• 1

Menanti Tuah Transfer Jitu Arsenal

Menanti Tuah Transfer Jitu Arsenal


Arsenal

Selebrasi para pemain Arsenal di laga vs Chelsea. (Foto: Reuters/Paul Childs)
Eksistensi Arsenal di Premier League 2018/2019 layak untuk dinanti. Selain jadi musim pertama mereka tanpa Arsene Wenger, keseriusan manuver The Gunners di bursa transfer juga turut memupuk atensi dibanding periode-periode sebelumnya.
Sudah 79 juta euro mahar yang dibayar Arsenal untuk menggaet pemain baru di bursa transfer musim panas ini, 20 juta euro lebih banyak dibanding musim lalu. Lucas Torreira, Matteo Guendouzi, Stephan Lichtsteiner, Sokratis Papastathopoulos, dan Bernd Leno merupakan muka-muka baru yang berseragam Arsenal musim ini.
Untuk saat ini, efektif tidaknya pemain anyar belum bisa dibuktikan. Akan lebih baik untuk menimbang kehadiran mereka dalam mengisi organ-organ penting Arsenal di musim lalu.
Yang paling kentara adalah kesadaran Arsenal karena akhirnya berbelanja gelandang bertahan. Tak tanggung-tanggung, mereka mendatangkan dua pemain sekaligus, Lucas Torreira dan Matteo Guendouzi.
Dikatakan 'akhirnya' karena The Gunners benar-benar tak memiliki gelandang bertahan mumpuni musim lalu. Saking kepepetnya, Arsene Wenger memaksa Granit Xhaka dan Aaron Ramsey yang notabene merupakan gelandang box-to-box untuk bermain lebih dalam yang kemudian mengerdilkan agresivitas mereka. Arsene Wenger bukan tanpa alasan melakukan itu; Mohamed Elneny yang jadi satu-satunya holding midfielder murni masih kurang mumpuni.
Kini keluh kesah The Professor tak akan dialami oleh Unai Emery, pelatih anyar Arsenal. Toreira dalah gelandang 'kotor' yang dirindukan Arsenal, pewaris ideal Patrick Vieira dan Gilberto Silva.
Penggawa Tim nasonal Uruguay itu menjadi pemain yang paling aktif melancarkan tekel di Serie A dalam dua musim ke belakang (198). Setidaknya, dengan kehadiran Toreira serangan lawan bakal terkikis sebelum mencapai jantung pertahanan Arsenal.


Defensivitas memang jadi kelemahan utama 'Meriam London' di edisi termutakhir. Sudah 51 kali gawang mereka dijebol lawan di gelaran Premier League 2017/2018, terburuk di antara anggota Big Six lainnya. Bahkan catatan kebobolan Arsenal tak lebih baik dari Burnley dan Newcastle United.
Yang paling bertanggung jawab, tentu saja barisan pertahanan mereka yang angin-anginan. Shkodran Mustafi misalnya, meski memimpin rata-rata tekel dan sapuan dibanding rekan-rekan setimnya, ia juga mengukir dua kesalahan yang berujung gol. Sialnya stok bek serep macam Rob Holding dan Konstantinos Mavropanos belum layak untuk dijadikan sandaran
Setali tiga uang di pos full-back kanan. Insting ofensif Hector Bellerin tak jarang memunculkan efek samping, yakni keroposnya tepi kanan. Jebolan La Masia itu kerap terlambat untuk melakukan transisi dari menyerang ke bertahan.
Dari segi konsistensi, Laurent Koscielny sebenarnya berada di barisan terdepan. Namun, cedera yang akrab membuatnya ditepikan. Di musim lalu ia tercatat mengalam cedera tendon achilles dan absen dalam 17 pertandingan. Hanya Nacho Monreal yang paling mentereng di barisan belakang Arsenal, walau mantan pemain Malaga itu tak begitu baik dalam mengantisipasi bola-bola udara.

Laurent Koscielny

Koscielny cedera tendon achilles. (Foto: Reuters/Juan Medina)

Nah, Lichtsteiner dan Sokratis adalah solusi tepat guna. Meski usia mereka telah menyentuh kepala tiga, keduanya menawarkan pengalaman yang dibutuhkan Arsenal saat ini.
Lichtsteiner yang adaptif, seimbang untuk bermain sebagai full-back maupun wing-back bersama Juventus, merupakan kebalikan dari Bellerin. Sedangkan, Sokratis akan menjawab langkanya konsistensi Musatafi dan kawan-kawan. Kedewasaannya terbukti dengan jam terbangnya yang melebihi 2.000 menit bersama Borussia Dortmund dalam tiga musim ke belakang.
Satu hal lagi, merekrut Leno adalah langkah tepat untuk Arsenal. Menurut WhoScored, Leno rata-rata melakukan 2,1 penyelamatan per laga bersama Bayer Levrkusen di musim 2017/2018. Torehannya tak jauh berbeda dengan Petr Cech yang rata-rata menyentuh angka 2,5.
Di satu sisi, sudah saatnya bagi Arsenal untuk menurunkan jabatan Cech sebagai kiper utama mereka. Adalah inkonsistensi yang jadi alasannya. Pada musim lalu misalnya, kiper yang identik dengan helmnya itu mencatatkan 6 kesalahan berujung gol, torehan terbanyak di antara seluruh pemain Premier League.

Bernd Leno dan Petr Cech

Bernd Leno dan Petr Cech. Siapa yang akan jadi kiper utama Arsenal? (Foto: Twitter: Bernd Leno)

Arsenal melakukan pembenahan yang efektif dengan merekrut pemain-pemain di sektor vital. Tak ada penyerang kondang anyar yang didatangkan, karena memang kelemahan The Gunners pada musim lalu tertuang di area pertahanan.
Produktivitas Arsenal tak bisa dibilang mengecewakan. Torehan 74 gol mereka di Premier League musim lalu hanya kalah dari Manchester City dan Liverpool. Lagipula untuk apa mereka menghamburkan uang saat masih punya Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette.
Namun, ada tapinya, muncul kemungkinan Arsenal akan mengalami culture shock pasca-kepergian Wenger yang dua dekade lebih jadi nakhoda mereka. Ya, mirip-mirip dengan sindrom yang dialami United setelah Sir Alex Ferguson pensiun.


Sepak BolaSportsArsenalUnai EmeryLiga Inggris

presentation
500

Baca Lainnya