
25 Jul 2019 14:19 WIB

Keluar dari NII Setelah Sang Komandan Punya 9 Istri

Jember (beritajatim.com) – Dulu, saat Negara Islam Indonesia (NII) mengalami friksi, sebagian anggotanya memilih keluar untuk mendirikan Jamaah Islamiyah (JI). Namun, tidak dengan Kurnia Widodo. Ia memilih setia.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, pada akhirnya kesetiaan Kurnia kepada NII juga tak bertahan lama. Ia memilih keluar, setelah Komandan NII di Jawa Barat menikahi sembilan perempuan.
“Saya debat dia (Komandan NII Jawa Barat), 'apa dalil antum punya sembilan istri?',” kata Kurnia, dalam dialog pelibatan sivitas akademika dalam pencegahan terorisme di gedung Rektorat Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/7/2019).
Mendapat pertanyaan itu, kata Kurnia, sang komandan lalu mengelak dan enggan melayani perdebatan dengannya. Sebab dia tahu, Kurnia tak bisa diremehkan.
“Dia juga tahu saya bisa buat bom. Belakangan dia terlibat kasus fa’i, istilahnya merampok orang kafir. Dia terlibat pencurian mobil,” ujar Kurnia.
Tahun 2006, Kurnia bertemu dengan Aman Abdurrahman dalam sebuah pengajian. Ya, Aman yang dimaksud ini adalah sosok yang dijadikan guru dan pemimpin kelompok ISIS di Asia Tenggara. Ia sudah dijatuhi vonis hukuman mati akibat kasus pengeboman.
ADVERTISEMENT
Aman disebut sebagai ideolog. Kendati berada di penjara, menurut Kurnia, dia bisa melakukan telekonferensi dan pengajian via ponsel.
Berdasarkan penelitian Insep pada 2012, ada dua sumber pelaku pengeboman di Indonesia. Tahun 2000-2010, pelakunya Jamaah Islamiyah yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Kelompok ini hanya menjadikan kedutaan besar negara Barat dan tempat-tempat berkumpulnya orang Barat sebagai target pengeboman. Mereka tidak menyerang aparat pemerintah.
Tahun 2014, ketika kekhilafahan Al Baghdadi di Irak dan Suriah (ISIS) diproklamasikan, Aman Abdurrahman mendirikan Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi ke sana. Tahun 2010, NII Banten dan eks Jamaah Islamiyah mendirikan basis militer di Aceh.
“Kami beli senjata di gudang Mabes Polri,” kata Kurnia.
Bagaimana bisa? Ternyata, ada desertir polisi yang menjadi anggota mereka. “Dia melatih ikhwan (sebutan anggota laki-laki) menembak di Markas Komando (Mako) Brimob. Namanya Sofyan Tsauri,” kata Kurnia.
ADVERTISEMENT
Namun, gerakan mereka di Aceh diketahui aparat. Kok bisa? Awalnya, masyarakat curiga bahwa yang berlatih itu adalah anggota Gerakan Aceh Merdeka. Kemudian, kelompok itu menyergap dan melucuti belasan orang anggota kepolisian sektor.
Kelompok itu nekat melakukan perlawanan terhadap polisi. Bahkan, ada yang berusaha meledakkan Mako Brimob tapi berhasil dicegah aparat.
“Kami diadili bukan nangis malah teriak takbir. Saya divonis enam tahun habis itu saya lempar kursi ke hakim,” kata Kurnia. [wir/suf]
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·