• 3

Luka Modric yang Tak Pernah Berhenti Berlari

Luka Modric yang Tak Pernah Berhenti Berlari


Luka Modric

Modric berhasil bawa Kroasia melaju ke final Piala Dunia. (Foto: Reuters/Antonio Bronic)
Bagi Kroasia, Modric adalah magi. Ia muncul dalam skuat Vatreni yang penuh ironi. Tak ada Slaven Bilic yang andal di jantung pertahanan atau Davor Suker sebagai mesin gol mereka di Piala Dunia 1998, pencapaian yang selalu terkenang.
Sekarang, Kroasia tak perlu mengenang apa pun. Merekalah yang nantinya bakal jadi sejarah dan diingat oleh seantero negeri. Menjadi makin paripurna andai Kroasia berhasil mengalahkan Prancis di partai final pada Minggu (15/12/2018), sekaligus meraih trofi Piala Dunia perdana mereka sepanjang sejarah.
Kroasia bukanlah rumah yang ramah bagi Modric. Dengan konflik yang larut di sana, ia terpaksa kehilangan kakeknya yang dieksekusi oleh Log Revolution, para pemberontak di wilayah Kroasia yang dihuni oleh mayoritas etnis Serbia. Buntutnya, Modric kemudian hidup berpindah-pindah lantaran rumahnya dimusnahkan.
Di sanalah ia mulai menemukan sepak bola. Saat granat-granat mulai dilemparkan, dunianya pun kian jauh dari kedamaian. Sepak bola hadir sebagai hiburan sebagai bentuk penawarnya. Sebelum memulainya di lapangan, Modric kecil intens bermain di parkiran. Hingga akhirnya ia menjadi bagian dari tim muda Dinamo Zagreb saat usianya menginjak 16 tahun. Kariernya bersama tim yang meraja di Liga Kroasia itu tak serta merta mulus.
Modric sempat dipinjamkan ke klub Bosnia Herzegovina, Zrinjski Monstar, dan Inter Zapresic yang berkompetisi di Divisi Satu Liga Kroasia. Baru pada musim 2005/2006 ia teken kontrak profesional dengan Zagreb.
Kariernya cemerlang, tiga gelar Liga Kroasia berhasil diraih secara beruntun. Penampilan ciamik Modric membuat Tottenham Hotspur kepincut. Bersama The Lilywhites-lah, sinarnya mulai terpancar yang kemudian mengantarnya ke Real Madrid.
Kepindahannya ke Inggris tak lantas menghindarkannya dari masalah. Modric pernah menjadi musuh --bahkan masih-- bagi publik sepak bola Kroasia lantaran 'membiarkan' Zdravko Mamic dikatuhi hukuman enam tahun penjara karena dianggap mengempleng pajak.
Mamic, bukanlah orang sembarangan di Kroasia. Ia merupakan anggota eksekutif Dinamo, dan wakil Presiden Federasi Seak Bola Kroasia (HNS). Masalahnya, Modric dianggap tidak membantu Mamic saat menjadi saksi di persidangan. Ia mengatakan tidak mengingat tentang kejadian tersebut.
Buah dari insiden itu masih berbuntut hingga sekarang. Seorang suporter Kroasia kedapatan tengah memakai jersi tim dengan tulisan 'Ne sjecam se' yang bila diterjemahkan berarti 'Saya tidak ingat''.


Apa yang dilakukan segelintir suporter itu tak menghentikan Modric untuk terus berlari. Ia menjadi pemain yang paling sering berada di lapangan pada gelaran Piala Dunia kali ini dengan durasi 604 menit. Masih bisa bertambah lagi mengingat Kroasia berhasil melaju ke partai puncak.
Setelah menunggu 20 tahun lamanya, pasukan Zlatko Dalic itu akhirnya berhasil melampaui catatan terbaik Kroasia. Pada edisi 1998 --enam tahun setelah meraih kemerdekaan-- Zvonimir Boban dan kawan-kawan berhasil merangsek ke posisi ketiga.
Bukan Dejan Lovren, bukan pula Ivan Perisic, dan Mario Mandzukic yang paling berjasa atas kerberhasilan Kroasia. Modric-lah jadi paling bertanggung jawab atas eksistensi mereka.
Buktinya, tiga gelar Man of The Match berhasil disabetnya. Pada laga pembuka kontra Nigeria, Modric berhasil menyarangkan satu gol dari titik putih. Disusul tendangan spektakuler yang mengoyak gawang Argentina. Tuahnya berlanjut saat Kroasia menyingkirkan Rusia di perempat final, lewat sumbangsih satu assist dan keberhasilannya mengeksekusi tendangan penalti dalam babak tos-tosan.


Kemenangan atas Inggris di babak semifinal jadi bukti teraktual. Oke, hasil cemerlang itu mungkin tak akan tersaji tanpa kontribusi Perisic yang sukses mengukir masing-masing satu assist dan gol, serta Mandzukic yang mencetak gol kemenangan Kroasia di babak tambahan. Akan tetapi, tentu saja, gol bukan tolok ukur satu-satunya untuk menilai penampilan tokcer pemain.
Modric banyak terlibat langsung akan serangan Kroasia. Hanya dua umpan kunci yang berhasil dibukukannya, masih kalah dari Marcelo Brozovic dan Perisic yang mengemas satu key pass lebih banyak. Di sisi lain, Modric mengambil peranan penting dalam skema pressing yang dicanangkan Dalic.
Tiga penyerang mereka, Mandzukic, Perisic, dan Ante Rebic berburu dengan waktu saat melakukan pressing kepada bek Inggris, Modric berbeda. Ia justru yang menciptakan waktu dan ruang.
Baru di babak kedua pressing mulai ditingkatkan Dalic. Modric bersama Ivan Rakitic, didorong untuk menekan garis pertahanan Inggris serendah mungkin. Keputusannya jitu. John Stones dan kawan-kawan terjepit, dan karenanya tak mampu membangun serangan.
Kroasia di laga kali ini bertumpu pada sisi sayap untuk melepaskan umpan silang. Perisic, Rebic, Sime Vrsaljko, dan Ivan Strinic tercatat melepaskan 29 dari total 41 umpan silang mereka.
Setelah kesalahan demi kesalahan tercipta, kegagalan Kierean Trippier dan Stones jadi klimaksnya. Trippier kehilangan momentum untuk melakukan duel udara dengan Perisic, sedangkan Stones berada out of position. Rangkaian situasi yang kemudian memunculkan gol Mandzukic.

Kroasia

Selebrasi Mario Mandzukic dkk. usai mencetak gol kedua ke gawang Inggris. (Foto: Carl Recine/Reuters)

"Sekali lagi kami menunjukkan jika kami tidak letih. Kami mendominasi permainan dari seluruh aspek, fisik dan juga mental," ungkap Modric seperti dilansir BBC.
Komentar Modric itu juga ditujukan kepada media-media Inggris yang terlalu mengerdilkan kans Kroasia.
"Ini menjadi pencapaian yang mengesankan buat Kroasia. Mimpi panjang yang akhirnya menjadi kenyataan. Sekarang, kami ada di final. Ini menjadi kesuksesan terbesar sepak bola Kroasia. Kami harus bangga dengan pencapaian seperti ini,"
Modric mengajarkan sebuah aksioma. Masa kecil yang suram, dibenci oleh segelintir publik Kroasia, dan dikerdilkan oleh lawan. Tak ambil peduli, Modric tetap akan berlari.


Sepak BolaSportsTimnas KroasiaLuka ModricPiala Dunia 2018

presentation
500

Baca Lainnya