Jiwa Mamah, Jiwa yang Ngeyel dan Tetap Ramah

Aktif di kegiatan bermusik dan menulis.
Konten dari Pengguna
29 Desember 2021 11:46
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Bintang Yahasri Gita Buana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jiwa Mamah, Jiwa yang Ngeyel dan Tetap Ramah (59791)
zoom-in-whitePerbesar
Mamah saat wisuda. Sumber: Pribadi.
ADVERTISEMENT
Aku tidak tahu dengan kata apa aku harus mengawali tulisan ini, atau dengan cara yang bagaimana untuk sekadar membuka sebuah cerita. Pikiranku kosong, sama seperti isi dompet cokelat yang sedang berada di atas meja yang acak adut, di sebelah kiriku. Sudah beberapa hari ini aku uring-uringan ke sana ke mari mencari inspirasi untuk menulis sebuah cerita tentang ibuku tercinta atau biasa kupanggil Mamah. Melamun di kamar, jalan-jalan sendirian di tengah malam, mencari ilham di kamar mandi. Semuanya sudah kulakukan. Agak bodoh memang, apa gunanya mencari jauh ke luar padahal yang dicari berada dekat, bahkan sudah satu di dalam diriku? Oleh karena kesadaran itulah akan kuceritakan padamu soal Mamah berdasarkan segala yang terkenang dalam diriku.
ADVERTISEMENT
Mamah, sudah setahun lamanya dia meninggal dunia berbarengan dengan munculnya pandemi Covid-19. Dia meninggal karena sakit, tapi bukan terjangkit virus tersebut. Jangan salah sangka. Dia menderita komplikasi yang tidak bisa atau lebih tepatnya tidak mau aku jelaskan padamu lebih jauh. Dia tiba-tiba sekali meninggalkanku dan Papah berdua di dunia yang sedang kejam-kejamnya. Pandemi yang tidak kunjung usai, ekonomi keluarga yang merosot, serta hidup kami berdua yang sudah tidak tahu mau ke mana arah dan tujuannya. Padahal, sebelum dia tiada, hidup kami ‘selalu’ baik-baik saja kurasa.
Semenjak aku masih berada dalam kandungannya, Mamah sudah berjuang demi keberlangsungan hidup kami. Sembari menuntaskan pendidikannya di perguruan tinggi, dia mengajar di sebuah sekolah yang tidak jauh dari kontrakan kami. Pada saat itu, usianya sudah hampir 40 tahun. Bisa dibayangkan betapa besar semangatnya untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin walau usianya bisa dibilang tidak semuda kawan-kawannya yang lain. Cibiran atau sindiran terkait umurnya memang selalu ada, tapi untungnya dia sangat bodo amat selama apa yang dia lakukan tidak mengganggu hidup orang lain. Walau dia bodo amat-an, di sisi lain dia sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya sehingga dianggap sebagai orang yang ramah dan sangat senang bersosialisasi. Sedikit fakta, bila bertemu siapapun, dia pasti selalu tersenyum, bahkan kepada orang asing sekalipun. Tidak peduli dengan kondisi hatinya senang maupun sedih.
ADVERTISEMENT
Pernah ada satu kejadian yang menarik. Suatu hari, tanggal 16 Februari 2002, dia sedang mengikuti ujian tengah semester di kampusnya. Papah mengantarnya naik angkot dan menemaninya ke kampus selama ujian itu berlangsung. Sebenarnya, bisa saja dia berangkat sendiri, hanya saja saat itu usia kandungannya sudah 9 bulan yang berarti kapanpun aku bisa lahir! Bayangkan, seorang ibu hamil besar ikut ujian tengah semester padahal anaknya sudah akan brojol. Sudah di ujung loh begitu. Bukannya bersiap-siap untuk persalinan, dia justru tetap ingin ikut ujian. Bidan yang selama ini mengawasi kehamilannya juga sudah menasihati dan memarahinya atas keputusannya itu. Akan tetapi, dia bodo amat. Sebenarnya, dia bisa memilih untuk tidak ikut ujian. Entah mengapa, dia malah ngeyel.
ADVERTISEMENT
Saat ujian sudah berlangsung selama 30 menit, Mamah merasa kesakitan dan air ketubannya pecah. Seisi ruang ujian pun panik sampai ke luar. Termasuk Papah juga ikut panik. Dosen pengawas ujian pun segera memanggil ambulans agar Mamah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk persalinan. Lalu, kau tahu apa yang terjadi? Mamah menolak dibawa ke rumah sakit dan keukeuh minta untuk dibawa ke bidan. Sebetulnya tidak apa-apa, kan? Permasalahannya adalah jarak dari kampus ke rumah sakit itu 1 km. Sedangkan, jarak dari kampus ke bidan adalah 5 km! Wuedan. Memang ngeyel betul. Aku bisa saja loh tiba-tiba brojol. Tuing begitu.
Akhirnya, karena tidak ingin terlalu lama berdebat, dia dibawa ke bidan, diantarkan oleh ambulans beserta Papah mendampinginya. Sedangkan, dosen pengawas dan mahasiswa lain tetap melaksanakan ujian di kampus. Singkat cerita, alhamdulillah aku pun lahir sesampainya di sana dengan sehat dan Mamah pun bisa bertahan.
ADVERTISEMENT
Selama 19 tahun aku hidup, aku selalu merasa dia adalah bagian yang terpisahkan dari segala keberhasilan hidupku. Dia adalah penolong dan pendukung terbaik. Saat aku kesulitan mengerjakan tugas kliping saat masih SD, dia yang membuatkannya. Saat aku lupa membawa bekal saat SMP, dia mengantarkannya. Bahkan saat SMA, saat aku hanya akan pergi beberapa hari ke Bandung untuk mengikuti lomba cerdas cermat, dia masih menyempatkan diri untuk mengantarkanku dari tempat keberangkatan. Padahal hari itu, dia memiliki jam mengajar yang harus dipenuhi. Begitulah caranya menyayangiku dengan dukungannya dan aku menyesal karena cinta dan pengorbananku kepadanya tidak bisa sebesar itu. Bahkan, pada beberapa momen dalam hidupku, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku mencintainya?”
ADVERTISEMENT
Kini, dirinya sudah pergi. Maksudku, raganya. Jiwanya tetap berada di sini. Di dalam hatiku, di dalam hati Papah, dan di rumah ini. Setelah menulis cerita ini, aku merasa kerinduanku sedikit tuntas. Dan, aku merasa kalau memang segala sesuatunya akan terasa lebih berharga bila sudah tiada. Apapun itu. Mamah, keluarga, saudara, sahabat, apapun yang berharga untukku. Sehingga, sudah sepatutnya aku menjaga dan memelihara segalanya yang berharga untukku. Aku tidak akan pernah tahu, kapan semuanya pergi, termasuk diriku sendiri. Bagaimana seandainya ternyata aku yang terlebih dahulu tiada. Akankah dirinya merindukanku sedalam ini? Aku yakin ya, dan bisa jauh lebih dari ini.
Aku malu untuk bilang langsung bahwa Mamah adalah pahlawanku karena setelah dirinya tiada, aku merasa bukan apa-apa dan siapa-siapa. Walau tidak mudah, aku akan terus berusaha untuk bangkit dan menjalani sisa hidup dengan sebaik-baiknya bersama jiwa Mamah. Jiwa yang ngeyel dan tetap ramah.
ADVERTISEMENT
Selamat Hari Ibu, Mah. Semoga Mamah senantiasa baik-baik dan diperlakukan dengan ramah seperti di dunia, ya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020