Kumparan Logo
Ilustrasi aktivitas di pasar - Pertumbuhan ekonomi Indonesia
Warga membeli kerupuk kulit di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026).

Merumuskan Taktik Pertumbuhan Ekonomi Daerah

M Rifki Maulana

M Rifki Maulana

Master of Public Policy in International Economic Development Policy - University of Michgan // Manajer Bank Indonesia

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga membeli kerupuk kulit di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga membeli kerupuk kulit di Pasar Induk MAJT-MAS, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Setiap kali angka pertumbuhan ekonomi nasional dan 38 provinsi dirilis setiap triwulan, saya selalu merasa seperti melihat statistik tim sepakbola. Mulai dari kiper, gelandang, hingga penyerang dinilai berdasarkan performanya di sebuah pertandingan. Ada pemain yang nilainya lebih tinggi dari pertandingan sebelumnya, namun juga ada yang performanya menurun. Tetapi, hal yang paling penting dari itu semua adalah apakah tim tersebut bisa memenangkan pertandingan atau tidak?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 mencapai 5,61% (yoy) dan menjadi angka pertumbuhan triwulan I tertinggi dalam satu dekade terakhir. Konsumsi Rumah Tangga serta Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi menjadi motor pertumbuhan, di tengah kinerja Investasi yang masih solid. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), LU Perdagangan dan LU Penyediaan Akomodasi mampu tumbuh tinggi.

Di tengah gemilangnya capaian pertumbuhan ekonomi nasional, diskursus tentang ekonomi daerah seringkali luput dari pembahasan. Padahal, perlu kita pahami bahwa pertumbuhan ekonomi daerah yang solid menjadi syarat utama kekuatan pertumbuhan ekonomi nasional. Kabar baiknya, pada triwulan ini pertumbuhan positif tidak hanya terpusat di satu kawasan karena seluruh enam wilayah Indonesia, dari Sumatera hingga Maluku Papua (Mapua), turut mencatat pertumbuhan ekonomi positif. Berdasarkan laju pertumbuhannya, Kawasan Bali Nusa Tenggara (Balinusra) mencatat pertumbuhan tertinggi dengan 7,93% (yoy), diikuti oleh Sulawesi dengan capaian sebesar 6,95% (yoy). Namun, jika dilihat berdasarkan kontribusinya, Jawa masih mendominasi perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 57,24% terhadap ekonomi nasional. Sekilas, Jawa masih menjadi kunci utama ekonomi nasional karena memiliki kontribusi sangat besar terhadap total ekonomi nasional. Tetapi, ada hal yang perlu kita renungkan: Apakah porsi besar ekonomi Jawa tersebut sesuatu hal yang baik? Apakah dia hanya berjalan sendiri dalam vakum?

Peran Jawa Mengalirkan Ekonomi Kawasan

Untuk menjawabnya, kita dapat berangkat dari kerangka teori ekonomi regional yang diperkenalkan Albert O. Hirschman dalam The Strategy of Economic Development. Hirschman mengidentifikasi dua mekanisme keterkaitan antardaerah: backward linkage, ketika pertumbuhan suatu wilayah menciptakan permintaan terhadap input dari wilayah lain di hulunya, dan forward linkage, ketika output suatu wilayah menjadi bahan baku bagi kegiatan produksi di wilayah lain di hilirnya.

Dalam konteks Indonesia, Jawa adalah simpul yang menghasilkan kedua mekanisme itu secara bersamaan. Sonis, Hewings, Guo, dan Hulu (1997) dalam Regional Science and Urban Economics membuktikan bahwa struktur ekonomi antarpulau secara konsisten memperkuat peran hegemonis Jawa dalam perekonomian nasional, terutama melalui dominasinya di sektor manufaktur dan jasa. Sementara itu, Resosudarmo, Hartono, dan Nurdianto (2008) dalam Economics and Finance in Indonesia membuktikan secara empiris bahwa seluruh wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur lebih terhubung ke Jawa-Bali daripada satu sama lain[]. Dengan kata lain, Jawa menyerap komoditas dari luar Jawa sebagai input industri (backward linkage), sekaligus mengalirkan produk manufaktur ke seluruh kepulauan (forward linkage).

Pola seperti ini juga ditemukan di negara-negara lain. China membangun pertumbuhannya di atas skema serupa: kawasan Delta Yangtze: mencakup Shanghai, Jiangsu, Zhejiang, dan Anhui yang menyumbang 24,7% PDB nasional pada 2024, sekaligus menjadi pusat manufaktur dan teknologi yang menarik jutaan tenaga kerja dari provinsi pedalaman. India pun demikian: Maharashtra dan Karnataka tumbuh pesat sebagai tulang punggung jasa dan teknologi, sementara Bihar dan Uttar Pradesh memasok puluhan juta tenaga kerja ke seluruh penjuru negeri.

Dalam sepakbola, daerah sentral tersebut mirip gelandang yang berperan penting mengalirkan permainan. Gelandang kerap kali menjadi pemain yang memegang bola paling banyak, mengalirkan bola dari depan ke belakang ketika menyerang, dan mengatur transisi pertahanan ketika diserang. Sehingga, tidak mengherankan tim-tim dengan segudang piala memiliki gelandang handal.

Membangun Taktik Efektif Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Ilustrasi ekonomi. Foto: Pixabay

Sekilas, besarnya porsi perekonomian di Jawa adalah hal yang tidak baik. Namun, rasanya kita perlu mencermati ulang pernyataan tersebut. Sebuah daerah tumbuh berdasarkan sumber daya dan kapasitas yang dipunya. Misal, terlalu naif rasanya jika memaksa Kalimantan yang memiliki cadangan batu bara besar untuk menjadikan sektor tanaman pangan sebagai andalan atau memaksa Jawa yang memiliki lahan pertanian subur untuk meningkatkan porsi sektor pertambangannya.

Alih-alih terjebak dalam upaya menumbuhkan sektor, penting rasanya untuk mengoptimalikan sektor utama di tiap wilayah untuk bisa tumbuh lebih resilien dan berkelanjutan. Wilayah dengan basis SDA tinggi seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Mapua perlu untuk melakukan hilirisasi, sementara Jawa dan Sumatera yang industrinya telah lebih maju, perlu untuk memulai mencari alternatif impor bahan baku. Hal tersebut dilakukan tidak hanya untuk menciptakan nilai pertumbuhan yang lebih tinggi, tapi juga agar Indonesia lebih berdaya tahan dari shock external. Jika direnungi lebih lanjut, inilah yang membuat Indonesia berbeda karena dianugerahi hamparan sumber daya khas di tiap daerah sehingga sangatlah mungkin untuk menciptakan rantai nilai dan ketahanan domestik yang kuat.

Kedepan, hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana nantinya tiap daerah bisa mencapai sasaran pertumbuhan optimal sesuai dengan potensinya masing-masing. RPJMN 2025-2029 menyebutkan bahwa Kawasan Barat ditargetkan untuk tumbuh 7,7%, sementara Kawasan Timur perlu tumbuh 8,8% agar mencapai visi pertumbuhan ekonomi 8,0% di tahun 2029 dengan orientasi sektoral yang terdiferensiasi di tiap wilayah. Misalnya, wilayah Sulawesi Mapua yang akan berorientasi hilirisasi mineral di tengah wilayah Sumatera yang akan difokuskan untuk hilirisasi komoditas perkebunan serta pengembangan kawasan industri. Cetak biru tersebut bisa menjadi dasar pemerintah pusat maupun daerah, untuk mengambil kebijakan prioritas yang tepat sasaran.

Tim sepakbola juara jarang lahir dari sebelas pemain serba bisa. Ia lahir dari pelatih yang paham betul kapasitas skuadnya, lalu meramu strategi agar setiap pemain bekerja baik di posisi masing-masing. Ekonomi nasional pun bekerja dengan logika yang sama.