Pencarian populer

Chelsea vs AS Roma: Badai Cedera yang Ganggu Keseimbangan Chelsea

Saatnya Conte mengevaluasi Chelsea. (Foto: Reuters/Andrew Yates)

Dua gol bersarang ke gawang Thibaut Courtois saat Chelsea saat bertamu ke markas Crystal Palace, Sabtu (14/10/2017). Memalukan? Jelas, sebab Palace adalah juru kunci Premier League dan belum pernah menyarangkan satu gol pun sebelumnya.

Tapi, tentu Antonio Conte tak akan meratapi kekalahan itu terlalu lama. Pasalnya, Chelsea akan melakoni laga penting lawan AS Roma pada matchday ketiga Liga Champions Grup C, Kamis (19/10) pukul 01.45 WIB di Stamford Bridge.

Badai Cedera

Di tengah keinginan untuk meraup poin penuh, Chelsea dirundung masalah. Salah satu faktor yang menyebabkan mereka dijungkalkan Palace adalah cederanya sejumlah pemain penting.

Salah satunya adalah ketiadaan N'Golo Kante. Tanpa sang gelandng, Chelsea menelan kekalahan ketiganya di liga musim ini. Oke, mungkin Tiemoue Bakayako yang diplot untuk menjaga area tengah Chelsea sukses mencetak gol di laga tersebut, tapi mantan gelandang AS Monaco itu nyatanya tak mampu menggantikan peran Kante.

Cesc Fabregas yang diduetkan bersama Bakayoko sebenarnya juga tampil impresif setelah mencatatkan satu assist dan empat umpan kunci. Menariknya, Fabregas juga rajin dalam melakukan aksi bertahan. Buktinya, pemain yang pernah menimba ilmu di Barcelona itu berhasil mengukir 10 tekel sukses --berdasarkan catatan Whoscored-- terbanyak dibanding para pemain lainnya.

Kante menutup sinar Matic. (Foto: Getty Images)

Yang jadi kekhawatiran Conte lainnya adalah absennya Victor Moses yang mengalami cedera hamstring. Pelatih kelahiran Lecce itu akan kembali menurunkan Davide Zappacosta sebagai full-back kanan.

Masalahnya, bek berusia 25 tahun itu masih belum cukup memuaskan. Lihat saja gol kedua Palace via Wilfried Zaha yang diawali dari keterlambatan Zappacosta dalam menutup pergerakannya.

Terlepas dari pergerakan Cesar Azpilicueta yang justru membuka ruang bagi Zaha, setidaknya gol tersebut tak akan terjadi jika Zappacosta lebih cepat mengantisipasi manuver Zaha.

Sementara itu, Roma juga bukan tanpa masalah di sektor tengah, sebab Kevin Strootman masih diragukan tampil pada laga nanti. Jika bekas gelandang PSV Eindhoven itu absen, Eusebio Di Francesco kemungkinan bakal menggunakan Daniele De Rossi dan Lorenzo Pellegrini sebagai poros ganda, seperti saat laga terakhir kontra Napoli.

Di satu sisi lini tengah Roma menjadi kreatif. Tapi, konsekuensinya, pertahanan mereka tak lebih kuat sebab Pellegrini cenderung lebih ofensif ketimbang Strootman.

Sektor Depan Tumpul

Kami tak akan meng-kambing-hitam-kan Fabregas dan Bakayoko semata lantaran keduanya turut aktif membantu serangan. So, bisa dibilang lini depan Chelsea-lah yang memang bermasalah.

Adalah cedera Alvaro Morata yang jadi biang rentetan hasil negatif Chelsea dalam dua laga terakhir. Bagaimana tidak, setelah dirinya ditarik keluar di awal laga kontra Manchester City, sejak saat itu pula intensitas gol The Blues menurun.

Setelah keok 0-1 dari The Citizens, Chelsea juga cuma mampu mencetak satu gol ke gawang Palace. Itupun berasal dari Bakayoko, bukan trio lini depan mereka. Padahal hingga pekan keenam, Chelsea rata-rata mencetak dua gol di tiap pertandingan.

Sayangnya, Conte tak memiliki stok lagi selain Michy Batshuayi untuk menggantikan posisi Morata. Apesnya lagi, Batshuayi tak setajam yang diharapkan. Alih-alih mencetak gol, penyerang asal Belgia itu nihil dalam melepaskan tembakan ke gawang Palace yang dijaga Julian Speroni.

Sementara Roma lebih beruntung, sebab Edin Dzeko yang jadi mesin gol mereka masih sehat walafiat. Sayangnya, topskorer Serie A musim lalu itu sedang melempem usai gagal mencetak gol dalam tiga laga di semua ajang.

Sementara Roma bisa memanfaatkan Chelsea yang sedang pincang. Bila sisi kiri pertahanan Chelsea relatif lebih kokoh, akan lebih bijak bagi Di Francesco untuk mengeksplotasi sisi sebaliknya yang dijaga Zappacosta.

Para pendukung Roma bisa berharap tuhan memberikan kesembuhan lebih cepat, supaya Stephan El Shaarawy agar bisa tampil dini hari nanti. Alasannya, pemain berambut mohawk itu terbukti lebih intens mengancam gawang lawan ketimbang Diego Perotti.

Sebagai gambaran, Perotti sudah mencatatkan rata-rata 1,2 tembakan per laga di ajang Serie A, setengah dari raihan El Shaarawy.

Di sisi lain, kelemahan Roma adalah mereka terlalu mengandalkan Dzeko sebagai pendulang gol. Buktinya, torehan gol ekspemain Manchester City itu masih lebih banyak ketimbang kalkulasi gol Radja Nainggolan, Aleksandar Kolarov, Stephan El Shaarawy, dan Alessandro Florenzi.

Jadi, jika Dzeko tak mampu mencetak gol, hasilnya mungkin sudah bisa ditebak.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: