QRIS Cross Border: Diplomasi Baru Indonesia Berbasis Kepercayaan

Master of Public Policy in International Economic Development Policy - University of Michgan // Manajer Bank Indonesia
ยทwaktu baca 4 menit

Jauh sebelum ada sistem keuangan modern seperti sekarang, pedagang Tiongkok dan pedagang Indonesia telah sering bertemu di Pelabuhan Nusantara. Dari Malaka, Demak, hingga Halmahera, mereka membawa rempah, sutera, porselen, dan rempah. Pertemuan mereka bukan sekadar pertukaran barang, tapi pertukaran kepercayaan. Tanpa memiliki bahasa yang sama, mereka bersepakat untuk saling percaya dan bertukar.
Kepercayaan itulah yang sesungguhnya menjadi fondasi dari seluruh sistem keuangan yang pernah ada di dunia. Mulai dari koin emas Tiongkok hingga lembaran kertas rupiah, sejatinya uang itu hanyalah simbol. Ia berfungsi bukan karena kepingan emas dan kertas tersebut memiliki nilai, tapi karena semua masyarakat memilih sepakat untuk mempercayainya. Sehingga, jika kepercayaan itu meluas, maka perdagangan bisa terus melampaui batas-batas.
Kini, simbol itu tidak lagi berbentuk kartal, melainkan digital. Ia berbentuk kode QR yang mampu melewati batas-batas daerah hingga mancanegara. Dalam hal ini, Indonesia telah terbang jauh melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). QRIS diluncurkan Bank Indonesia pada 2019 dengan misi sederhana namun ambisius yakni menyatukan berbagai platform pembayaran digital yang kala itu hidup dalam gelembung ekosistemnya masing-masing. Satu kode yang bisa dibaca oleh semua dompet digital, semua bank, semua merchant baik dari warung soto di Wonosobo hingga pusat perbelanjaan di Bintaro.
Dari Menyambungkan Daerah ke Mancanegara
Tujuh tahun sejak diluncurkan, QRIS tidak lagi hanya soal menyambungkan antar-daerah di dalam negeri, ia kini menjadi alat diplomasi ekonomi. Bank Indonesia secara resmi meluncurkan QRIS cross-border dengan Tiongkok pada 30 April 2026 setelah Thailand (2022), Malaysia (2023), Singapura (2023), Jepang (2025), dan Korea Selatan (2026). Ekosistem ini direncanakan terus meluas dengan agenda ekspansi ke India dan Arab Saudi.
Perjalanan QRIS dari sekadar alat bayar domestik menuju instrumen diplomasi keuangan regional tidak terlepas dari fondasi adopsi yang kokoh di dalam negeri. Sejak diperkenalkan pada 2020 hingga triwulan I 2026, QRIS telah diadopsi oleh 44 juta merchant yang mayoritas berasal dari UMKM dan digunakan oleh 61,7 juta pengguna aktif. Selama periode tersebut, QRIS telah memfasilitasi lebih dari 31 miliar transaksi dengan nilai kumulatif mencapai Rp2.970 triliun.
Fondasi domestik yang kuat itulah yang kemudian memberi kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh, sehingga menjadikan QRIS bukan sekadar urusan dalam negeri, melainkan bagian dari arsitektur pembayaran kawasan yang lebih besar. Visi besar tersebut semakin tercermin dari kinerja QRIS cross border yang berada dalam tren positif. Arus transaksi inbound, yakni pembayaran wisatawan asing di Indonesia, tercatat lebih tinggi dibandingkan transaksi outbound masyarakat Indonesia di luar negeri, baik dari sisi volume maupun nilai. Pada triwulan I 2026, volume transaksi inbound mencapai 2,79 juta transaksi, tumbuh 222% (yoy) dengan nilai nominal Rp713,59 miliar, sementara transaksi outbound tercatat sebanyak 737.647 transaksi senilai Rp249,26 miliar.
Kode QR sebagai Instrumen Kedaulatan Geopolitik
Namun, ada dimensi yang lebih dalam dari sekadar kemudahan bertransaksi. Ketika Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Duta Besar Tiongkok Wang Lutong berdiri bersama meresmikan QRIS antar negara Indonesia-Tiongkok, itu adalah pesan yang tidak hanya ditujukan kepada pelaku pasar, tetapi juga kepada sejarah panjang dua peradaban yang sudah saling percaya jauh sebelum sistem keuangan modern ada.
Hal tersebut mengingatkan kita pada pertemuan pedagang Tiongkok dan Indonesia di Pelabuhan Nusantara beberapa dekade lalu. Mereka tidak butuh mata uang yang sama untuk berdagang, yang mereka butuhkan adalah kepercayaan bersama.
QRIS cross border memperluas dan memperdalam kepercayaan ke level yang lebih personal, langsung antara rupiah dan yuan, antara warung di Yogyakarta dan wisatawan dari Chengdu. Pedagang Indonesia menerima rupiah. Wisatawan Tiongkok membayar dalam yuan. Kepercayaan berjalan, tanpa harus singgah di tempat lain terlebih dahulu.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fragmentasi rantai perdagangan dunia, kemampuan untuk bertransaksi langsung dalam bahasa keuangan masing-masing bukan sekadar efisiensi, tapi adalah bentuk kekuatan diplomasi yang paling konkret. Lima ratus tahun lalu, pedagang di Pelabuhan Malaka membangun kepercayaan lewat saling tukar rempah dan porselen. Hari ini, kepercayaan itu dibangun ulang lewat satu pemindaian kode QR: cepat, tanpa batas, dan semakin berdaulat.

