kumparan
10 Jul 2019 11:01 WIB

Tak Takut Dipecat, PAC PDIP Surabaya: Itu Hanya Retorika

Surabaya (beritajatim.com) – Kalangan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya yang mendukung Whisnu Sakti Buana menjadi Ketua, ternyata tidak gentar dengan ancaman pemecatan.
ADVERTISEMENT
Itu dinyatakan saat menggelar aksi damai di Kantor DPC PDIP Kota Surabaya, Jalan Kapuas Surabaya, Selasa (9/7/2019) malam. “Itu hanya retorika saja. Bagi kami, yang terpenting melangkah dalam koridor yang tidak melawan hukum,” kata Tri Widayanto, Ketua PAC PDIP Kecamatan Simokerto, yang menjadi jubir aksi damai itu. PAC adalah struktur PDIP di level kecamatan.
Dalam Peraturan PDIP nomor 28 tahun 2019, pasal 3 ayat (3) disebutkan ancaman tegas. Bahwa penolakan/pengabaian dan/atau tindakan-tindakan lain yang berakibat tidak dijalankannya hasil evaluasi DPP Partai merupakan pelanggaran berat terhadap kode etik dan disiplin partai, sehingga akan dikenakan sanksi pemberhentian sebagai anggota partai.
“Kami memperjuangkan sebuah rel demokrasi, rel partai dan aturan partai yang harus dilalui,” tutur Tri Widayanto, Caleg DPRD Kota Surabaya yang gagal terpilih dalam Pileg 2019 ini.
ADVERTISEMENT
Aksi damai itu sebagai buntut rekomendasi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, yang menunjuk Adi Sutarwijono sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, menggantikan Whisnu Sakti Buana, ketua lama.
Massa PAC PDIP di Kota Surabaya kecewa karena Megawati Soekarnoputri tidak menunjuk Whisnu Sakti Buana sebagai Ketua DPC PDIP Kota Surabaya untuk periode ke-3. “Kami tidak pernah menentang Ketua Umum, yang mana keputusan tertinggi itu ada di partai. Tapi kita melawan mekanisme tahapan-tahapan yang tidak dilalui DPP PDI Perjuangan,” pungkas Tri Widayanto. [tok/suf]
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan